Prasasti Maret 2017: Dari Tangerang Selatan ke Taman Wiladatika

by - 12:00 AM


Maret 2017. Aku menulis ini di pagi buta, seakan menandai jejak perjalanan hidup yang akan tersimpan entah sampai kapan.

Pukul 03.00, aku meninggalkan rumah di Tangerang Selatan. Tujuan: Taman Wiladatika, Cibubur, untuk mendaftar Grab Bike. Bayangkan: jalanan masih gelap, hanya suara burung dan lampu jalan yang setia menemani. Sesampainya di taman, suasananya sudah ramai. Calon abang ojol lain menginap di bangku-bangku, ada yang membawa termos kopi hangat, ada yang sudah menyiapkan sleeping bag. Aku di antara mereka, baru saja memulai langkah kecil menuju kehidupan yang berbeda.

Seharian penuh, kami diberi teori safety riding, diberi tahu prosedur operasional, dan diminta membeli atribut wajib. Helm, jaket, tas—semuanya dibayar Rp 70 ribu per minggu, total Rp 420 ribu. Sedikit, tapi terasa besar untuk kantong awal.

Aku menjalani peran ini dua tahun. Menjadi abang Grab bukan sekadar mengantar orang. Itu adalah pelajaran tentang kesabaran, disiplin, dan ketekunan. Dari setiap perjalanan, aku menyisihkan sedikit demi sedikit, membangun modal dagang yang suatu hari nanti akan bisa membeli rumah, mobil, dan pendidikan yang layak untuk anak.

Sekarang, melihat kembali, ini bukan kisah romantis atau cerita inspiratif yang dibungkus cantik. Ini prasasti, jejak yang mungkin suatu saat dibaca generasi lain, yang mungkin tertawa, mungkin mengernyit: “Oh, dulu nyari uang begitu ya? Mau jadi ojek aja seperti CPNS.”

Tapi aku menulis ini bukan untuk mereka. Aku menulis ini untuk menandai diriku sendiri, bahwa setiap langkah—walau sederhana, walau melelahkan—pernah ada, dan menjadi batu pijakan untuk hidup yang berikutnya.


You May Also Like

0 komentar