Etalase Bernama “dr. Daniel” dan Dapur Bernama “Bu Neni”
Catatan Lapangan dari RS Swasta Mahal, RSUD, dan Uang Tunai 35 Juta yang Menenangkan Batin
Pendahuluan: Kelahiran, Uang Tunai, dan Rasa Aman
Bayi saya lahir. Ibunya selamat.
Sesuai ekspektasi saya.
Kenapa bisa sedingin itu menyimpulkan peristiwa biologis paling emosional dalam hidup manusia?
Jawabannya sederhana dan sangat tidak spiritual:
karena saya bayar 35 juta di awal.
Ini bukan kesombongan. Ini data lapangan.
Dalam antropologi kesehatan, rasa aman pasien tidak hanya ditentukan oleh kompetensi medis, tetapi oleh akses, prediktabilitas, dan posisi tawar (Farmer, 2004). Dan uang tunai—di Indonesia—adalah bahasa universal yang dipahami semua sistem.
Etalase RS Swasta: Nama Keren sebagai Infrastruktur Psikologis
Di RS swasta mahal, saya menemukan fenomena menarik:
- Dokter: dr. Daniel, dr. David, dr. Janeth
- Frontline: ramah, bersih, rapi, beraksen global
- Suhu: dingin sampai tulang merasa sedang dihukum dosa masa lalu
Nama-nama ini bekerja bukan sebagai identitas personal, tapi sebagai simbol modernitas medis.
Dalam kajian Pierre Bourdieu (1986), ini disebut symbolic capital:
bukan sekadar kemampuan nyata, tapi kesan kompeten yang dipercaya sebelum diuji.
Nama “dr. Daniel” membuat pasien berpikir:
“Oh, ini pasti beres.”
Padahal, pisau bedahnya sama. Ilmunya lokal. Manusianya Indonesia.
Lapisan Bawah RS Swasta: Dapur yang Tidak Dipamerkan
Turun satu lapisan.
- OB: Muhammad Fatah
- Suster: Neni
- Bidan: Sunarti
Mereka tidak ada di brosur.
Tidak muncul di baliho.
Tidak “keminggris”.
Tapi merekalah yang:
- pasang infus
- cek tekanan darah
- ganti perban
- jaga malam
Secara antropologis, ini adalah hidden labor dalam sistem kesehatan (Horton, 2016):
kerja paling vital, paling melelahkan, tapi paling tidak terlihat.
RS swasta tidak menghapus lokalitas — mereka menyembunyikannya di dapur.
RSUD: Semua Dapur, Tidak Ada Etalase
Berbeda dengan RSUD.
Di RSUD:
- Dokter: dr. Bambang, dr. Ahmad, dr. Suroto
- Perawat: lokal
- Sistem: terbuka
- Stres: kolektif
- Antrean: seperti simulasi akhir zaman versi BPJS
Tidak ada etalase.
Semua orang terlihat.
Semua kelelahan terbuka.
RSUD adalah realitas telanjang sistem kesehatan publik.
Paul Farmer (2005) menyebut ini sebagai structural violence:
bukan karena orangnya jahat, tapi karena sistemnya kekurangan sumber daya, waktu, dan ruang bernapas.
Uang Tunai sebagai Anestesi Kecemasan
Saya jujur saja:
kalau ini BPJS, saya pasti tidak setenang ini.
Bukan karena dokter BPJS lebih bodoh.
Bukan karena perawat RSUD tidak manusiawi.
Tapi karena:
- ketidakpastian
- antrean
- cerita horor
- dan pengalaman kolektif tentang “nanti dulu ya, Pak”
Dalam antropologi, ini disebut anticipatory anxiety (Kleinman, 1980):
kecemasan bukan karena kejadian, tapi karena bayangan kemungkinan buruk.
Uang tunai 35 juta itu, secara medis, mungkin tidak menyembuhkan apa-apa.
Tapi secara psikologis, ia bekerja seperti obat penenang dosis tinggi.
Kesimpulan: Bukan Soal Lebih Baik, Tapi Lebih Tertata
RS swasta mahal:
- punya etalase global
- dapur lokal
- rasa aman terkurasi
RSUD:
- semua dapur
- semua terlihat
- semua jujur
Dan saya? Saya tidak sedang memuja RS swasta. Saya hanya mencatat bagaimana sistem bekerja.
Bayi lahir. Ibu selamat.
Dan saya bisa tertawa sambil mikir:
“Oh… ternyata yang bikin tenang itu bukan iman, tapi DP.” 🤣
Sandaran Akademik (Ringkas, tapi Sah)
- Bourdieu, P. (1986). The Forms of Capital.
- Farmer, P. (2004). An Anthropology of Structural Violence.
- Farmer, P. (2005). Pathologies of Power.
- Kleinman, A. (1980). Patients and Healers in the Context of Culture.
- Horton, S. (2016). They Leave Their Kidneys in the Fields.
0 komentar