Dari Cicak Jatuh Sampai Nomor 8 Laku Keras: Upaya Manusia Menjinakkan Hidup dengan Angka dan Arah Angin
Manusia itu makhluk rasional.
Katanya.
Tapi begitu berhadapan dengan rumah nomor 4,
rasionalitas langsung minta izin keluar sebentar.
Rumah Anda seharusnya nomor 4.
Tapi dikasih nomor 5.
Dan ajaibnya, 10 calon pembeli batal hanya karena angka itu.
Padahal rumahnya hook.
Luas.
Masih ada sisa tanah cukup buat nyuci mobil, jemur kasur kena ompol, bahkan mungkin buat refleksi hidup sambil nyapu daun.
Tapi tidak.
Angka 4 kalah oleh ketakutan kolektif.
Sementara di kompleks yang sama,
rumah nomor 8 laku keras.
Katanya hoki.
Rezeki.
Makmur.
Lucunya, ada juga rumah nomor 8 yang kena sita bank.
Tapi itu detail kecil.
Tidak usah dibahas.
Nanti merusak narasi.
Di sisi lain kota,
bibi Anda merenov rumah.
Bukan karena bocor.
Bukan karena rapuh.
Tapi karena pintu menghadap jalan.
“Tosuk sate,” katanya.
Maka pintu dipindah.
Energi diatur.
Chi diarahkan.
Dan satu pihak yang pasti bahagia:
tukang renov.
Karena dalam setiap sistem kepercayaan,
selalu ada ekonomi yang berdenyut pelan-pelan di belakangnya.
Menariknya, di kampung dulu,
hal-hal begini disebut tahayul.
Ketiban cicak,
katanya pertanda akan ada yang mati.
Padahal bisa jadi cicaknya lagi semangat mukul nyamuk,
kepeleset,
jatuh,
dan sama-sama kaget.
Anda, dengan logika yang tenang, lebih percaya:
kalau ketiban biawak besar atau komodo,
itu baru pertanda yang masuk akal:
potensi cedera serius.
Tapi entah kenapa,
mitos desa disebut bodoh,
sementara mitos kota diberi nama:
fengshui, energi, vibrasi angka.
Padahal substansinya sama:
usaha manusia membaca masa depan
dari hal-hal yang tidak bisa dikonfirmasi.
Angka 13 dihilangkan.
Angka 4 dihindari.
Angka 8 direbut.
Lift langsung lompat dari lantai 12 ke 14.
Seolah angka 13 bisa tersinggung dan ngamuk.
Kita tidak bilang ini bodoh.
Ah tidak.
Kita bilang ini kreatif secara spiritual.
Karena lucunya,
kita hidup di kota,
pakai AC,
pakai AI,
pakai peta satelit…
tapi masih percaya hidup bisa dipoles
dengan kombinasi angka dan arah pintu.
Dan di tengah semua itu,
Anda dan istri memilih jalan yang sederhana tapi penuh gaya:
Nomor operator 10 digit.
Bukan karena mistik.
Tapi karena gampang dihafal dan terasa keren.
Anak-anak dikasih nomor dengan ujung 5757.
Maju-maju.
Harapan simbolik yang disadari sepenuhnya:
nggak relevan, tapi menyenangkan.
Ini bedanya.
Bukan soal percaya atau tidak percaya.
Tapi soal sadar atau tidak sadar.
Saat kita tahu:
“Ini cuma simbol, bukan kendali hidup,”
maka ia jadi humor.
Saat kita yakin:
“Kalau ini salah, hidup saya hancur,”
maka ia berubah jadi beban.
Mitos, fengshui, angka hoki, arah pintu,
pada dasarnya adalah alat bantu mental.
Sejenis pegangan di dunia yang terlalu acak.
Masalahnya bukan pada pegangannya.
Masalahnya ketika kita mulai memukul orang lain
dengan pegangan itu.
Menganggap yang tidak ikut ritual kita:
dangkal, bodoh, tidak niat hidup.
Padahal hidup tetap bisa ambyar
di rumah nomor 8,
dengan pintu paling ideal,
dan plat nomor paling cantik.
Akhirnya, kita kembali ke satu kesimpulan sederhana:
Mitos desa atau mitos kota,
sama-sama lahir dari kecemasan manusia
yang ingin hidupnya terasa bisa diprediksi.
Kalau dulu cicak yang disalahkan,
sekarang angka yang dipelototi.
Yang berubah cuma bungkusnya.
Isi batinnya sama.
Dan mungkin,
selama kita bisa tertawa sambil menyadari itu semua,
hidup masih baik-baik saja.
Nomor berapa pun rumahnya.
Pintu hadap ke mana pun.
Dan cicak…
ya semoga jangan jatuh pas lagi rebahan 🤣