Manual Pengasuhan Bajak Laut: Mengapa Anak Pertama Perempuan Terasa Seperti Bonus, dan Anak Laki-Laki Datang Tanpa Buku Panduan
Kami tidak merasa punya trauma dalam mengasuh anak. Bukan karena kami orang tua hebat, tapi karena semesta memberi kami tutorial mode mudah di awal: anak pertama perempuan. Sejak kecil ia luwes, kooperatif, dan punya kemampuan langka—mengerti kalimat “nanti ya” tanpa perlu dijelaskan dengan suara tinggi dan urat leher tegang. Arsip pengasuhan kami terbentuk rapi dari situ. Ada folder bernama kesabaran, ada subfolder negosiasi, bahkan ada backup bernama humor receh.
Lalu lahirlah anak kedua. Laki-laki.
Di titik ini, kami sadar bahwa arsip sebelumnya ternyata formatnya tidak kompatibel.
Anak kedua ini hidup seakan dunia adalah dek kapal. Tidak ada konsep “pelan-pelan”, tidak ada menu “menunggu”. Tubuhnya bergerak lebih cepat dari pikirannya, dan pikirannya sering absen dari rapat keluarga. Kami seperti bukan mengasuh bayi, tapi menampung calon bajak laut yang sedang cuti dari laut lepas. Namun karena pernah punya anak pertama yang relatif tenang, kami tidak panik. Kami hanya mengganti istilah. Bukan “nakal”, tapi “aktif”. Bukan “keras kepala”, tapi “eksploratif”. Bukan “capek”, tapi “ya sudahlah”.
Eufimisme adalah teknik bertahan hidup.
Beberapa waktu kemudian, kami bertemu tetangga. Anak pertamanya laki-laki. Mereka tampak kaget, seperti orang yang baru sadar membeli barang tanpa membaca spesifikasi. Toddler mereka berlari dengan logika sendiri, menabrak meja, bangkit, lalu tertawa. Mereka bertanya dengan nada orang tua yang sudah kehabisan kopi dan harapan: bagaimana kami bisa punya tiga anak, dua di antaranya laki-laki?
Saya tertawa. Bukan tertawa jahat, tapi tawa orang yang sudah menyerah dengan elegan. Saya balik bertanya: “Anaknya ada rencana punya teman gelut?”
Tubuh mereka langsung bereaksi. Bahu naik, leher sedikit mundur, ekspresi khas orang yang otaknya menjawab tidak, tapi tubuhnya menjawab amit-amit.
“Ini satu saja sudah sulit,” katanya.
Saya mengangguk penuh empati. Itu jawaban paling jujur yang bisa keluar dari fase hidup ini.
Secara ilmiah, semua ini ternyata tidak terlalu mistis. Perkembangan anak laki-laki dan perempuan memang sering berbeda ritmenya. Studi neurodevelopmental menunjukkan bahwa area pengendalian diri dan regulasi emosi—khususnya prefrontal cortex—pada anak laki-laki cenderung matang lebih lambat dibanding perempuan (Giedd et al., 1999; Lenroot & Giedd, 2010). Ditambah lagi, hormon testosteron berkaitan dengan perilaku eksploratif dan pencarian sensasi sejak usia dini (Hines, 2010). Jadi ketika toddler laki-laki hidup seolah dunia adalah arena parkour, itu bukan kegagalan parenting. Itu biologi yang sedang bekerja tanpa izin orang tua.
Sementara itu, penelitian perkembangan sosial menunjukkan bahwa anak perempuan, rata-rata, lebih cepat menguasai bahasa dan membaca isyarat sosial (Else-Quest et al., 2006). Maka wajar jika anak pertama perempuan sering terasa seperti “mudah diatur”. Bukan karena ia malaikat, tapi karena sistem sarafnya memang lebih cepat sinkron dengan dunia orang dewasa.
Masalahnya, orang tua jarang diberi konteks ini. Yang ada hanya perbandingan. Anak tetangga. Anak saudara. Anak di Instagram. Lalu muncullah pertanyaan eksistensial: “Salah di mana ya?”
Padahal sering kali jawabannya: tidak salah. Cuma dapat bajak laut.
Pada akhirnya, pengasuhan bukan tentang menaklukkan anak, tapi tentang menurunkan ekspektasi sambil menaikkan humor. Kami bisa bertahan bukan karena punya metode canggih, tapi karena terbiasa mengganti narasi. Dari “kok begini amat” menjadi “oh, fasenya begini”. Dari “capek banget” menjadi “ya sudah, nanti juga lewat”.
Dan ketika ada orang tua bertanya apakah siap punya anak lagi, jawabannya tidak perlu teori panjang. Cukup lihat tubuhnya. Kalau bahunya langsung kaku dan napasnya pendek, berarti arsipnya belum siap dibuka.
Satu bajak laut saja, bagi sebagian orang, sudah lebih dari cukup.
0 komentar