Beberapa pagi terakhir, balkon lantai dua rumah saya berubah fungsi. Bukan jadi tempat ngopi atau jemur pikiran, tapi jadi galeri kotoran hewan. Dari bentuknya—buah-buahan setengah tercerna dan lendir khas unggas—saya menyimpulkan dengan percaya diri yang sok ilmiah: ini kotoran burung.
Malam sebelumnya sebenarnya sudah ada tanda-tanda. Suara brak- bruk dari lantai dua, seperti episode ringan sinetron horor. Saya sempat mikir macam-macam, lalu memilih keputusan paling rasional yang dibungkus alasan paling jujur: saya takut. Jadi saya biarkan saja, toh pagi akan menjawab. Dan benar, pagi hari tidak ada hantu, hanya kotoran. Dunia kembali ke jalur logisnya.
Hari pertama saya bersihkan. Selesai. Hidup lanjut.
Hari kedua, kejadian yang sama.
Hari ketiga, pengulangan yang mulai terasa seperti pola.
Di titik itu, otak modern saya mulai aktif. Kepikiran pasang CCTV. Biar tahu makhluk apa yang menjadikan balkon saya rest area musim hujan. Lalu saya hitung cepat: biaya, manfaat, dan fakta bahwa ini cuma urusan tai. Gagal. CCTV batal.
Opsi kedua: pasang jaring. Lebih strategis, katanya. Tapi begitu membayangkan balkon jadi mirip kandang lovebird, estetik runtuh, dompet ikut meringis. Batal lagi.
Akhirnya, saya duduk sebentar di balkon yang sudah bersih. Dan pikiran saya belok ke arah yang tidak biasa: empati pada hewan yang menyebalkan. Mungkinkah balkon saya cuma persinggahan sementara? Musim hujan. Pohon tumbang. Sarang digusur. Barangkali ia cuma butuh atap semalam dua malam. Insting hewan, pikir saya, tidak akan menjadikan balkon rumah orang sebagai habitat permanen. Hewan, seaneh-anehnya, biasanya tahu diri. Ia akan mencari pohon, celah, goa, atau lubang lereng—tempat yang memang ditakdirkan untuknya.
Dan hari keempat, dugaan saya menang tipis. Tidak ada suara. Tidak ada kotoran. Balkon kembali suci. Burung itu pergi tanpa pamit, tanpa drama, tanpa meninggalkan trauma berkepanjangan—selain kenangan menyapu tai pagi-pagi.
Saya tersenyum kecil. Bukan karena menang melawan burung, tapi karena merasa adil. Saya tidak mengusir, tidak memasang jebakan, tidak membangun benteng berbiaya mahal. Saya membiarkan alam menyelesaikan urusannya sendiri. Dan alam, untuk sekali ini, rapi dan sopan.
Ternyata keadilan itu kadang sesederhana ini: membersihkan yang perlu dibersihkan, tidak bereaksi berlebihan, dan percaya bahwa bahkan hewan pun tahu kapan harus pergi.