Si Jorang dan Absurditas Social Comparison di Kaki Gunung Sawal

by - 3:04 PM

Ada banyak perkembangan istilah di menara gading akademis untuk memahami absurditas primata bipedal. Namun, di kaki Gunung Sawal, istilah-istilah itu mewujud dalam realitas aspal yang jauh lebih jenaka.

Kerap terdengar di sudut sebuah rumah reyot, narasi Crab Mentality (mental kepiting) dipraktikkan secara organik. Sang penghuni kepanasan, bukan karena suhu khatulistiwa, melainkan karena tetangganya baru saja membeli kipas angin baru. Tentu saja, baling-baling kipas angin itu akan geleng-geleng pasrah, karena angin sekencang apa pun tidak akan pernah mampu mendinginkan Amigdala sang tetangga rumah reyot yang sedang mengalami hijack (pembajakan emosi) akibat rasa iri.

Pemilik rumah reyot itu sedang melakukan manuver Upward Comparison yang absurd. Ia mengeluh bahwa kipas angin tersebut tidak membawa sang tetangga menuju homeostasis ibadah yang paripurna dibandingkan dirinya yang tinggal di rumah reyot, pasrah menunggu angin derma kosmik dari Tuhan.

Mendengar dirinya di-julid-in sedemikian rupa, sang tetangga pemilik kipas angin pun murka. Ia melakukan serangan balik berupa Downward Comparison yang tak kalah absurd. Dengan suara melengking, ia berteriak: "Kumaha aing we atuh Ceu! Aing nu meuli kipas, maneh nu kapanasan. Geura daftar ka Bedah Rumah ANTV geura!" (Suka-suka saya dong, Ceu! Saya yang beli kipas, kamu yang kepanasan. Buruan sana daftar Bedah Rumah ANTV!).

Tepat di puncak perseteruan absurd tersebut, saya dan kawanan liar lainnya melintas. Sebagai mamalia kecil yang perutnya lebih akrab dengan begundal Ghrelin (hormon lapar) dan Amigdala yang rentan korsleting, kami merasa aneh melihat dua Sapiens dewasa—yang secara biologi seharusnya sudah Aqil Baligh—malah adu urat leher hanya karena masalah putaran dinamo kipas angin.

Maka, saya dan kawanan tertawa riang. Kami meledek perseteruan itu dengan agresi verbal yang tak kalah edan: "Biarin aja Ceu dia punya kipas! Biar teu hareudang pas ditumpakan!" (Biarin aja dia punya kipas, biar nggak kepanasan pas urusan olah syahwat di ranjang!).

Mendengar itu, dua mamalia dewasa yang sedang bertengkar hebat tadi mendadak sepakat melakukan gencatan senjata ludah. Mereka berbalik arah, bersatu, dan memarahi kami—para begundal cilik yang kelakuannya jauh ka bedug (jauh dari adab musala).

Dengan mudahnya, saya langsung mendapat gelar kehormatan: "Maneh, jorang!" (Kamu, jorok/mulut kotor spesialis 'Sekwilda'—Sekitar Wilayah Dada).

Kawanan saya yang lain pun tak luput dari panen label absurd: Si Baong (nakal), Si Balaga (belagu), Si Torokmong (wajah cemong), Si Bangkar Warah (jauh dari adab/kurang ajar), dan Si Gelo (mamalia kecil yang butuh psikiater secepatnya). 🤣

Saat itu, saya bersikap persis layaknya toddler saya saat ini. Agresi verbal itu menyenangkan! Sensasi melanggar aturan itu menebalkan saraf jati diri di Ventral Striatum (pusat imbalan) dan Medial Prefrontal Cortex saya. Sebelum kelak saya mendapatkan baju kebesaran moral seperti "Si Baik Cucu Abah Haji", menjadi jorang adalah jalan ninja ala Naruto kecil untuk memonopoli perhatian desa.

Apalagi, ada paradoks yang membingungkan dari para Sapiens dewasa itu. Di satu sisi mereka memarahi kami, tapi di sisi lain, saat mereka memancing ucapan kotor seperti "Meser ikan asin, Ceu!", mereka akan sangat kecewa jika terjadi Prediction Error (jawaban yang terlalu normal). Mereka baru puas dan tertawa riang ketika saya menambahkan punchline haram: "Iya, ikan asin yang ada kanjutnya!" (Ikan asin yang ada skrotumnya).

Tawa mereka itulah yang membuat Mirror Neuron saya semakin cerah menyerap ilmu slapstick jalanan.

Waktu berlalu, dan semoga saja kawanan kecil saya yang lain sudah mendapat "baju kebesaran" mereka masing-masing, walau mungkin terlambat. Si Torokmong nyatanya perlahan sudah glowing karena tuntutan evolusi berburu pasangan. Ia harus menaburkan pupur Bedak Badag Saripohaci tebal-tebal, yang sayangnya justru sukses membuat wajahnya mirip aktor pantomim yang salah panggung.

Di kehidupan saat ini, sebagai Sapiens yang sudah memiliki sarang sendiri, saya sadar bahwa saya tidak bisa sepenuhnya terlepas dari sindrom Downward dan Upward Social Comparison. Ini adalah firmware bawaan pabrik. Namun, saya kini menikmatinya murni sebagai katarsis internal. Sindrom itu tidak lagi saya agresikan secara nyata ke bipedal lain, seperti kisah perseteruan berdarah antara rumah reyot dan kipas angin itu.

Toh, kalau saya benar-benar ingin menghilangkan kebiasaan "melihat ke atas dan ke bawah" ini—mematikan total fungsi Downward dan Upward Comparison demi menjadi entitas suci—satu-satunya cara logis adalah saya harus melakukan 'Uzlah (mengasingkan diri) lahir dan batin, menjauh dari peradaban daster, aspal, dan WiFi.

Dan jujur saja, saya belum siap untuk itu.


You May Also Like

0 komentar