Saya tumbuh dengan kalender yang sederhana. Di kampung, tanggal-tanggal penting itu jumlahnya terbatas dan sakral. Isra Mi’raj. Maulid Nabi. Idul Fitri. Idul Adha. Lalu satu lagi yang paling meriah: 17 Agustus. Itu pun dirayakan rame-rame, panjat pinang, lomba makan kerupuk, hadiah kipas angin atau panci.
Tidak ada yang namanya peringatan hubungan.
Cinta itu dijalani, bukan ditandai.
Sampai suatu hari saya mengenal dunia kota. Dunia yang ternyata tidak pernah kehabisan alasan untuk merayakan sesuatu. Bahkan hal yang—menurut standar kampung—masih status “belum tentu ini apa”.
Calon pasangan saya, dengan wajah serius tapi bahagia, berkata,
“Besok kita aniversary satu bulan ya.”
Satu bulan.
Bukan satu tahun.
Bukan satu windu.
Satu bulan.
Saya terdiam. Otak saya bekerja keras. Dalam hati saya bertanya:
“Ini bercanda atau ada pasalnya di undang-undang kota?”
Di kampung, satu bulan itu durasi nunggu padi mulai keliatan tumbuh. Bukan sesuatu yang layak dipotong kue.
Tapi ternyata ini serius. Ada makan. Ada ucapan. Ada ekspektasi. Dan yang paling nyata: ada biaya. Saya mengalami culture shock tingkat ringan tapi menggelitik. Oh, jadi begini ya hidup di kota. Waktu bukan cuma berjalan, tapi juga dirayakan berkala.
Lalu saya pikir itu puncaknya. Ternyata tidak.
Masuk ke ulang tahun. Bukan ulang tahun anak kecil dengan badut dan balon. Ulang tahun orang dewasa. Ada lilin, ada kue, ada doa, dan ada kewajiban hadir dengan wajah bahagia walau besok gajian masih jauh.
Belum selesai, muncul lagi: aniversary pernikahan. Yang ini levelnya naik. Ada hitung-hitungan tahun. Ada simbol-simbol. Kayu, perak, emas. Saya belum hafal, tapi saya hafal satu hal: makin lama, biasanya makin mahal.
Saya lalu sadar, di kota, hidup itu seperti kalender penuh stabilo warna-warni.
Pacaran dirayakan.
Menikah dirayakan.
Perusahaan berdiri dirayakan.
Perusahaan tutup… mungkin juga dirayakan, tergantung siapa yang bikin acara.
Sementara di kampung, hidup itu dirayakan diam-diam. Tidak ada aniversary satu bulan bertahan hidup. Tidak ada pesta “selamat, kamu masih miskin tapi sehat”. Yang penting kumpul, makan bareng, dan tidak ribut.
Saya tidak bilang yang satu lebih benar dari yang lain. Ini hanya soal irama. Kampung berjalan pelan, kota berjalan sambil meniup terompet. Di kampung, makna ada pada kebersamaan. Di kota, makna sering dikemas jadi acara.
Sekarang saya mengerti. Aniversary itu bukan cuma soal tanggal. Itu cara kota berkata,
“Hal sepele pun layak dirayakan, asal ada yang bayar.”
Dan saya, mantan anak kampung, akhirnya ikut arus. Belajar mengangguk, tersenyum, dan berkata,
“Iya sayang, kita rayakan.”
Walau di dalam hati, saya masih rindu satu perayaan sederhana:
makan bareng tanpa alasan apa pun.