Dari Pagi Buta di Wiladatika ke Rumah Sendiri: Kisah Ojol yang Jadi Bakul Daster
Bayangkan pagi buta di Tangerang Selatan, jam menunjukkan pukul 03.00. Kota masih gelap, jalanan sepi, dan saya—dengan kantong mata agak berat—bersiap untuk perjalanan ke Taman Wiladatika, Cibubur. Tujuan? Daftar Grab Bike.
Sesampainya di taman, suasananya sudah seperti festival: ratusan calon abang ojol menunggu. Ada yang tidur di bangku, ada yang berjaga di bawah pohon, bahkan ada yang membawa termos kopi hangat. Saya merasa seperti peserta reality show “Survivor: Grab Edition”.
Seharian itu diisi dengan pendaftaran, teori safety riding, dan pengarahan tentang atribut wajib: helm, jaket, dan tas khusus. Semua harus dibeli melalui saldo akun, Rp 70 ribu per minggu. Total harga atribut untuk minggu pertama? Rp 420 ribu. Sebuah investasi kecil untuk masa depan, pikir saya sambil menahan kantuk.
Dua tahun berikutnya, saya menjadi abang Grab. Dari mengantar penumpang, menunggu orderan, hingga menghadapi hujan dan panas, setiap rupiah yang saya dapat sedikit demi sedikit ditabung sebagai modal dagang. Setiap tetes keringat terasa seperti deposit ke rekening impian.
Dan lihat sekarang: tabungan itu sudah menjadi modal untuk rumah sendiri, mobil, dan pendidikan anak yang layak. Semua berawal dari pagi buta di Taman Wiladatika, daftar Grab Bike, dan keberanian untuk memulai dari nol.
Yang menarik, pengalaman itu bukan sekadar soal uang. Ini tentang:
- Kesabaran: belajar menunggu order, menghadapi pelanggan, dan tetap profesional.
- Disiplin: menyisihkan sedikit demi sedikit meski hasilnya terlihat lambat.
- Perencanaan: mengubah pekerjaan ojol menjadi pijakan bisnis dan masa depan keluarga.
Kalau sekarang saya bercerita sambil tertawa di live, orang mungkin hanya melihatnya sebagai “cerita lucu tentang abang Grab”. Tapi bagi saya, itu adalah fondasi hidup. Dari atribut Rp 420 ribu, lahirlah perjalanan yang membangun rumah, mobil, dan masa depan anak.
Jadi, kalau ada yang bertanya: “Eh, dari mana modalnya?”
Jawabannya sederhana: dari pagi buta di Taman Wiladatika, kesabaran, dan sedikit keberanian memulai.