Belum Berangkat ke Tanah Suci, Tapi Sudah Pulang dari Ego (Catatan Kecil tentang Haji, Mampu, dan Godaan Jadi Orang Saleh Instan)
Ada satu kalimat yang sering mampir ke kepala saya setiap kali topik haji muncul di obrolan publik:
“Mungkin kamu jauh dari Tuhan, makanya belum dapat undangan.”
Saya biasanya tersenyum.
Bukan karena tersinggung.
Tapi karena kalimat itu terlalu yakin—padahal hidup jarang sesederhana itu.
Saya menjawab pendek saja:
“Situasional, Pak. Keadaannya belum memungkinkan beberapa tahun ke depan.”
Dan selesai. Tidak perlu debat. Tidak perlu dalil panjang. Karena yang sedang saya jaga bukan opini orang, tapi ketenangan batin dan tanggung jawab yang sedang berlangsung di rumah.
Haji, Ritual Agung yang Terlalu Sering Direduksi
Dalam Islam, haji itu jelas: rukun Islam kelima. Tidak bisa ditawar.
Tapi sejak dulu juga jelas: hanya bagi yang mampu (istitha’ah).
Masalahnya, di zaman sekarang, “mampu” sering direduksi jadi: saldo cukup, paspor siap, dan cuti aman.
Padahal, dalam khazanah fikih klasik, mampu itu tidak sesempit angka di rekening.
Imam an-Nawawi (w. 1277) menjelaskan bahwa istitha’ah mencakup: kemampuan fisik, keamanan perjalanan, kecukupan nafkah keluarga yang ditinggalkan, dan ketiadaan mudarat baru akibat keberangkatan.
Artinya:
Kalau berangkat justru membuat yang di rumah goyah—itu bukan mampu, itu nekat.
Ketika Haji Bergeser dari Ibadah ke Aksesoris Sosial
Saya tidak anti haji.
Saya anti panik identitas.
Di masyarakat kita, haji sering bergeser: dari ibadah → status, dari perjalanan spiritual → simbol legitimasi sosial.
Tidak heran jika jalur cepat seperti furoda sering dipahami sebagai: “yang penting berangkat dulu”
Padahal, Ibnu Khaldun (w. 1406) sudah lama mengingatkan bahwa ketika agama dipakai sebagai simbol status, yang bekerja bukan iman, tapi hasrat akan pengakuan.
Saya bertanya ke diri sendiri: “Kalau saya berangkat sekarang, apakah ini untuk Tuhan—atau untuk meredakan kegelisahan sosial saya sendiri?”
Jawabannya jujur saja: belum tentu bersih.
Dan bagi saya, menunda dengan sadar jauh lebih jujur daripada berangkat dengan ego yang disamarkan.
Mampu Itu Bukan Hanya Bisa Berangkat, Tapi Bisa Pulang Tanpa Merusak yang Ada
Saya memilih merawat hal-hal yang sedang nyata: keluarga yang butuh stabilitas, usaha yang menopang banyak perut, karyawan yang hidup dari keputusan-keputusan kecil saya.
Al-Ghazali (w. 1111) pernah menulis bahwa inti ibadah adalah tahdzib an-nafs—pendidikan jiwa.
Dan pendidikan jiwa seringkali justru terjadi saat kita menahan diri, bukan saat kita memamerkan kesalehan.
Kalau hari ini saya mampu menyantuni, mampu menafkahi, mampu menahan ego, mampu tidak menjadikan agama sebagai panggung—
bukankah itu juga bagian dari ibadah?
Tentang Undangan Tuhan dan Manusia yang Terlalu Percaya Algoritma Langit
Saya tidak percaya Tuhan bekerja seperti notifikasi aplikasi: rajin → dapat undangan, lalai → skip.
Hidup terlalu kompleks untuk itu.
Kadang bukan karena kita jauh, tapi karena Tuhan sedang bilang: “Tunggu. Ada yang lebih mendesak untuk kamu urus dulu.”
Dan tidak semua penundaan adalah penolakan.
Kadang itu cuma antrian yang manusia saja terlalu ribut menafsirkannya.
Epilog: Saya Tidak Takut Tidak Berangkat, Saya Takut Berangkat Tapi Tidak Pulang
Kalau suatu hari saya berhaji—Alhamdulillah.
Kalau belum—ya tidak apa-apa.
Agama tidak runtuh.
Tuhan tidak berkurang.
Dan hidup tetap harus dijalani dengan waras.
Karena pada akhirnya, saya lebih takut menjadi: orang yang sudah ke Tanah Suci, tapi tidak pernah benar-benar pulang dari egonya sendiri.
Dan untuk urusan itu,
tidak ada jalur furoda.