Culture shock ini unik.
Karena ternyata kota dan kampung sama saja:
kalau soal hobi yang mengganggu orang lain,
semua wilayah setara dan adil.
Bedanya cuma skala dan volume.
Di kampung,
ada om-om karaoke dengan nada yang selalu nyaris benar.
Bukan fals total,
tapi cukup melenceng untuk menguji iman.
Karena sudah akrab, saya nyeletuk:
“Om punya bakat terpendam ya di nyanyi?”
Om senyum bangga.
Saya lanjut:
“Lebih baik bakatnya dipendam saja.”
Kami tertawa.
Tidak ada laporan RT.
Tidak ada status WhatsApp sindiran.
Hanya tawa dan kopi.
Di kampung, kritik itu dibungkus candaan.
Kalau sakit, sakitnya sebentar.
Kalau ketawa, ketawanya lama.
Lalu ada hobi motor.
Di kampung:
Motor berisik = tanda motor baru diganti knalpot.
Disuruh pelan-pelan.
Kalau ngeyel, ditegur rame-rame.
Selesai.
Di kota:
Motor berisik = identitas eksistensial.
Semakin brong, semakin merasa hidup.
Bukan lagi soal mesin,
tapi soal aku ada, dengar aku.
Telinga tetangga?
Bukan target market.
Soal musik juga sama.
Main musik keras di kampung:
Disuruh kecilin.
Kalau bandel, listrik bisa “mati sebentar”.
Main musik keras di kota:
Masuk konten.
Masuk story.
Masuk caption: “Maaf berisik, proses berkarya.”
Tetangga ikut proses…
tanpa daftar.
Paling bikin saya mikir itu soal tawuran.
Di kampung saya, tawuran itu…
aneh tapi teratur.
Disepakati dulu.
Tidak boleh bawa sajam.
Hanya kepalan tangan.
Tujuannya jelas:
lepas emosi, bukan lepas nyawa.
Biasanya karena pacar.
Atau ejekan.
Atau harga diri RT.
Habis itu?
Pulang.
Besok ketemu lagi.
Kadang jadi bahan cerita.
Di kota…
tawuran terasa beda.
Bukan lagi ribut.
Tapi seperti ritual gelap.
Harus ada tumbal.
Harus viral.
Harus ada korban.
Anak kampung yang lihat cuma bisa mikir:
“Ini bukan marah…
ini seperti mau membuktikan sesuatu.”
Akhirnya saya sadar,
culture shock soal hobi bukan soal tempat.
Di mana pun,
kalau hobi kita
mengambil ketenangan orang lain,
itu bukan ekspresi diri—
itu invasi.
Bedanya cuma satu:
Di kampung,
hobi mengganggu diselesaikan dengan tawa dan teguran.
Di kota,
hobi mengganggu sering dibela dengan dalih:
“Ini hak saya.”
Padahal yang juga punya hak:
telinga orang lain.
waktu orang lain.
dan hidup orang lain.
Tapi ya sudahlah.
Ini bukan untuk dihakimi.
Ini cuma catatan kecil,
sambil ketawa pelan,
bahwa kadang:
yang perlu dipendam itu bukan bakat—
tapi volume. 😄