Eyang Anta, Mitologi Kokod Monongeun, dan Dosa Turunan Kaum Pekerja Keras

by - 9:00 PM

Dua panggilan video call dari Emak siang ini terpaksa diabaikan oleh sistem. Bukannya durhaka, tapi saya sedang berada di garis depan pertempuran: diplomasi daster di "Tanggal Kembar". Di medan aspal e-commerce, tanggal kembar adalah momen di mana algoritma tidak mengenal ampun dan Prefrontal Cortex dipaksa rendering tanpa henti.

Baru setelah masuk waktu Ishoma (Istirahat, Sholat, Makan), saya menelepon balik. Saya langsung mengawali percakapan dengan permohonan maaf karena telah mengabaikan dua panggilan yang derajatnya setara dengan intervensi kosmik tersebut. Saya khawatir Emak menggunakan kacamata Su'udzon dan memvonis saya sedang dalam proses loading menjadi Malin Kundang yang mengabaikan sang induk.

Ternyata beliau sangat maklum. Emak sedang berada di fase variabel L (Lonely). Di siang hari yang terik, kampung Emak biasanya sepi karena kawanan mamalia bipedal di sana lebih memilih bersembunyi di gowok (sarang/kamar di lereng) masing-masing.

Untuk mencairkan suasana, beliau menanyakan kabar aspal perniagaan: "Kumaha dagang teh?"

Saya menjawab datar dengan template afirmasi positif kaum pedagang: "Dagang mah kitu weh, Mak. Kalau nggak rame, ya rame banget." Namun, Emak adalah Apex Predator yang paham betul nada sarkas anak bungsunya. Dan entah dari mana asalnya, demi membunuh rasa kesepiannya siang itu, ia tiba-tiba melakukan manuver absurd: menyalahkan leluhur kami. Ia memancarkan radiasi Kortisol ke masa lalu layaknya cucu dari masa depan yang sedang memarahi Nobita karena terlalu malas.

Saya mengerutkan dahi. Apa hubungannya algoritma TikTok Shop yang sedang sepi dengan Uyut, atau bahkan buyut di atas Uyut?

Emak pun mulai mendongeng.

Dulu, Eyang Perempuan kita konon adalah Sapiens yang sangat sakti. Beliau memiliki teknologi pangan yang melampaui masanya: cukup memasak satu bulir beras, dan beras itu akan memuai membesar seukuran labu kuning. Cukup untuk memberi makan seluruh kawanan di gowok.

Suatu hari, karena Eyang Perempuan juga entitas berbasis karbon yang tunduk pada hukum ekskresi, ia harus pergi ke toilet (sungai). Ia berpesan kepada suaminya, Eyang Sumanta (kita panggil saja Eyang Anta), untuk menjaga hawu (tungku) dan memberikan satu larangan absolut: Jangan pernah membuka tutup pendil (periuk) selagi dimasak!

Dasarnya Eyang Anta, saat itu Prefrontal Cortex-nya mungkin sedang mode sleep karena terlalu sering rebahan di paranje (kandang ayam). Bagi laki-laki purba, sebuah larangan adalah tantangan. Dan dengan penyakit Kokod Monongeun (tangan gatal yang tidak bisa diam), ia nekat membuka tutup pendil tersebut.

Seketika, Magic is canceled! Satu butir beras ajaib yang sedang memuai itu langsung mengalami downgrade biologis, kembali menjadi sebutir padi yang masih terbungkus kulit gabah.

Saat Eyang Perempuan kembali dan mendapati error pada sistem beras ajaibnya, ia murka besar. Ia langsung menjatuhkan vonis turun-temurun: "Anak keturunan kita akan capek seumur hidup gara-gara 'kokod monongeun' sia, Anta! Keturunan kita harus 'Naktak Mundak'!"

(Naktak Mundak: Mencari derma dengan taktak (bahu) dan mundak (pundak), memanggul beban, menjadi kuli cangkul, membuka lahan, atau ngagaru—membajak sawah dengan tenaga kerbau).

Mendengar dongeng itu, saya tertawa lepas. Narasi simbolik ini epik sekali! Ini adalah versi kearifan lokal dari kisah Adam yang memetik buah Khuldi di Taman Eden. Bedanya, jika Adam diturunkan dari surga, Eyang Anta dikutuk untuk selamanya akrab dengan lumpur dan cangkul. Dan kita sebagai keturunannya "sepakat" secara aklamasi bahwa sang Adam dan Eyang Anta-lah kambing hitam dari semua rasa lelah kita hari ini. 🤣

Tapi pisau analisis Sosiologi Slapstick saya segera membedah mitologi ini.

Cerita itu murni mahakarya Eyang Anta dalam meretas Ventral Striatum (pusat motivasi) keturunan genetiknya agar aya kadaek (mau bergerak dan memiliki kemauan). Minimal, agar anak cucunya mau memulung bolongoh (sisa petai) bekas gigitan lalay badot (codot) untuk sarapan pagi.

Karena mari kita logikakan: jika benar Eyang Perempuan memiliki skill multiplying karbohidrat sesakti itu, ia sudah jelas melampaui evolusi Homo Habilis dan Homo Sapiens di sabana peradaban pedesaan yang absurd itu.

Bahasa simbolik "Kutukan Eyang Anta" diciptakan karena ia jauh lebih efektif untuk situasi ekologis saat itu. Di masa lalu, keturunan genetik mereka hidup di era jauh ka bedug (jauh dari pusat adab/pendidikan). Sekolah Rakyat adalah ilusi, dan mengandalkan otot adalah kebenaran absolut.

Eyang Anta adalah seorang jenius pedagogi. Ia menyuntikkan etos kerja dan semangat survival kepada genetik absurdnya di kaki Gunung Sawal tanpa perlu kuliah motivasi atau slide presentasi berwarna hijau sage. Ia cukup membuat sebuah Glitch Kognitif: menyalahkan kokod monongeun-nya sendiri demi merasionalisasi mengapa anak cucunya harus berkeringat memeras bumi.

Sebelum menutup telepon, saya berterima kasih kepada Emak. Dari cerita slapstick barusan, Amigdala saya kembali tenang. Saya jadi punya landasan filosofis untuk terus naktak mundak memanggul karung daster dan berjuang di sabana algoritma selama firmware tubuh ini masih menyala.

Saya sadar, saya tidak sepandai Eyang Anta dalam meracik narasi simbolik ke anak-anak saya kelak. Timeline kehidupan saya terlalu linear dan membosankan: dzikir, pikir, ikhtiar, lalu berharap limpahan Rahman dan Rahim Allah Kosmik. Tanpa perlu repot-repot menciptakan mitologi pendil ajaib dan kutukan tangan gatal untuk sekadar menyuruh anak cucu bangun pagi.

You May Also Like

0 komentar