Saya semakin yakin, hidup ini terlalu berat kalau ditanggung sendirian. Untungnya, manusia modern punya solusi elegan: menyalahkan elit global. Sebuah entitas gaib, serba bisa, selalu siaga 24 jam, dan—yang terpenting—tidak bisa dimintai klarifikasi.
Awalnya saya pikir elit global hanya mengurusi hal-hal besar: ekonomi dunia, perang, minyak, dolar, dan rapat-rapat panjang yang fotonya buram. Tapi ternyata saya keliru. Elit global ini levelnya sudah admin semesta.
Contohnya, ada komunitas flat earth. Mereka yakin bumi bulat itu hoaks. Foto satelit? CGI. Astronot? Aktor. Gravitasi? Perasaan. Semua itu, tentu saja, konspirasi elit global. Saya membayangkan elit global berkumpul sambil berkata,
“Kita bohongi manusia ribuan tahun ya. Biar seru.”
Lalu ada bencana alam. Tsunami datang, gempa mengguncang, gunung meletus. Dulu kita menyebutnya gejala alam. Sekarang tidak. Sekarang itu hasil retakan buatan elit global. Entah pakai bor raksasa, sendok kosmik, atau remote control lempeng tektonik. Saya kagum pada teknologinya. Sayang tidak pernah dipamerkan di pameran sains.
Anak saya malas beranjak dari depan TV? Bukan karena kartunnya menarik atau orang tuanya lupa batas waktu layar. Tidak. Ini jelas ulah elit global. Kartun dibuat sengaja supaya anak-anak generasi depan malas, lemah, dan tidak mau disuruh mandi. Pixar, Disney, Upin Ipin—semua cabang operasi rahasia.
Kalau kita naik level, ada teori konspirasi 9/11. Katanya itu bukan serangan teror, tapi skenario elit global untuk memulai perang dan mengeruk keuntungan. Argumennya panjang, videonya buram, naratornya berbisik, dan selalu ditutup dengan kalimat sakral:
“Media tidak mau memberitahu kamu ini.”
Vaksin? Jangan ditanya. Bagi sebagian orang, vaksin bukan alat kesehatan, tapi alat kontrol populasi. Jarum suntik itu katanya berisi chip. Saya sempat bingung: chip apa yang muat di jarum sekecil itu? Tapi saya sadar, saya terlalu logis. Logika memang musuh utama teori konspirasi.
Perubahan iklim juga kena. Es mencair, suhu naik, cuaca makin aneh. Bukan karena emisi, bukan karena keserakahan industri, tapi karena elit global ingin mengontrol ekonomi dan politik. Jadi, kalau hari ini panas, itu bukan karena kita menebang hutan, tapi karena ada rapat elit global kemarin malam.
Dan tentu saja, Illuminati. Organisasi favorit segala teori. Simbol mata satu, segitiga, angka-angka. Kalau logo warung kebab bentuknya miring dikit, bisa jadi cabang lokal. Elit global katanya bagian dari ini. Dunia dikontrol segelintir orang. Sisanya figuran.
Yang menarik, dalam semua cerita ini, manusia biasa selalu korban. Tidak pernah pelaku. Tidak pernah ceroboh. Tidak pernah malas cek sumber. Tidak pernah salah paham. Semua kebodohan pribadi terasa lebih nyaman kalau dipindahkan ke pundak elit global.
Padahal kebodohan-kebodohan ini nyata dampaknya. Orang menolak vaksin, penyakit menyebar. Orang menolak sains, lingkungan rusak. Orang curiga pada semua hal, masyarakat jadi tegang dan saling tuduh. Tapi tetap saja, lebih enak bilang,
“Ini semua skenario.”
Saya sendiri akhirnya sadar: elit global versi ini bukan masalah utama. Masalah utamanya adalah kemalasan berpikir yang disamarkan jadi keberanian melawan arus. Paranoia yang dipoles jadi kesadaran. Kebodohan yang diberi nama teori.
Dan besok, kalau saya lagi salah parkir, kena tilang, atau lupa ulang tahun istri—tenang saja. Saya sudah siap.
Itu pasti ulah elit global.