Aamiin yang Ditahan: Tentang Anak, Cita-Cita, dan Hak untuk Pergi Jauh
Anak saya pernah ingin jadi dokter gigi. Alasannya sederhana dan sangat ilmiah menurut logika anak: giginya pernah dibor. Ada bu dokter, ada kursi, ada suara ngiiiiing, lalu rasa sakit yang selesai dengan hadiah stiker. Otaknya merekam itu sebagai profesi yang nyata. Saya mengaminkan. Aamiin. Itu doa tanda setuju, bukan kontrak masa depan.
Lalu ia mengaji qiroati. Bertemu guru ngaji yang sabar, suara lembut, hafal huruf, hafal lagu, hafal cara membuat anak tenang. Ia pulang dengan epifani baru: ingin jadi guru ngaji. Secara hierarki sosial, ini turun beberapa tingkat dari dokter gigi. Tidak pakai jas putih. Tidak ada bor. Tidak ada kursi mahal. Saya tetap mengaminkan. Aamiin. Karena saya tahu: anak sedang belajar memaknai dunia lewat figur yang hadir, bukan lewat ranking profesi.
Bulan ini, plot twist datang dengan santai. Ia bilang ingin dagang seperti ayah dan ibu. Alasannya lebih pragmatis dari ekonom makro: males kena macet. “Yang penting ada uang kan, Yah?” katanya. Dokter gigi, guru qiroati, pedagang—menurut dia, semuanya sama saja. Sama-sama hidup.
Di titik itu, saya justru tidak mengaminkan.
Dan ini bukan inkonsistensi. Ini strategi.
Saya ingin ia pergi. Hus hus. Jauh.
Menjauh sebentar dari narasi rumah. Menyentuh dunia yang bukan versi ayah-ibu. Nyoba kalah. Nyoba bingung. Nyoba capek. Saya bilang pelan, lain hari: “Coba jalan lain dulu, Kak.” Ia mengangguk. Lalu lupa. Dan itu justru sehat.
Psikologi perkembangan menyebut ini sebagai fase exploratory identity, di mana anak secara alami berpindah-pindah aspirasi karena otaknya sedang mengarsip pengalaman, bukan menetapkan tujuan final (Erikson, 1968; Marcia, 1980). Anak yang “tidak konsisten” justru sedang bekerja keras secara kognitif. Ia bukan plin-plan; ia sedang mengumpulkan data.
Penelitian neurosains juga menunjukkan bahwa hingga usia remaja, sistem evaluasi masa depan di otak—khususnya prefrontal cortex—belum matang sepenuhnya. Anak menilai profesi berdasarkan kedekatan emosional dan pengalaman sensorik, bukan kalkulasi jangka panjang (Casey et al., 2008). Jadi wajar jika hari ini ia ingin jadi dokter gigi karena suara bor, besok guru ngaji karena rasa aman, dan lusa pedagang karena bebas macet.
Masalahnya justru kalau orang tua terlalu cepat mengaminkan semuanya sebagai tujuan akhir. Aamiin yang kebanyakan bisa berubah jadi pagar. Padahal yang dibutuhkan anak bukan restu permanen, tapi ruang untuk menjauh.
Sosiologi menyebutnya role foreclosure—ketika identitas ditutup terlalu cepat karena mengikuti figur signifikan (Santrock, 2011). Anak yang “ingin seperti ayah” itu manis, tapi juga berbahaya kalau tidak diberi jarak. Karena hidup bukan soal meniru, tapi menemukan versi sendiri.
Jadi, saya menahan Aamiin saya.
Bukan karena tidak setuju.
Tapi karena saya ingin dia pergi dulu.
Kalau suatu hari ia kembali dan tetap memilih dagang, guru ngaji, atau bahkan dokter gigi tukang bor—itu pilihannya, bukan pantulan saya. Dan di situ, Aamiin akan turun dengan tenang. Tanpa tawa. Tanpa debat.
Untuk sekarang, biarkan ia lupa.
Lupa adalah bagian dari tumbuh.
0 komentar