Mengapa Tidak Ada Simpanse Jungler, dan Mengapa Manusia Bisa Jadi Feeder Seumur Hidup
Pada pelajaran taksonomi SMP dulu, guru menjelaskan dengan rapi bahwa manusia dan kera berada dalam satu ordo: Primata. Penjelasan itu berhenti di papan tulis. Ketika saya bertanya mengapa anak simpanse bisa mandiri dalam hitungan hari, sementara anak manusia bisa empat tahun belum jalan—atau bahkan gagal mandiri seumur hidup—kelas mendadak sunyi. Jawaban guru singkat dan defensif: “Kamu mau disamain sama kera?”
Diskusi ditutup. Taksonomi menang. Rasa ingin tahu kalah.
Padahal justru di situ letak kejanggalannya.
Primata yang Terlalu Sempurna untuk Hidup Sederhana
Secara biologis, manusia adalah primata dengan masa ketergantungan terpanjang dibanding spesies primata lain. Bayi simpanse, gorila, atau orangutan relatif cepat menguasai fungsi dasar: bergerak, makan, memanjat, buang kotoran. Tidak ada MPASI, tidak ada toilet training, tidak ada drama kurikulum.
Bayi manusia?
Ia lahir dengan spesifikasi rendah, firmware belum stabil, dan butuh patch bertahun-tahun.
Dalam antropologi evolusioner, ini dikenal sebagai secondary altriciality—bayi manusia lahir “belum selesai” karena otaknya berkembang besar dan kompleks, sehingga sisanya diserahkan ke lingkungan sosial (Portmann, 1941; Bogin, 1999).
Artinya:
manusia tidak dirancang untuk cepat mandiri, tapi untuk lama dibentuk.
Kera: Hierarki Selesai di Otot
Pada spesies kera, hierarki bersifat langsung dan fungsional: siapa kuat, dia dominan; siapa lemah, dia minggir; konflik selesai setelah satu dua pukulan atau teriakan.
Tidak ada: simpanse yang krisis identitas, gorila yang merasa burnout, orangutan yang denial tapi tetap datang kerja.
Hierarki kera stabil karena perannya sedikit.
Makan, bertahan, kawin, jaga wilayah.
Selesai.
Dalam istilah MOBA:
semua kera itu fighter–bruiser hybrid, tanpa role aneh-aneh.
Tidak ada healer.
Tidak ada support mental.
Tidak ada feeder yang tetap dipelihara tim demi “potensi”.
Manusia: Primata dengan Role Terlalu Banyak
Manusia justru sebaliknya.
Karena hidupnya terlalu kompleks, ia menciptakan role sosial untuk menyederhanakan kekacauan.
Maka lahirlah: profesi, sertifikat, jabatan dan hierarki simbolik.
Guru diklasifikasi: guru bersertifikat formal vs guru bersertifikat kemanusiaan.
Dokter diklasifikasi: senior yang teknisnya rapi vs junior yang empatinya hidup.
Padahal secara biologis sama.
Perbedaannya bukan di gen, tapi di posisi sosial dan regulasi emosi.
Inilah yang membuat manusia unik:
dua manusia dengan spesies sama bisa hidup seperti game yang berbeda.
MOBA sebagai Taksonomi Baru
Kalau kera hidup dalam mode classic survival, manusia hidup dalam MOBA sosial: Tank: orang yang menahan konflik keluarga. Healer: yang tugasnya menenangkan, bukan menyelesaikan. Marksman: presisi, hasil nyata, tapi rapuh. Jungler: kerja di balik layar, jarang dipuji. Feeder: niatnya baik, posisinya salah, tapi tetap ada di tim.
Lucunya, tidak ada bayi manusia yang lahir dengan role tetap.
Semua di-assign oleh lingkungan.
Inilah yang disebut Tomasello (2014) sebagai shared intentionality: manusia membentuk diri lewat relasi, bukan insting semata.
Dan di sinilah tragedinya: pada kera, yang tidak mampu akan tersisih; pada manusia, yang tidak mampu bisa bertahan lama tanpa fungsi, asal punya legitimasi.
Mengapa Anak Manusia Bisa Gagal Mandiri
Jawaban pendeknya:
karena manusia tidak hidup hanya dengan tubuh, tapi dengan makna.
Jawaban panjangnya:
karena perkembangan manusia bergantung pada: kualitas relasi awal (attachment), stabilitas emosi lingkungan, dan distribusi peran sosial.
Bogin (2009) menyebut manusia sebagai spesies dengan life history strategy paling panjang—masa belajar panjang, masa produktif panjang, dan masa rapuh juga panjang.
Kera tidak punya ini.
Makanya tidak ada simpanse yang depresi eksistensial.
Penutup: Taksonomi Tidak Pernah Cukup
Taksonomi biologi menjelaskan dari mana kita berasal.
Tapi antropologi dan psikologi menjelaskan mengapa kita bisa berakhir sejauh ini—ada yang jadi healer, ada yang jadi feeder, ada yang AFK tapi tetap minta dihormati.
Jadi ketika ada yang tersinggung saat manusia dibandingkan dengan kera, mungkin karena lupa:
secara biologis kita dekat, tapi secara sosial kita terlalu ribet.
Dan mungkin itu sebabnya: kera cepat mandiri, manusia lama dewasa, dan hanya manusia yang bisa hidup seumur hidup dengan role yang salah tapi tetap merasa benar.
Tidak ada simpanse jungler.
Tapi manusia?
Bisa jungler, bisa feeder, bisa komentator, bisa wasit—bahkan bisa bikin aturan game setelah kalah.
Itu bukan keunggulan mutlak.
Itu harga dari otak yang terlalu besar untuk hidup sederhana.
Sandaran Akademik (ringkas & relevan)
- Portmann, A. (1941). Die Tragzeiten der Primaten.
- Bogin, B. (1999). Patterns of Human Growth. Cambridge University Press.
- Bogin, B. (2009). Childhood, Adolescence, and Longevity.
- Dunbar, R. (1998). The Social Brain Hypothesis.
- Tomasello, M. (2014). A Natural History of Human Thinking. Harvard University Press.
0 komentar