Rambut Panjang, Rezeki Pendek, dan Kursi Pangkas yang Tiba-tiba Jadi Ruang Konseling
Saya sempat ingin setia. Rambut sudah sebahu, niatnya mau diteruskan sampai punggung, biar mirip Ari Lasso versi ekonomi rakyat. Rezekinya saya aminkan sekalian. Sayangnya rambut saya tidak sepandai doa: kalau kering, dia berdiri sendiri seperti anak burung umur tiga hari—bingung, ringkih, dan tidak siap menghadapi dunia. Estetika kalah oleh iklim. Gerah. Menyerah.
Sambil nunggu anak ngaji sore, saya belok ke pangkas rambut. Saya pilih yang ada embel-embel asgar, asli Garut. Bukan karena kualitas cukur, tapi karena kualitas guyon. Tukang cukur Garut itu kalau diajak ngobrol, obrolannya bisa dari gunung sampai takdir, tanpa terasa.
Seperti biasa, mode bapak-bapak kompleks saya aktif. Say hi, tanya sudah berapa lama nyukur, tinggal di mana, Garutnya sebelah mana. Percakapan ringan, aman, SOP sosial. Sampai saya tanya satu hal yang kelihatannya juga standar: keluarganya ikut ke Tangerang atau masih di kampung.
Di situ suasana pindah jalur.
Mamang pencukur berhenti sebentar. Suaranya turun setengah oktaf. Tiga bulan lalu, istrinya meninggal. Komplikasi. Anaknya empat tahun, sekarang tinggal sama neneknya di Garut. Saya minta maaf karena bertanya terlalu jauh. Dia bilang tidak apa-apa, malah berterima kasih karena masih ada orang yang bertanya tentang keluarganya.
Itu kalimat kecil, tapi berat. Psikologi kehilangan menyebutnya continuing bonds—orang yang berduka tidak butuh nasihat, tapi butuh pengakuan bahwa relasi yang hilang itu pernah dan masih berarti (Klass, Silverman, & Nickman, 1996). Ditanya saja sudah cukup untuk membuat luka terasa diakui.
Saya tidak menghibur. Tidak menyuruh sabar. Tidak menyitir ayat. Saya cuma bilang: ya begitu, A, setiap orang punya garisnya masing-masing. Ada yang ditinggal relasi. Ada yang diuji kegantengan seperti saya. Tuhan adil, cuma selera humornya beda.
Dia ketawa. Ketawa yang kembali hidup.
Humor memang sering disalahpahami sebagai tidak empatik, padahal dalam riset neuropsikologi, humor justru membantu regulasi emosi dengan menurunkan ketegangan dan memberi jarak aman dari rasa sakit (Martin, 2007). Bukan meniadakan duka, tapi memberi ruang napas.
Cukurnya selesai. Harganya delapan belas ribu. Saya kasih lima puluh, tidak mau kembalian. Saya bilang, ini rezeki anakmu. Bukan sedekah, bukan heroik. Cuma logika paling dasar manusia sosial: resource sharing memperkuat rasa keterhubungan dan harapan (Fehr & Fischbacher, 2003).
Dia nangis lagi.
Saya malah ketawa. Saya bilang, jangan lemah, A. Ada anak yang bikin mamang tetap berdiri tiap pagi. Dia mengangguk. Anggukan orang yang tidak tiba-tiba kuat, tapi mau bertahan satu hari lagi. Itu sudah prestasi besar menurut psikologi resiliensi (Masten, 2001).
Saya pamit. Dua tepukan hangat di bahunya—gestur kecil yang secara biologis terbukti meningkatkan rasa aman lewat sentuhan suportif (Field, 2010). Saat saya keluar, saya lihat dia duduk di kursi pelanggan, menutup wajah. Bahunya naik turun. Bukan drama. Itu pelepasan.
Saya pulang dengan rambut rapi, tidak lagi seperti anak burung. Tapi yang lebih ringan justru bukan kepala, melainkan dada. Ternyata pangkas rambut itu bukan cuma tempat buang rambut berlebih, tapi kadang tempat orang menumpahkan hidup yang terlalu berat dipikul sendirian.
Dan mungkin, di dunia orang dewasa, yang disebut rezeki bukan selalu uang. Kadang cuma percakapan yang tidak menghindar, tawa yang tidak menghakimi, dan seseorang yang bertanya—lalu mau diam ketika jawabannya menyakitkan.
0 komentar