Tanya Keluarga, Ditegur Takdir, dan Buket Bunga Versi Laki-Laki
Kadang manusia tidak sedang kepo. Ia cuma menjalankan kebiasaan. Tanya keluarga ikut apa di kampung itu bukan investigasi, cuma basa-basi. Seperti nanya, “macet ya?” di Jakarta—kita tahu jawabannya, tapi tetap ditanya, demi menjaga dunia tetap berjalan normal.
Masalahnya, hidup tidak selalu mau kooperatif dengan kebiasaan.
Mamang pencukur itu tinggal, kerja, tidur, makan di tempat yang sama. Pangkas rambut yang bagi saya cuma ruang tunggu ngaji, buat dia adalah seluruh dunia. Psikologi menyebut kondisi ini environmental constriction—ruang hidup yang menyempit membuat pikiran ikut menyempit, bukan karena kurang akal, tapi karena kurang variasi pengalaman (Evans, 2003). Bosan itu bukan malas. Bosan itu lelah tanpa libur.
Maka ketika bahunya saya tepuk, mungkin benar: itu bukan nasihat, bukan motivasi, tapi buket bunga versi laki-laki. Tanpa pita. Tanpa kartu. Cuma sentuhan singkat yang bilang, “lu kelihatan, bro.” Dalam riset sentuhan suportif, gesture kecil seperti itu bisa menurunkan stres dan meningkatkan rasa diterima, bahkan tanpa kata apa pun (Field, 2010). Maskulin sekali: singkat, canggung, tapi kena.
Dia masih 28 tahun. Umur yang secara biologis masih muda, tapi secara pengalaman sudah menua terlalu cepat. Saya suruh dia nebak usia saya. Katanya 30–35. Saya bilang 50. Dia ketawa, lalu berhenti. Dicek lagi wajah saya di cermin. Bingung.
“Abang keliatan tua tapi muda. Keliatan muda tapi tua,” katanya.
Saya terima itu sebagai pujian paling jujur. Karena memang begitu kerja hidup: wajah bisa muda, tapi beban sudah senior. Atau sebaliknya, wajah lelah tapi batin masih lincah. Psikologi perkembangan menyebutnya subjective age—usia yang kita rasakan sering tidak sinkron dengan angka KTP, dan justru lebih menentukan kesehatan mental (Stephan et al., 2015).
Rasa bersalah karena bertanya itu ada. Tapi anehnya, rasa bersalah itu tidak selalu buruk. Ia menandakan empati masih hidup. Selama tidak berubah jadi sok menggurui, rasa bersalah itu cuma penanda bahwa kita masih manusia normal—bukan robot basa-basi.
Dan dia? Dia menyiksa diri dengan rutinitas yang itu-itu saja, mungkin karena bergerak terasa terlalu berat. Dalam duka, orang sering memilih stagnan bukan karena tidak mau maju, tapi karena dunia yang bergerak terlalu cepat terasa kejam (Bonanno, 2004). Bertahan dulu. Itu sudah cukup.
Saya pergi dengan rambut rapi dan kepala agak ringan. Dia tinggal dengan kursi, cermin, dan hidup yang belum selesai. Tapi mungkin, hari itu ada satu celah kecil: bahwa dunia belum sepenuhnya lupa menyapa.
Kadang yang dibutuhkan manusia bukan solusi. Cuma seseorang yang datang, bertanya terlalu jujur, lalu—alih-alih kabur—memilih tetap duduk sampai cukurnya selesai.
0 komentar