Epilog: Hidup Baru Masuk Akal Setelah Ditertawakan
Saya baru paham satu hal yang agak telat:
hidup itu sering baru masuk akal setelah selesai ditertawakan.
Awalnya rencana saya lurus, rapi, dan mahal.
Ambil layanan VIP. Sederhana.
Supaya dua anak saya bisa ikut masuk RS, dekat ayah-ibunya, aman secara emosi.
Harga? Selisihnya dua puluh juta.
Ah, remeh—kata ego ayah yang lagi pengen jadi tank maksimal.
Lalu diskusi sama istri.
Pelan. Capek. Tiga hari muter di tempat yang sama.
Dan tiba-tiba muncul pertanyaan receh tapi menentukan:
“Kalau anak masuk RS, mereka ngapain?”
Jawabannya jujur dan kejam:
bosen, minta jajan, pengen main, pengen keluar.
RS bukan playground.
Mall juga bukan Indomaret—sekali keluar, sejuta melayang tanpa terasa.
Akhirnya saya negosiasi sama anak.
Bukan nyuruh.
Bukan manipulasi.
Negosiasi.
Saya bilang pelan-pelan:
kalian bukan boneka.
Kalian punya sistem sendiri.
Ayah dan ibu lagi butuh fokus.
Mbah ada. Ayah bolak-balik. Video call jalan.
Kebutuhan hidup aman.
“Mau apa biar kuat di rumah tiga hari?”
Jawabannya indah dan membumi:
jajanan, mainan kecil, video call sering.
Total biaya? Beberapa ratus ribu.
Deal.
Semua aman.
Ibu pulih.
Anak-anak ketawa.
Ayah senyum sambil mikir:
anjir… kok baru kepikiran sekarang ya.
Di titik itu saya ketawa.
Bukan ketawa bodoh.
Tapi ketawa lega—ketawa orang yang sadar:
ternyata yang mahal itu bukan solusi,
yang mahal itu ego yang belum ditertawakan.
Dan di situ hidup jadi masuk akal.
0 komentar