Tentang Singa yang Kami Doakan, dan Anak yang Akan Menentukan Jalannya Sendiri
Kami Berharap Banyak, Tapi Ia Tetap Manusia
Hari itu kami menamai anak kedua kami dengan nama yang terasa berat sekaligus indah: Haidar Malik Kasyafani. Di kepala kami, nama itu membawa citra singa—tegas, tenang, tidak reaktif, kuat tanpa perlu ribut. Pemimpin yang damai karena tidak sibuk membuktikan apa pun. Nama yang kalau dibaca pelan-pelan terdengar seperti doa panjang yang diselipkan ke dalam akta kelahiran.
Lucunya, di hadapan kami saat itu bukanlah singa. Ia bayi merah, menangis tanpa konsep, menggenggam udara, dan sepenuhnya bergantung pada tangan orang lain. Jauh dari gagah. Jauh dari tegas. Dan justru di situ kami tertawa kecil—oh, ternyata beginilah kenyataannya. Kami memberi nama besar, tapi yang lahir tetap manusia kecil dengan popok basah dan jam tidur yang berantakan.
Saya sadar, sebagai orang tua, kami sering menaruh harapan seperti meletakkan ransel berat di punggung bayi. Isinya doa, nilai, trauma masa lalu, dan mimpi yang dulu gagal kami capai sendiri. Kami menyebutnya “harapan”, padahal kalau tidak hati-hati, ia bisa berubah menjadi tuntutan. Maka sejak awal saya mengingatkan diri sendiri: harapan boleh tinggi, tapi penerimaan harus lebih luas.
Kami ingin ia tegas, tapi bukan keras. Berani, tapi tidak kasar. Kuat, tapi tahu kapan duduk dan diam. Namun di saat yang sama, kami juga harus siap jika kelak ia memilih menjadi sesuatu yang sama sekali tidak ada di kamus harapan kami. Bisa saja ia bukan pemimpin, bukan singa, bukan apa-apa yang terdengar megah. Bisa saja ia hanya ingin hidup tenang, cukup, dan tidak menyakiti siapa pun. Dan itu pun—kalau dipikir jernih—sudah lebih dari cukup.
Menjadi ayah dari dua anak membuat saya paham satu hal sederhana tapi mahal: anak bukan lanjutan ego, bukan proyek jangka panjang, dan bukan jawaban atas kekurangan hidup orang tuanya. Mereka adalah manusia utuh yang kebetulan lahir dari kami. Tugas kami bukan membentuk mereka sesuai cetakan, tapi menyediakan ruang agar mereka bisa tumbuh tanpa takut salah.
Hari ini Haidar masih bayi. Ia belum tahu arti namanya, apalagi beban maknanya. Dan mungkin memang belum perlu. Biarlah ia belajar tertawa dulu, menangis sepuasnya, marah tanpa malu, lalu pelan-pelan mengenal dunia. Soal kelak ia menjadi apa, biarlah itu urusannya dengan hidup.
Kami tetap berdoa—tentu saja. Tapi doa kami sekarang sedikit berubah. Bukan lagi: jadilah ini, jadilah itu. Lebih sederhana dan lebih jujur:
Semoga kamu tumbuh menjadi dirimu sendiri, dan kami cukup dewasa untuk menerimanya.
Karena pada akhirnya, kami boleh berharap banyak. Tapi ia tetap manusia. Dan mungkin justru di situlah letak keindahannya.