Saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan yang tidak penting, tapi terasa benar:
ketimpangan sosial tidak berhenti di dunia manusia. Ia berlanjut sampai alam hantu.
Coba bandingkan.
Horor Barat selalu dimulai dengan niat baik: suasana.
Lampu temaram.
Backsound berlapis.
Ruang bawah tanah pengap.
Lorong sempit yang bikin paru-paru ikut mengecil.
Saya akui, The Conjuring bekerja di situ.
Bukan hantunya—suasananya.
Karena begitu klimaks tiba, yang terjadi cuma ini:
orang-orang berteriak satu nama dengan penuh emosi,
“BATSHEBA!!!”
Lalu makhluk itu menjerit.
Selesai.
Di kepala saya muncul pertanyaan tidak sopan:
kenapa nggak dari awal aja?
Teriak “BATSHEBA” di menit kelima,
lanjutkan credit title,
hemat listrik, hemat trauma.
Karena jujur saja, hantunya sendiri… ya begitu.
Tidak membawa beban hidup.
Tidak punya masalah struktural.
Tidak terlihat pernah mikir soal makan atau tempat tinggal.
Bandingkan dengan vampir Eropa.
Ini malah makin tidak horor.
Ganteng.
Pucat estetik.
Tinggal di kastil.
Pakai jas.
Minum darah seperti sedang sommelier training.
Ini bukan makhluk terkutuk.
Ini orang ganteng yang memilih tinggal jauh dari tetangga.
Lalu saya pulang ke horor Jawa.
Dan di sinilah kenyataan sosial menampar dengan keras.
Hantu Jawa itu bukan cuma menyeramkan.
Ia miskin.
Tempat tinggalnya di mana?
Di pohon nangka.
Di sumur tua.
Di pipa wastafel penuh lemak sabun.
Di kamar mandi umum.
Di rumah kosong yang bahkan manusia hidup pun ogah menempatinya.
Tidak ada kastil.
Tidak ada loteng luas.
Tidak ada ruang bawah tanah estetik.
Yang ada hanyalah ruang sisa.
Saya mendadak sadar:
di Jawa, bahkan setelah mati pun, kelas sosial tidak naik.
Manusianya hidup dalam tekanan ekonomi.
Hantunya ikut krisis moneter.
Manusianya susah punya rumah layak.
Hantunya tinggal di limbah.
Ini horor yang tidak dibuat-buat.
Ini horor yang terlalu dekat.
Karena kita tidak takut vampir bangsawan.
Kita takut suara dari kamar mandi jam dua pagi.
Kita takut sumur.
Kita takut pohon gelap di jalan pulang.
Bukan karena imajinasi liar,
tapi karena kita hidup di ruang yang sama dengan mereka.
Horor Barat menjual atmosfer.
Horor Jawa menjual realisme yang dipelintir sedikit.
Dan mungkin itu sebabnya horor Jawa terasa lebih kejam.
Bukan karena setannya,
tapi karena ia mengingatkan:
bahkan di alam gaib,
yang mapan tetap mapan,
yang miskin tetap harus mencari tempat bernaung—
meski sudah mati.
Saya akhirnya tertawa sendiri.
Bukan karena takut.
Tapi karena absurdnya konsistensi semesta ini.
Oh Jawa…
tidak hanya manusiamu yang bertahan hidup di sisa-sisa,
hantumu pun demikian.
Dan di titik itu, saya sadar:
ini bukan cerita horor.
Ini dokumenter sosial,
bedanya cuma—
subjeknya sudah meninggal.