Epifani yang Datang Terlambat: Tentang Tangis Bayi, Doa, dan Lapis Kehidupan yang Sering Terlewat
Saya tumbuh di lingkungan yang penuh simbol: mitos, jampi, rajah, doa, dan penjelasan-penjelasan yang hari ini sering disebut—dengan bahasa yang kejam—sebagai tahayul atau khurafat.
Bagi saya, itu bukan sekadar kepercayaan; itu bahasa hidup yang diwariskan.
Di saat yang sama, saya dibentuk oleh bacaan yang beragam:
yang lurus dan normatif,
yang berlapis filsafat,
yang bengkok seperti fabel,
hingga yang naratif-sensual dan nyeleneh.
Masalahnya, di masa itu saya belum punya kemampuan mengklasifikasikan:
mana bacaan yang netral,
mana yang simbolik,
mana yang mempengaruhi cara manusia memahami hidup—kadang dengan epifani yang aneh-aneh.
Baru belakangan saya sampai pada satu kesimpulan yang cukup jernih:
anomali kehidupan hampir selalu punya lapisan pembentuk di bawahnya.
Bayi Menangis dan Bahasa yang Kita Salah Tafsir
Di banyak kebudayaan, bayi menangis bukan sekadar bayi menangis.
Ia bisa dianggap: diganggu makhluk halus, “ketempelan”, atau butuh dirapal sesuatu agar tenang.
Padahal, dari sudut pandang paling sederhana, bayi menangis karena: lapar, gerah, sakit perut, pegal, atau sekadar belum punya bahasa lain selain tangisan.
Tangis adalah bahasa fisiologis yang paling jujur.
Pengalaman Pertama: Antara Magis dan Pola
Saat bayi pertama saya menangis, ibu mertua di desa merapal doa agar bayi tenang. Tidak berhasil.
Lalu beliau menggenggamkan uang kertas dua ribu rupiah ke tangan bayi.
Ajaibnya, bayi berhenti menangis.
Orang desa menyebutnya magis.
Saya tidak membantah.
Saya hanya mencatat kemungkinan lain: bayi merasa tenang karena ada pegangan.
Tidak sinis.
Tidak merasa lebih pintar.
Hanya berkata dalam hati: “oh, ini pola yang rasional.”
Doa, MPASI, dan Dua Kebenaran yang Bisa Jalan Bersama
Di rumah ibu saya, anak kedua menangis di malam hari.
Ibu menyuruh saya membacakan doa dan ayat pendek. Saya patuh.
Di sela membaca, saya juga memberi MPASI.
Setelah cukup kenyang, tangis reda.
Ibu saya percaya bacaan Al-Qur’an bersifat magis.
Saya juga percaya—ditambah satu hal kecil: perut bayi terisi.
Dua penjelasan itu tidak saling meniadakan.
Yang satu menenangkan batin orang dewasa,
yang satu memenuhi kebutuhan biologis bayi.
Keduanya bekerja di lapisan yang berbeda.
Arsip Pengalaman dan Kedewasaan yang Datang Pelan
Pada bayi ketiga, tangisan malam pertama tidak lagi memicu panik.
Saya dan istri sudah punya arsip pengalaman.
ASI belum deras → dibantu susu formula.
Doa tetap dibaca → untuk ketenangan batin kami.
Kalau bacaan itu memberi efek langsung pada bayi, Alhamdulillah.
Kalau tidak, setidaknya kami tahu:
tangis bayi sering kali lebih sederhana daripada tafsir orang dewasa.
Epifani yang Datang Terlambat
Saya tidak pernah merasa perlu memusuhi dunia simbol yang membesarkan saya.
Saya juga tidak tergoda untuk menganggap rasionalitas sebagai satu-satunya kebenaran.
Epifani saya sederhana: kehidupan jarang berdiri di satu lapisan.
Yang kita sebut magis sering kali bekerja di wilayah batin.
Yang kita sebut rasional bekerja di wilayah tubuh.
Dan manusia—termasuk bayi—hidup di persimpangan keduanya.
0 komentar