Arab Wannabe, Sunda-Jawa Asli, dan Ketakutan Memberi Nama Terlalu Berat
Ada yang nyeletuk,
"Namanya anaknya Arab wannabe, nggak sekalian Muhammad atau Ahmad?”
Secara teori, saya harusnya tersinggung.
Secara praktik, saya malah ketawa.
Karena saya langsung kebayang masa depan yang terlalu melelahkan:
“Muhammad kok ngerokok?”
“Ahmad kok kebut-kebutan?”
“Muhammad kok pelihara ular sendok?”
Bukan karena itu dosa besar.
Tapi karena nama itu jadi standar moral publik.
Anak saya belum ngapa-ngapain, tapi sudah dicatat duluan di papan ekspektasi.
Nama adalah Doa—dan Kadang Doa Itu Terlalu Berat
Saya memberi nama anak-anak saya dengan bunyi Arab, iya.
Tapi bukan karena ingin mereka jadi ikon kesalehan.
Justru sebaliknya:
saya takut memberi nama yang terlalu sakral.
Nama seperti Muhammad atau Ahmad itu bukan sekadar indah.
Itu nama yang diawasi sejarah, agama, dan tetangga.
Nama seperti itu membuat setiap kesalahan terasa: bukan cuma kesalahan anak, tapi kegagalan simbol.
Saya tidak ingin anak saya: diseret jadi poster moral, dikomentari netizen lokal, atau diseret ke kalimat, “harusnya kamu…”
Arab Wannabe Itu Sebenarnya Doa Kelas Menengah
Kalau jujur, iya.
Nama-nama itu lahir dari posisi inferior.
Saya Sunda.
Istri saya Jawa.
Kami tumbuh di generasi yang sudah tidak lagi pakai: Slamet, Ngatijem, Uneh, Bambang, Enah, Enih, Icih, Mumun
Bukan karena nama itu salah.
Tapi karena dunia sudah berubah.
Nama sekarang bukan cuma identitas budaya,
tapi juga paspor sosial.
Kami hidup di zaman: formulir online, CV, sekolah internasional, dunia kerja global, dan WhatsApp group wali murid.
Nama anak adalah doa + strategi bertahan.
Arab Tapi Tidak Terlalu Nabi
Maka kami ambil jalan tengah: Arab secukupnya, Islami tapi tidak menekan, indah tapi masih manusiawi.
Nama-nama yang: bisa salah, bisa belajar, bisa bengal, bisa ketawa, dan tetap pulang ke rumah tanpa merasa berdosa secara eksistensial.
Karena anak-anak ini bukan proyek kesempurnaan.
Mereka bukan role model.
Mereka manusia kecil yang sedang belajar hidup.
Epilog: Doa yang Tidak Menyandera
Saya tidak ingin anak saya berkata suatu hari:
“Aku capek jadi arti namaku.”
Saya lebih ingin mereka berkata:
“Namaku cukup luas untuk aku tumbuh.”
Kalau orang mau bilang Arab wannabe, silakan.
Saya malah lega.
Karena saya tahu: doa kami tidak kaku, iman kami bernafas, dan rumah kami bukan mimbar.
Anak-anak ini tidak lahir untuk membuktikan apa pun.
Cukup hidup.
Kalau bisa, hidup dengan waras.
Kalau capek, pulang.
Dan kalau suatu hari ada yang nyeletuk lagi, “Namanya Arab tapi kok begini?”
Saya sudah siap jawab dalam hati:
“Justru karena namanya manusia.”
0 komentar