Tombak yang Salah Sasaran: Catatan Lapangan tentang Moral yang Terlalu Rajin

by - 12:00 PM

Di negeri ini, ada kalimat-kalimat tertentu yang tidak pernah benar-benar salah, tapi selalu dianggap kurang ajar. Kalimat yang kalau diucapkan pelan-pelan, nadanya biasa saja, namun efeknya seperti mengetuk gelas kristal di ruang tamu keluarga besar: semua langsung menoleh, sebagian tersinggung, sisanya bersiap memberi ceramah.

Saya pertama kali sadar pola ini bukan dari buku filsafat atau jurnal antropologi, tapi dari suasana pengajian, resepsi nikah, dan obrolan warung kopi yang tiba-tiba senyap ketika seseorang nyeletuk terlalu jujur. Bukan jujur yang kasar—justru jujur yang datar. Dan di situlah masalahnya.

Antropolog Clifford Geertz (1960) pernah menulis bahwa agama di masyarakat Jawa bukan sekadar sistem kepercayaan, melainkan sistem makna yang menjaga keteraturan sosial. Masalahnya, ketika makna berubah menjadi pagar, dan pagar berubah jadi pentungan, maka yang diserang bukan perilaku, tapi batin orang yang berbeda tafsir.

Saya pernah bilang, dengan nada hampir meminta maaf, bahwa tahlilan itu tidak wajib. Bukan haram, bukan sesat, hanya tidak wajib. Reaksi yang muncul seperti saya baru saja mengumumkan bahwa matahari terbit dari barat. Padahal dalam fiqh klasik, perdebatan soal ini sudah selesai sejak lama. Tapi di ruang sosial, kewajiban tidak lahir dari dalil, melainkan dari kebiasaan yang terlalu lama tidak ditanya.

Sosiolog Émile Durkheim (1912) menyebut ritual sebagai lem sosial. Ia menyatukan, tapi juga menekan. Begitu ritual disentuh secara rasional, yang goyah bukan agamanya, melainkan rasa aman kolektif. Maka tombak diarahkan bukan ke argumen, tapi ke niat si pengucap: “Kamu ini maksudnya apa?”

Hal yang sama terjadi ketika seseorang memilih menikah tanpa pesta. Padahal pesta itu tradisi sosial, bukan rukun nikah. Tapi dalam praktik, pesta berubah menjadi bukti moral. Tidak menggelarnya dianggap kekurangan niat, kurang syukur, atau lebih parah: pelit. Di sini, pernikahan bukan lagi kontrak sakral dua manusia, tapi proyek legitimasi sosial.

Pierre Bourdieu (1984) menyebut ini sebagai symbolic capital: kehormatan yang dibeli lewat pengakuan publik. Maka pesta bukan soal bahagia, tapi soal terlihat bahagia. Kalau tidak terlihat, dianggap tidak sah.

Lalu ada tubuh. Tubuh yang harus membungkuk. Tubuh yang harus merayap. Ketika bertemu kiai atau pembesar, ada ekspektasi fisik tertentu: lutut menekuk, punggung tunduk, suara mengecil. Padahal dalam etika Islam klasik, penghormatan itu soal adab, bukan koreografi. Tapi dalam masyarakat hierarkis, tubuh menjadi bahasa kepatuhan.

Michel Foucault (1975) menjelaskan bagaimana kekuasaan bekerja paling efektif bukan lewat hukuman, tapi lewat disiplin tubuh. Kita diajari bukan hanya apa yang harus dipikir, tapi bagaimana cara berdiri, berjalan, dan menatap. Maka orang yang berdiri tegak sering dianggap sombong, padahal bisa jadi ia hanya lupa skenario.

Soal rokok, narasinya lucu sekaligus tragis. Di satu sisi, perokok dicap minim empati, nalarnya rusak, dan merugikan publik. Di sisi lain, rokok dijual legal, iklannya maskulin, pajaknya besar, dan kemasannya jujur sampai ke tulang: “Ini bisa membunuhmu.” Anehnya, justru kejujuran itulah yang tidak dipercaya. Psikolog Daniel Kahneman (2011) menjelaskan bahwa manusia tidak selalu rasional; kita memilih kenyamanan kognitif daripada konsistensi logis. Maka merokok sambil tahu risikonya bukan anomali, tapi standar.

Hal serupa terjadi pada qunut subuh, pacaran, dan gamer. Qunut diperlakukan seperti kartu identitas ideologis, padahal ia cuma cabang fiqh. Pacaran digeneralisasi sebagai dosa tanpa konteks relasi sehat. Gamer dilabeli antisosial, padahal riset menunjukkan banyak interaksi sosial justru terjadi di ruang digital (Gee, 2007). Tapi narasi yang disukai masyarakat bukan yang kompleks, melainkan yang mudah diwariskan.

Yang paling menyedihkan adalah glorifikasi kegagalan yang dipoles jadi kebanggaan. “Kajeun tekor asal sohor.” Seolah terkenal adalah nilai itu sendiri, meski kosong. Jean Baudrillard (1994) menyebut ini sebagai simulacra: citra yang lebih penting daripada realitas. Terkenal tanpa isi tetap dirayakan, asal viral. Dalam dunia seperti ini, kebodohan bukan lagi aib, tapi strategi.

Maka setiap kali ada kalimat sederhana dilontarkan—tanpa teriak, tanpa makian—tombak moral langsung terhunus. Bukan karena kalimat itu salah, tapi karena ia mengganggu ketertiban simbolik. Ia memaksa orang berpikir, dan berpikir itu melelahkan.

Di masyarakat yang lelah, moral sering dijadikan jalan pintas. Tidak untuk memperbaiki diri, tapi untuk menertibkan orang lain. Dan di situlah kita hidup hari ini: bukan kekurangan nilai, tapi kelebihan kepastian palsu.

Tombaknya bukan salah. Yang salah adalah arah lemparannya.

You May Also Like

0 komentar