Dulu Nggak Ada Sesar, Nak— Catatan Kecil dari Meja Operasi dan Meja Makan Keluarga
Kedua anak kami lahir melalui operasi. Dan seperti hampir semua keputusan orang tua di negeri ini, keputusan itu tidak pernah berdiri sendirian. Ia selalu ditemani komentar lintas generasi, lintas grup WhatsApp keluarga, dan lintas logika.
Kalimat pembukanya hampir selalu sama:
“Dulu nggak ada sesar. Semua lahir normal.”
Saya mengangguk. Dengan khidmat. Karena secara historis, itu benar. Dulu juga nggak ada USG, nggak ada antibiotik, nggak ada oksigen medis, dan angka kematian ibu dan bayi… ya, kita tahu sendiri. Tapi tentu kalimat lanjutan ini tidak saya ucapkan keras-keras. Saya masih ingin hidup damai di dunia nyata.
Sejujurnya, saya pun ingin kelahiran normal. Siapa sih yang bercita-cita masuk ruang operasi? Tapi keinginan itu berhenti tepat di batas yang paling masuk akal: keselamatan ibu dan bayi. Bagi saya, metode itu urusan teknis. Yang prinsipil cuma satu: pulang bertiga dengan selamat.
Yang menarik, perdebatan ini jarang benar-benar soal medis. Ia lebih mirip benturan memori kolektif. Generasi lama berbicara dari pengalaman bertahan hidup. Generasi sekarang berbicara dari data dan pilihan. Yang satu berkata, “Kami baik-baik saja,” yang lain menjawab dalam hati, “Iya, yang selamat memang bisa cerita.”
Saya tidak merasa perlu memenangkan debat. Karena ini bukan lomba siapa paling kuat menahan sakit, atau siapa paling setia pada cara lama. Ini bukan soal keberanian, apalagi gengsi. Ini soal membaca situasi dan memilih jalan yang paling rasional di saat itu.
Operasi bukan kegagalan. Ia bukan jalan pintas. Ia hanyalah satu dari sekian ikhtiar manusia yang belajar dari masa lalu. Sama seperti kita memilih naik motor pakai helm, bukan karena dulu orang tidak bisa naik motor tanpa helm, tapi karena sekarang kita tahu risikonya.
Lucunya, setelah semuanya selesai—ibu selamat, bayi sehat—perdebatan itu perlahan menguap. Yang tersisa hanya cerita. Dan seperti biasa, cerita akan disederhanakan menjadi:
“Yang penting anaknya lahir dengan selamat.”
Nah, itu dia. Dari awal juga itu poinnya.
Jadi kalau hari ini ada yang berkata, “Dulu nggak ada sesar,” saya tersenyum saja. Dalam hati saya menjawab pelan:
“Iya. Dan hari ini, alhamdulillah, ada pilihan.”
Kadang, berpikir jernih memang sesederhana itu.