Ada scaffolding yang dicatat, ada yang disulap jadi cerita.
Epifaninya sebenarnya sederhana, bahkan terlalu sederhana sampai luput dibahas di kelas sejarah: Tembok Besar Cina tidak bikin saya bingung karena saya tahu prosesnya. Dibangun lintas dinasti, lintas generasi, ditambal, disambung, dirawat, runtuh, dibangun lagi. Maka hari ini ia megah tapi tidak mistis. Kagum, iya. Kaget, tidak.
Sebaliknya, di Jawa, bangunan besar hampir selalu selesai dalam satu malam.
Borobudur? Jin.
Candi Prambanan? Bandung Bondowoso lembur semalam.
Syaratnya cuma satu: jangan ada yang gagal fokus sebelum ayam berkokok.
Pantesan.
Orang Jawa memang terkenal jago bangunan. Bahkan hantunya pun arsitek dan teknik sipil. Jin Jawa bukan tipe horor jumpscare. Mereka kontraktor. Paham deadline. Paham manajemen proyek. Ada mandor gaibnya. Ada spesialis batu. Ada bagian logistik. Cuma satu kelemahannya: gampang ke-trigger sama suara ayam.
Ini bukan soal mistik sebenarnya. Ini soal budaya yang tidak sabar dengan proses panjang.
Antropolog Jack Goody (1986) pernah menulis bahwa masyarakat dengan tradisi lisan kuat cenderung merangkum sejarah dalam cerita simbolik, bukan kronologi teknis. Proses panjang itu membosankan. Yang diingat justru dramanya. Maka ratusan tahun kerja kolektif disederhanakan jadi satu malam penuh jin. Bukan karena orang dulu bodoh, tapi karena cerita harus ringkas, melekat, dan bisa diceritakan ulang sambil ngopi.
Di Cina, sejarahnya ditulis. Di Jawa, sejarahnya diceritakan.
Yang satu pakai arsip. Yang satu pakai mitos.
Dan dampaknya terasa sampai hari ini. Kita sering kagum berlebihan pada hasil, lalu malas menghitung proses. Kalau sesuatu tampak rapi, kita cari sebab yang instan: bakat, turunan, wahyu, jin, atau “dia emang dari sananya begitu.”
Padahal kalau mau jujur, tidak ada candi yang jadi tanpa keringat. Tidak ada manusia yang rapi tanpa ribut batin. Tidak ada tembok besar yang berdiri tanpa generasi yang sabar nambal batu sambil mengeluh.
Bedanya cuma satu:
ada scaffolding yang dicatat, ada yang disulap jadi cerita.
Dan mungkin, di situlah humor sekaligus tragedinya: kita hidup di budaya yang lebih suka percaya jin lembur semalam daripada manusia tekun puluhan tahun. Karena yang pertama terasa
0 komentar