Jangkar yang Dicabut, Jangkar Hologram, Etika yang Dilukis Ulang
Catatan sinis tentang politisi, batin, dan alis yang tumbuh dari pensil
Saya selalu curiga pada sesuatu yang tampak rapi setelah sebelumnya gundul. Seperti beauty vlogger yang sengaja mencukur alis, lalu menggambarnya ulang dengan pensil mahal sambil berkata, “Ini lebih natural.”
Natural dari mana? Itu alis hasil rekayasa.
Begitu pula dengan sebagian politisi.
Mereka tidak kehilangan etika. Mereka mencabutnya dengan sadar, lalu memasang tiruan—bukan dari besi, tapi dari narasi. Inilah yang saya sebut jangkar hologram: terlihat ada, tampak etis, tapi tidak benar-benar menahan kapal dari hanyut.
Awalnya, jangkar batin itu ada. Semua orang—bahkan politisi paling licin sekalipun—pernah punya batas. Batas malu. Batas etika. Batas “ah, ini kebangetan.” Dalam psikologi moral, ini disebut moral compass, kompas batin yang memberi arah ketika tidak ada polisi, kamera, atau auditor (Kohlberg, 1981).
Masalahnya, kompas itu berat. Dan berat itu menghambat laju.
Di titik tertentu, jangkar dicabut. Bukan karena hilang, tapi karena dianggap noise. Mengganggu manuver. Mengurangi peluang. Terlalu banyak mikir. Maka, dicabutlah jangkar itu. Kapal pun melaju kencang—menabrak apa saja, dari regulasi sampai rasa kemanusiaan.
Namun manusia tetap manusia. Ia butuh merasa baik tentang dirinya sendiri. Maka dipasanglah jangkar pengganti. Bentuknya mirip etika, tapi fungsinya beda. Ini jangkar hologram.
Secara bentuk, ia meyakinkan:
- Buka usaha.
- Cipta lapangan kerja.
- Bicara pembangunan.
- Pakai istilah “hilirisasi”, “ketahanan”, “kepentingan nasional”.
Secara batin?
Kosong.
Dalam teori moral licensing (Merritt, Effron, & Monin, 2010), ini mekanisme klasik: setelah melakukan sesuatu yang “baik” atau terlihat baik, seseorang merasa punya lisensi untuk mengabaikan kesalahan yang lebih besar. Uang dari korupsi dicuci menjadi usaha. Usaha dijadikan bukti moral. Selesai. Alis sudah tergambar rapi.
Secara hukum, mungkin sah.
Secara batin, tidak pernah benar-benar duduk.
Yang menarik, jangkar hologram ini sering disertai argumen defensif:
“Yang lain juga sama.”
“Ini kan politik.”
“Jangan bawa perasaan.”
Inilah yang oleh Albert Bandura (1999) disebut moral disengagement: proses kognitif untuk memutus hubungan antara tindakan dan rasa bersalah. Etika tidak dihapus, hanya dipindahkan ke folder arsip—jarang dibuka, tapi masih dipakai kalau dibutuhkan untuk ceramah.
Saya tidak anti-politik. Dagang juga politik. Rumah tangga juga politik. Tapi ada beda antara politik sebagai seni negosiasi dan politik sebagai seni mematikan batin tanpa bunyi.
Yang membuat sinis bukanlah kelicikan mereka, tapi ketekunan mereka menyulap dosa menjadi narasi kebajikan. Seolah-olah dengan membuka usaha, sejarah bisa di-reset. Seolah dengan menyebut “kerja keras”, asal-usul modal bisa dilupakan. Seolah jangkar yang dilukis itu benar-benar menahan kapal.
Padahal tidak.
Kapal tetap hanyut.
Hanya saja, hanyutnya sambil merasa bermoral.
Di titik ini, saya paham kenapa sebagian orang memilih tetap memegang jangkar lama—meski berat, meski membuat lambat. Karena jangkar sejati memang tidak estetis. Ia berkarat. Bau laut. Berat. Kadang bikin kita tidak bisa ke mana-mana.
Tapi justru itu gunanya.
Jangkar bukan untuk gaya.
Ia ada untuk mencegah kita terseret arus sambil merasa “baik-baik saja”.
Dan mungkin, di dunia yang gemar menggambar ulang alis etika ini, sikap paling waras adalah mengakui:
lebih baik alis tipis tapi asli,
daripada tebal, simetris,
dan hilang begitu kena air hujan realitas.
0 komentar