Pisau Bedah dari Kanada dan Senyum yang Dijual per Kelas

by - 12:00 AM

Catatan Antropologi Kesehatan dari Ruang Tunggu yang Terlalu Jujur

Saya duduk di ruang tunggu rumah sakit swasta, menunggu operasi sesar. Istri saya di dalam, bayi kami sebentar lagi keluar, dan saya—seperti warga negara yang taat pajak tapi sering kesal—mencari satu hal yang paling mahal di negeri ini: kepastian. Bukan kepastian sembuh, bukan kepastian hidup-mati. Kepastian bahwa ketika saya bertanya, akan ada manusia yang menjawab tanpa mendengus.

Setiap jam, perawat datang. Menyapa. Mengecek. Pergi. Ulangi. Tidak ada yang istimewa, kecuali satu hal: semua ini terasa tenang. Dan ketenangan itu, rupanya, sudah saya bayar di muka.

Di titik inilah antropologi kesehatan mulai bekerja—bukan di jurnal, tapi di dada.

Saya lalu teringat cerita kakak saya. Melahirkan di bidan kompleks. Kontraksi hebat, bidan malah asyik ngobrol dengan pacarnya. Lebih jauh lagi, cerita ibu saya: zaman ketika rumah sakit bersalin nyaris mitos, dan dukun bayi adalah negara dalam versi lokal. Angka kematian ibu dan bayi tinggi, tapi bayarannya alakadarnya. Nyawa murah, karena memang sistem belum kenal harga.

Sekarang kita hidup di era modern. Rumah sakit ada di mana-mana. Tapi kelasnya juga ada di mana-mana.

BPJS.
Pribadi kelas 3.
Pribadi kelas 2.
Pribadi kelas 1.
VIP—yang tarifnya setara mobil bekas layak pakai.

Saya sempat nyeletuk ke bagian admission, setengah bercanda setengah serius:
“Kalau VIP itu apa bedahnya pakai pisau dari Kanada? Anestesinya beda? Dokternya impor dari Uzbekistan?”

Kami tertawa. Karena kami sama-sama tahu jawabannya.

Tidak ada perbedaan tindakan medis inti. Operasi tetap operasi. Anestesi tetap anestesi. Pisau bedah tidak berubah kewarganegaraan. Secara etika, itu konsensus global. WHO sudah lama menekankan equity of care—kesetaraan tindakan klinis tanpa diskriminasi kelas (WHO, 2010). Kode etik profesi pun jelas: nyawa tidak boleh bertingkat.

Tapi antropologi tidak berhenti di meja operasi. Ia hidup di sela-sela senyum.

Yang berbeda bukan teknik, melainkan ruang emosional. Waktu. Nada suara. Kesabaran menjawab pertanyaan receh jam dua pagi. Dalam istilah Pierre Bourdieu, ini soal capital—bukan ekonomi saja, tapi capital simbolik dan emosional (Bourdieu, 1986). Dan di sistem kesehatan kita, capital itu dijual sebagai add-on.

Di kelas BPJS, pasien menumpuk. Administrasi panjang. Tenaga kesehatan bekerja dalam mode bertahan hidup. Empati dipadatkan, bukan karena tidak ada, tapi karena habis dibagi. Arlie Hochschild menyebut ini emotional labor—kerja emosi yang menuntut perasaan sebagai alat produksi (Hochschild, 1983). Bedanya, di sini, emosi tidak selalu dibayar layak.

Maka jangan heran jika senyum menjadi barang langka. Bukan karena nakes jahat, tapi karena sistem menuntut mereka profesional tanpa memberi ruang bernapas.

Naik ke kelas pribadi, ritme melambat. Pasien berkurang. Administrasi lebih ramah. Nakes bisa duduk sebentar. Menjelaskan ulang. Tersenyum tanpa dikejar bel. Di kelas VIP, yang dibeli bukan medis, tapi ketenangan relasional. Ini yang oleh antropolog disebut care as a social relationship, bukan sekadar intervensi biologis (Kleinman, 2009).

Lucunya, negara tetap bersikeras bahwa semua ini “demi rakyat”. Tapi rakyat belajar cepat. Mereka tahu, di negeri ini, banyak hal tidak ilegal—hanya tidak mungkin tanpa jalur alternatif. Mau bayar pajak kendaraan tanpa KTP pemilik? Calo. Mau cepat urus administrasi? Jasa. Mau empati penuh di rumah sakit? Upgrade kelas.

Ambiguitas kebijakan melahirkan normalisasi kejahatan kecil. Bukan karena warga bejat, tapi karena sistem membiasakan kompromi. James C. Scott menyebutnya everyday forms of resistance—cara-cara kecil warga bernegosiasi dengan negara yang ribet (Scott, 1985). Bedanya, di sini, yang dilawan bukan tirani, tapi absurditas.

Di ruang tunggu ini, saya sadar satu hal: kesehatan bukan hanya soal tubuh, tapi soal rasa diperlakukan sebagai manusia. Dan sayangnya, rasa itu punya tarif.

Maka ketika saya bercanda soal bayi saya yang mungkin berdoa ingin lahir di Finlandia, itu bukan anti-nasionalisme. Itu kelelahan eksistensial warga negara. Capek hidup di sistem yang membuat empati terasa seperti fitur premium.

Tapi kami tetap tertawa. Karena kalau tidak ditertawakan, yang tersisa hanya amarah tanpa bahasa. Dan antropologi, sejak awal, lahir justru dari kemampuan melihat yang absurd sebagai data.


Sandaran Akademik (untuk yang mau pura-pura serius):

  • World Health Organization. Health Systems Financing. 2010.
  • Bourdieu, P. The Forms of Capital. 1986.
  • Hochschild, A. The Managed Heart: Commercialization of Human Feeling. 1983.
  • Kleinman, A. Caregiving as Moral Experience. 2009.
  • Scott, J. C. Weapons of the Weak. 1985.


You May Also Like

0 komentar