Mantra, Minyak Angin, dan Iman yang Dipijat Pelan-Pelan

by - 12:00 AM

Kakek-nenek saya tidak pernah menyebut itu terapi.

Mereka menyebutnya mijit.

Saya menyebutnya kerja paksa sukarela: tangan kecil, bahu pegal, sambil mendengar kisah G30S/PKI yang alurnya meloncat-loncat, kadang historis, kadang mistis, kadang berakhir pada kalimat, “pokoknya zaman dulu ngeri.”

Di sela cerita, kakek membisikkan mantra.
Bukan mantra yang bikin kebal atau bisa lompat pagar.
Mantra yang saat saya ucapkan, efeknya nihil—kecuali satu: bikin kakek merasa tenang.

Nama benda-benda dapur disebut satu per satu. Nyiru. Dulang. Hawu. Seeng.
Semua ditutup dengan kata yang sama: iman.

Sebagai anak kecil, saya tidak menganalisis simbol. Saya cuma tahu: kalau kakek belum tidur, saya belum boleh kabur. Dan kalau saya berhenti mijit, ceritanya makin panjang.

Belakangan baru saya paham, mantra itu bukan ditujukan pada saya.
Ia ditujukan pada diri kakek sendiri.

Dalam antropologi religius, mantra semacam ini berfungsi sebagai verbal coping mechanism—cara manusia menenangkan kecemasan eksistensial lewat bahasa simbolik (Malinowski, 1935). Ketika hidup terlalu besar untuk dikendalikan, manusia memanggil benda-benda yang ia kenal. Dapur. Rumah. Iman.

Dan generasi kakek-nenek saya hidup di masa ketika negara bisa berubah arah dalam semalam, tetangga bisa hilang tanpa pengumuman, dan iman bukan sekadar urusan pribadi, tapi alat bertahan hidup.

Maka jangan heran kalau ceritanya meloncat. Trauma memang jarang kronologis. Psikologi menyebutnya fragmented memory—ingatan yang muncul tidak rapi, tapi sarat emosi (van der Kolk, 2014). Dan orang tua zaman itu tidak pergi ke psikolog. Mereka memanggil cucu, minta dipijit, lalu bercerita.

Saya manut.
Bukan karena paham.
Tapi karena cinta di rumah itu selalu datang dengan syarat kecil: duduk sebentar, dengar sebentar, pegal sedikit.

Dalam studi tentang intergenerational transmission of belief, anak-anak sering menjadi “wadah pasif” dari nilai, doa, dan keyakinan, bahkan tanpa sadar (Boyatzis, 2006). Kita tidak selalu mewarisi isi mantranya—tapi kita mewarisi rasa bahwa hidup perlu sandaran.

Dan setelah kakek tertidur, saya kabur.
Main di luar. Lari. Ketawa.
Iman ditinggal sebentar di ruang tamu.

Tapi anehnya, bertahun-tahun kemudian, kalimat itu masih nongol di kepala.
Bukan untuk kebal.
Bukan untuk menaklukkan siluman.
Tapi sebagai pengingat: manusia memang kecil, dan sejak dulu kita tahu itu.

Kakek-nenek saya tidak sedang mengajari saya mantra.
Mereka sedang mengajari diri mereka sendiri untuk tetap percaya—dengan cara yang mereka punya.

Dan saya?
Saya cuma cucu yang tangannya pegal, tapi tanpa sadar ikut memijat sejarah.


You May Also Like

0 komentar