Udel, Gen, dan Ayah yang Pergi Mancing
Catatan antropologis tentang kecerdasan, warisan, dan narasi yang kebablasan
Internet punya kebiasaan aneh: menyederhanakan hidup sampai tinggal dua kalimat, lalu menjadikannya hukum alam. Salah satu favoritnya adalah genetika receh. Anak pintar karena ibunya. Rambut keriting dari ayah. Bentuk hidung dari nenek. Dan kalau anaknya agak lemot… ya, jelas bukan dari saya, kata ibu-ibu di kolom komentar.
Konten ini tentu tidak dibuat oleh ayah. Ayah biasanya cuma lewat, senyum sinis setengah detik, lalu pergi mancing. Dalam antropologi domestik, itu bentuk tertinggi dari silent dissent. Tidak debat. Tidak klarifikasi. Lempar joran, cari spot yang gampang strike.
Saya selalu geli dengan klaim “anak mewarisi kecerdasan ibunya” yang beredar seperti sabda turun gunung. Klaim ini memang punya dasar biologis setipis tisu: beberapa penelitian genetika menyebut gen yang berkaitan dengan fungsi kognitif memang banyak berada di kromosom X (Deary et al., 2010). Tapi dari situ lalu meloncat ke kesimpulan bahwa “anak pintar karena ibu” itu lompatan akrobat tanpa matras.
Psikologi perkembangan sejak lama mengingatkan bahwa kecerdasan bukan paket JNE genetik yang tinggal diterima. Ia hasil interaksi panjang antara gen, lingkungan, nutrisi, stres, relasi emosional, dan kesempatan belajar (Bronfenbrenner, 1979). Artinya, gen itu benih, bukan takdir. Kalau benih unggul ditanam di tanah kering penuh teriakan dan ketidakamanan, hasilnya ya segitu-segitu juga.
Di titik ini saya jadi variabel pengganggu.
Ibu saya tidak lulus sekolah rakyat. Dalam narasi internet, ini seharusnya menjadi vonis kognitif. Tapi kenyataannya, saya bisa bersaing dengan mahasiswa kampus lain secara intelektual, belajar regulasi emosi (meski kadang bocor), dan yang paling tidak akademis tapi paling fungsional: pintar nyari duit. Kalau genetika bekerja seperti konten TikTok, saya harusnya sudah tersesat sejak paragraf pertama.
Antropologi punya istilah yang lebih jujur: cultural transmission. Nilai, kebiasaan, cara berpikir, dan daya juang diturunkan bukan lewat DNA, tapi lewat praktik sehari-hari (Bourdieu, 1986). Ibu yang tidak sekolah formal bisa sangat cerdas secara praktis: membaca situasi, mengatur emosi keluarga, bertahan hidup. Itu kecerdasan juga, hanya tidak masuk ranking PISA.
Masalahnya, internet suka kecerdasan yang bisa dipamerkan. Angka. Gelar. Tes IQ. Padahal psikologi modern sudah lama mengkritik konsep kecerdasan tunggal. Howard Gardner sejak 1983 sudah ribut soal multiple intelligences, tapi algoritma tetap lebih suka narasi satu jalur: pintar = akademik = genetik = ibu.
Di sini bias bekerja dengan cantik. Ada self-serving bias—kecenderungan mengklaim hal baik sebagai hasil diri sendiri dan hal buruk sebagai faktor eksternal (Miller & Ross, 1975). Anak pintar? Gen saya. Anak bandel? Lingkungannya. Anak gagal? Ayahnya. Psikolog menyebut ini mekanisme menjaga harga diri. Antropolog menyebutnya: manusia ya begitu.
Yang jarang dibicarakan adalah fakta paling membosankan: mayoritas manusia itu rata-rata. Banyak ibu cerdas melahirkan anak biasa saja. Banyak ayah biasa melahirkan anak luar biasa. Statistik selalu dingin dan tidak romantis (Plomin, 2018). Tapi statistik tidak laku jadi konten.
Di rumah-rumah, ayah yang melihat narasi ini biasanya memilih strategi coping paling sehat: pergi mancing, main bola, berenang, atau duduk di depan pintu sambil menatap kosong. Dalam psikologi, ini bisa dibaca sebagai emotion-focused coping yang jauh lebih murah daripada debat Facebook (Lazarus & Folkman, 1984).
Hidup ini sudah berat. Kerja capek. Uang susah. Hubungan sosial ribet. Lalu datang narasi genetika receh yang menyederhanakan segalanya seolah manusia cuma produk pabrik kromosom. Padahal manusia itu hasil tambal sulam: gen sedikit, lingkungan banyak, nasib entah berapa persen.
Maka mungkin sikap paling sehat adalah ini: jangan terlalu serius menelan narasi yang dibangun seenak udelnya. Kalau perlu, tiru ayah-ayah bijak itu. Senyum. Pergi mancing. Cari spot yang gampang strike. Atau duduk saja, menatap kosong, sambil menyadari bahwa kecerdasan bukan soal dari siapa kita turun, tapi bagaimana kita berjalan setelah lahir.
Dan kalau anakmu nanti pintar, syukuri saja.
Kalau biasa saja, peluk.
Kalau bandel, ajak berenang.
Gen boleh diwariskan.
Tapi hidup—itu dipelajari.
0 komentar