Bahlul al-Majnun, Daster, dan Seni Menyembunyikan Kebijaksanaan di Balik Kegilaan
Saya sering tertawa sendiri ketika membandingkan pengalaman saya mengamati live commerce dengan kisah-kisah klasik Bahlul al-Majnun. Di satu sisi, saya mengulik daster—motif batik parang, kenyamanan kain, simbol yang terselip dalam sehari-hari. Di sisi lain, ada Bahlul, seorang cendekiawan yang berpura-pura gila di hadapan Khalifah Harun al-Rasyid, abad ke-8 di Baghdad.
Nama aslinya Wahab bin Amr, bukan orang sembarangan. Ia ahli hukum, cendekiawan, bahkan kerabat jauh sang khalifah. Tapi, mengapa ia memilih berpura-pura gila?
Pertama, untuk menghindari risiko dunia: menjadi hakim agung di zaman itu berarti terjebak dalam politik yang penuh intrik dan fitnah. Kedua, untuk mendapat kebebasan berbicara: dengan bertingkah gila, ia bisa mengkritik ketidakadilan tanpa takut dihukum. Strategi ini terlihat nyeleneh, tetapi sesungguhnya sangat cerdas.
Saya tersenyum membayangkan diri saya seperti Bahlul ketika menjelaskan daster batik parang kepada penonton: saya bercanda, melompat-lompat antar tema, dari motif ke sejarah, dari etika rumah tangga ke embedded value. Penonton tertawa, membeli daster, tapi mereka tidak sadar—saya sedang memindahkan makna, bukan sekadar jualan. Persis seperti Bahlul yang menyembunyikan kebijaksanaannya di balik kegilaan.
Kisah klasik Bahlul pun sering berakhir dengan momen ironis: ketika duduk di atas kuburan dan ditanya Khalifah, “Kapan kamu akan berakal?” Bahlul menunjuk ke kuburan dan ke istana, menjawab:
"Akulah yang berakal, wahai Harun. Karena aku tahu istanamu akan hancur, sedangkan kuburan ini kekal. Aku membangun rumahku di sini sebelum menempatinya, sedangkan kamu hanya membangun istanamu dan merusak akhiratmu."
Kebijaksanaan ini tertulis di balik perilaku yang tampak aneh—atau dalam bahasa Nusantara modern, “gila”. Ironisnya, di Indonesia, kata “Bahlul” diserap menjadi sinonim kebodohan, menghilangkan makna spiritual yang terselip: bijak di balik gila.
Di sini saya tersadar: perilaku manusia, baik dalam sejarah maupun kehidupan sehari-hari, sering disederhanakan. Motif daster yang saya bawakan bukan sekadar kain, tetapi simbol keberlangsungan hidup, kenyamanan, dan kebijaksanaan domestik. Sama seperti Bahlul, yang menyembunyikan kecerdasannya agar selamat dan bebas bersuara.
Bahlul mengajarkan satu hal penting: kebijaksanaan tidak selalu ditampilkan dengan formalitas atau kekuasaan. Kadang ia ada di balik kegilaan, di balik tawa, atau di balik monolog santai yang menyisipkan nilai budaya dan etika. Saya mengamati daster, menyusun makna, menertawakan penonton yang ikut terhibur, dan menyadari—seolah Bahlul masih ada, menonton saya dari abad ke-8, tersenyum dengan tenang.
Dan mungkin, di titik itulah semua orang membeli daster: bukan hanya karena nyaman dipakai, motifnya cantik, atau batiknya legendaris. Mereka membeli rasa pantas, rasa dihargai, rasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri, sama seperti Khalifah yang akhirnya menangis karena menyadari siapa yang sebenarnya berakal.
Bahlul al-Majnun bukan hanya legenda, ia filosofi hidup yang turun ke bahasa, ke simbol, bahkan ke daster batik yang kita pakai sehari-hari. Dan saya? Saya tersenyum, menulis, menjual, sambil belajar bagaimana menyembunyikan kebijaksanaan di balik kegilaan yang tampak sepele—persis seperti tokoh yang sama-sama menghibur dan mengajarkan ini selama berabad-abad.