Netral Itu Mencurigakan: Catatan Lapangan dari Timeline yang Terlalu Manusiawi
Pagi itu saya berdiri di posisi paling aneh di media sosial: tidak marah, tidak membela, tidak juga ikut melempar batu. Posisi ini membuat dua pihak yang sedang ribut sama-sama bingung. Yang satu bertanya dengan nada kecewa, “kok kamu nggak belain?” Yang lain menatap dengan curiga, “kok kamu nggak ikut nyerang?” Saya cuma bisa mengangkat bahu, seperti warga kampung yang lewat tawuran sambil bawa galon.
Epifani receh ini muncul dari mengamati satu akun gado-gado: pagi slapstick, siang filsafat, sore jorok, malam ngehina otoritas, lusa nyenggol iman. Akun semacam ini anehnya justru subur. Ia tidak konsisten, tapi hidup. Ia tidak rapi, tapi terasa manusia. Namun di situlah drama dimulai: bukan pada tulisannya, melainkan pada relasi emosional orang terhadap pemiliknya.
Dalam psikologi sosial, ini bukan hal baru. Henri Tajfel (1979) sudah lama menjelaskan bahwa manusia cenderung membentuk social identity, melekatkan harga diri pada kelompok atau figur tertentu. Maka ketika seseorang merasa “akun ini mewakili saya”, kritik sekecil apa pun terasa seperti cubitan di batin. Di titik ini, teks tidak lagi dibaca sebagai teks, melainkan sebagai simbol loyalitas. Membela tulisan berarti membela diri.
Di sisi lain, ada kelompok kontra yang membaca dengan emosi yang sama kuatnya, hanya arahnya berlawanan. Bukan isi yang diperiksa, tapi rekam jejak. Ini sejalan dengan konsep affective polarization yang dijelaskan Iyengar dan Westwood (2015): afiliasi emosional mendahului penilaian rasional. Si penulis sudah terlanjur ditempatkan di kotak “orang bermasalah”, maka refleksi pun dibaca sebagai manipulasi, humor sebagai kebiadaban, dan diam sebagai kelicikan. Di sini, kebenaran kalah oleh ingatan luka.
Lalu ada kelompok kecil yang sering dilupakan: pembaca netral. Mereka membaca seperti orang membaca koran di warung kopi—ada yang diangguki, ada yang dicibir, tapi jarang dibawa pulang ke hati. Anehnya, kelompok inilah yang justru paling mengganggu dinamika konflik. Georg Simmel (1908) mencatat bahwa pihak netral sering dianggap mencurigakan karena tidak bisa dipetakan. Ia tidak bisa direkrut, tidak bisa dimusuhi sepenuhnya, dan tidak bisa dipaksa memilih. Dalam konflik, ketidakjelasan posisi sering dianggap lebih berbahaya daripada oposisi terbuka.
Maka wajar jika orang netral sering ditanya, “sebenarnya kamu di pihak siapa?” Pertanyaan ini bukan soal klarifikasi, tapi soal kontrol. Dunia media sosial bekerja lebih nyaman dengan dikotomi: kawan atau lawan, like atau report. Netralitas adalah glitch kecil dalam sistem yang haus kepastian emosional.
Kasus lucu muncul ketika akun gado-gado ini ditawari untuk dibukukan. Tawaran kapitalisasi yang, di atas kertas, rasional. Tapi datang di saat yang salah, dengan asumsi yang terlalu polos: bahwa tulisan yang liar, emosional, dan kontekstual bisa langsung dijinakkan menjadi produk. Penolakan yang muncul pun emosional, kasar, dan penuh sumpah serapah. Dari luar, dua-duanya bisa dipahami. Yang satu melihat peluang ekonomi, yang lain merasa pengalamannya direduksi menjadi komoditas instan. Pierre Bourdieu (1986) akan menyebut ini benturan antara cultural capital dan economic capital—yang satu merasa sedang menawarkan nilai, yang lain merasa nilainya sedang dirampas.
Menariknya, keributan itu tidak membelah manusia secara rapi, melainkan memperlihatkan taksonomi pengguna media sosial yang cair. Ada yang menjadikan figur sebagai panutan mutlak, ada yang menjadikannya musuh permanen, dan ada yang sekadar lewat sambil mikir, “kok ribut amat.” Taksonomi ini bukan soal kecerdasan, tapi soal kedekatan emosional. Semakin dekat, semakin panas. Semakin jauh, semakin dingin.
Sebagai penonton netral, saya sering merasa seperti antropolog kampung yang nyasar ke kolom komentar. Mengamati bagaimana manusia modern tetap membawa naluri purba: membentuk kawanan, menjaga simbol, dan mencurigai yang berdiri di tengah. Bedanya, sekarang semua terjadi sambil rebahan dan kuota data.
Pada akhirnya, posisi netral memang tidak heroik. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada pasukan. Tapi mungkin justru di situlah ruang bernapas berada. Netral bukan berarti kosong, melainkan memberi jarak yang cukup agar manusia tetap terlihat sebagai manusia—bukan avatar, bukan simbol, bukan bendera.
Dan kalau ditanya kenapa saya memilih posisi itu?
Karena ini cuma timeline.
Bukan medan perang.
Dan hidup, syukurlah, masih jauh lebih kompleks daripada kolom komentar 😅
0 komentar