Hari ini saya menikah.
Dua insan dipertemukan, bukan cuma beda karakter, tapi juga beda pola asuh, beda kebiasaan harian, dan—ini yang sering dibesar-besarkan—beda budaya: Sunda dan Jawa.
Sejak sebelum akad, mitos sudah antre rapi. Katanya Sunda jangan menikah dengan Jawa, Jawa jangan menikah dengan Sunda. Alasannya beragam, dari yang setengah mistis sampai yang setengah cocoklogi. Tapi setelah dipikir pelan-pelan, saya justru menemukan satu kesimpulan yang membumi: mau Sunda menikah dengan Sunda, Jawa menikah dengan Jawa, atau bahkan menikah dengan tetangga galaksi lain, urusan harmonis atau tidak tetap kembali ke dua hal paling dasar—cara berkomunikasi dan cara mengelola konflik.
Budaya hanya panggung. Aktornya tetap manusia.
Lucunya, yang justru paling terasa bukan “larangan adat”, tapi shock culture kecil-kecilan yang bikin senyum sendiri. Misalnya soal sawer. Bagi orang Sunda, sawer itu ekspresi kegembiraan: uang disebar, hadirin berebut, tawa pecah, chaos tapi bahagia. Bagi sebagian tamu Jawa, ini momen kaget level ringan: “Loh, ini serius uangnya dilempar? Bukan properti dekorasi?”
Sebaliknya, orang Sunda juga bisa bengong saat menghadiri nikahan Jawa. Sudah siap mental prasmanan—eh, malah duduk manis menunggu makanan diantar. Bukan ambil sendiri, bukan rebutan. Ada rasa kikuk kecil: “Ini boleh nambah nggak ya?”
Ternyata di sini konsepnya beda: tuan rumah yang menjamu, tamu yang dimuliakan. Tenang, rapi, dan penuh tata krama.
Dari situ saya sadar, budaya bukan soal mana yang benar atau salah. Budaya itu seperti bahasa. Kalau tidak dipahami, terdengar aneh. Kalau dipelajari, jadi indah. Dan kalau dipaksakan satu sama lain, ya ribut.
Menikah lintas budaya itu bukan soal meniadakan perbedaan, tapi soal menyadari bahwa perbedaan memang ada, lalu memutuskan untuk tidak panik karenanya. Tidak semua hal harus diseragamkan. Ada yang cukup dipahami. Ada yang cukup ditertawakan bersama.
Pada akhirnya, rumah tangga tidak runtuh karena adat. Ia runtuh karena ego yang tidak mau belajar. Ia hangat bukan karena kesamaan budaya, tapi karena dua orang mau duduk, mendengar, dan kadang mengalah tanpa harus kalah.
Hari ini saya menikah.
Bukan hanya menyatukan Sunda dan Jawa, tapi juga menyatukan dua manusia yang sadar: mitos boleh ramai, adat boleh beda, tapi hidup bersama tetap soal hal yang paling sederhana—saling waras saat konflik, dan tetap bisa tertawa saat kaget budaya.
Kalau soal sawer dan jatah makan?
Tenang. Itu bisa dinegosiasikan.
Yang tidak bisa dinegosiasikan cuma satu: kemauan untuk belajar satu sama lain, seumur hidup.
Dan kabar baiknya—itu tidak ada pantangannya.