Nama Anak, Doa Panjang, dan Kenyataan: Mereka Tetap Bisa Kalah Ditubruk Anak Kambing
Kami memberi nama anak-anak kami dengan sungguh-sungguh.
Serius.
Penuh doa.
Penuh harapan.
Penuh kamus Arab yang dibaca setengah paham tapi sepenuh hati.
Nama pertama: Naureen Aulia Latief.
Lembut. Bersinar. Seperti calon manusia yang sejak lahir sudah siap menjadi penenang ruangan, peneduh konflik, dan mungkin moderator diskusi keluarga besar saat Lebaran.
Nama kedua: Haidar Malik Kasyafani.
Singa. Pemimpin. Tegas. Terlihat seperti anak yang kelak bicara seperlunya, berdiri paling depan, dan tidak goyah walau hidup dihantam cicilan.
Nama ketiga: Ashraf Zaydan Rasyid.
Mulia. Bertambah. Lurus.
Nama yang kalau dibaca pelan-pelan terasa mendekati sufistik. Seakan anak ini lahir sudah membawa kompas moral bawaan pabrik.
Di atas kertas, ketiganya tampak seperti proyek peradaban kecil.
Di dunia nyata?
Mereka hanyalah manusia kecil.
Yang bisa nangis karena sendoknya jatuh.
Yang bisa tantrum karena salah warna gelas.
Yang kalau ditubruk anak kambing… ya tumbang juga.
Nama adalah Doa. Tapi Doa Bukan Kontrak Kerja
Kami sadar, memberi nama itu sering kali bukan cuma mendoakan anak.
Kadang—tanpa sadar—itu juga menitipkan ego orang tua.
Nama jadi seperti pesan halus:
“Jadilah begini ya.”
“Jangan jadi begitu.”
“Papa mama dulu nggak sempat, kamu harus.”
Padahal anak-anak ini: belum paham makna “mulia”, belum mengerti “lurus”, apalagi “pemimpin”.
Mereka masih belajar: mengikat tali sepatu, berdamai dengan rasa kesal, mengerti bahwa dunia tidak selalu nurut.
Nama mereka berat.
Tubuh mereka kecil.
Emosi mereka belum stabil.
Dan di situlah benturan pertama terjadi.
Anak Kecil, Ego Besar (Orang Tuanya)
Yang sering memikul beban bukan anaknya—
tapi ekspektasi orang tuanya.
Kami ingin anak berani, tapi panik saat mereka melawan.
Kami ingin anak kritis, tapi tersinggung saat argumennya menang.
Kami ingin anak mandiri, tapi masih ingin didengar sebagai otoritas terakhir.
Konflik kecil terjadi: soal mie instan, soal jam tidur, soal uang jajan.
Rumah jadi arena latihan: disonansi, negosiasi, rekonsiliasi.
Kadang capek.
Kadang ribut.
Kadang salah satu kalah… lalu meluk, lalu minta uang.
Selesai.
Rumah yang Ramai, Bukan Rumah yang Sempurna
Kami akhirnya paham:
anak-anak ini tidak sedang ditakdirkan untuk menjadi arti nama mereka.
Mereka sedang: menjadi manusia, belajar menata emosi, belajar gagal tanpa ditinggal.
Nama hanyalah doa awal, bukan peta jalan kaku.
Doa itu lentur. Bisa direvisi oleh pengalaman.
Bisa dipelintir oleh tawa.
Bisa diselamatkan oleh pelukan.
Dan mungkin, justru di rumah yang: ramai, penuh debat receh, kadang sarkas, kadang lelah,
anak-anak belajar sesuatu yang tidak tertulis di nama mereka:
bahwa menjadi manusia itu tidak harus agung dulu—cukup jujur dan bertumbuh.
Epilog: Doa yang Lebih Sederhana
Hari ini, doa kami berubah bunyi.
Bukan lagi: “Jadilah ini, jadilah itu.”
Tapi:
“Semoga kamu selamat menjadi dirimu sendiri.”
“Kalau jatuh, ada rumah.”
“Kalau salah, ada ruang bicara.”
Dan kalau suatu hari nama kalian terasa terlalu berat,
boleh kok diturunkan dulu.
Ditaruh di meja.
Kita minum teh.
Ngobrol.
Karena sebelum menjadi Naureen, Haidar, atau Ashraf—
kalian adalah anak-anak.
Dan itu sudah cukup.
0 komentar