Maaf Saya Mencret, Ini Pasti Ulah Elit Global
Saya hidup di zaman yang menakjubkan. Zaman ketika hampir semua hal—dari geopolitik sampai nasi di piring—punya satu tersangka utama yang sama: elit global.
Awalnya saya pikir ini istilah berat, serius, penuh analisis. Elit global terdengar seperti rapat rahasia di gedung kaca tinggi, orang-orang berjas rapi, peta dunia di dinding, grafik naik-turun, dan kopi pahit tanpa gula. Masuk akal kalau urusannya ekonomi dunia, perang dagang, kebijakan moneter, atau stabilitas negara. Oke, saya angguk. Dunia memang kompleks, pasti ada orang-orang berpengaruh yang duduk di meja besar.
Tapi entah sejak kapan, elit global naik pangkat. Bukan cuma mengatur dunia, tapi juga jadwal makan saya.
Saya mendengar dengan wajah datar tapi batin tergelitik:
“Makan tiga kali sehari itu propaganda elit global.”
Saya berhenti mengunyah. Pelan.
Oh? Sejak kapan sarapan jadi agenda rahasia?
Narasinya rapi. Makan tiga kali sehari meningkatkan gula darah. Setuju. Lalu lompat jauh: elit global sengaja membiasakan manusia makan tiga kali supaya kena diabetes, supaya hidupnya bisa dikontrol. Saya kagum. Bukan pada teorinya—tapi pada imajinasi logistiknya. Bayangkan rapat elit global itu:
“Agenda nomor tiga: pastikan warung nasi Padang buka pagi, siang, malam.”
Di titik itu saya mulai sadar, elit global ini bukan lagi konsep sosial-ekonomi. Ia sudah menjelma jadi makhluk metafisik. Maha tahu. Maha hadir. Bahkan lebih rajin dari malaikat pencatat amal.
Pandemi? Elit global.
Kerusuhan? Elit global.
Harga cabai naik? Elit global.
Sinyal hilang pas mau kirim voice note penting? Kemungkinan besar… elit global.
Saya jadi berpikir, betapa sibuknya mereka. Mengatur pasar saham dunia sambil mengintip isi piring saya. Mengawasi konflik internasional sambil memastikan saya tergoda mi instan level pedas neraka. Multitasking tingkat dewa.
Puncaknya, suatu hari perut saya melilit. Salah makan. Mencret. Duduk termenung di toilet sambil refleksi hidup. Dan di sanalah, pencerahan datang:
Ini pasti ulah elit global.
Kenapa mereka membiarkan bumbu mi dibuat sepedas itu? Kenapa tidak ada regulasi internasional tentang sambal yang manusiawi? Di mana PBB saat perut saya berontak?
Lama-lama saya merasa kasihan pada elit global versi ini. Mereka terlalu hebat, terlalu maha kuasa, sampai-sampai manusia jadi bebas dari tanggung jawab personal. Gula darah naik bukan karena pola makan saya, tapi karena konspirasi. Badan pegal bukan karena kurang olahraga, tapi karena skema global. Hidup berantakan bukan karena pilihan, tapi karena ada “mereka”.
Padahal, mungkin—hanya mungkin—dunia ini tidak selalu digerakkan oleh satu dalang jahat berjas hitam. Mungkin sebagian besar hal terjadi karena campuran antara sistem besar, keputusan kecil, dan kebiasaan manusia yang kadang malas mikir tapi rajin menyalahkan.
Elit global memang ada. Mereka berpengaruh. Mereka nyata. Tapi saya ragu mereka bangun pagi hanya untuk memastikan saya sarapan.
Dan kalau besok saya mencret lagi, saya janji akan lebih jujur:
mungkin itu bukan elit global.
mungkin itu saya yang nambah sambal.