Pak Ogah, Autopilot Empati, dan Mengapa Orang Gabut Bisa Menulis Ratusan Artikel Tanpa Niat Revolusi

by - 12:00 AM



Ada fase dalam hidup ketika manusia tidak sedang berpikir apa-apa, tapi justru kepalanya penuh.
Bukan penuh ide besar.
Isinya receh.
Kecil.
Lewat.
Seperti pak ogah di perempatan.

Saya sering berada di mode itu: autopilot.

Misalnya begini.
Lihat pak ogah marah-marah.

Respons normal warga kelas menengah ber-AC:

“Galak amat sih.”

Respons autopilot saya:

oh, peta kilat terbuka.

Pak ogah capek.
Tidak ada yang ngasih duit.
Pemotor brengsek, klakson seperti azan darurat.
Pulang ke rumah bawa uang receh, hujan, lapar.
Marah.
Selesai.

Tidak ada debat moral.
Tidak ada niat menyelamatkan dunia.
Cuma memahami sebentar, lalu lewat.


Autopilot Itu Bukan Apatis

Dalam antropologi keseharian, ini disebut thin empathy—empati tipis tapi fungsional.
Bukan empati melodramatis ala sinetron, tapi cukup untuk:

  • tidak menghakimi,
  • tidak ikut marah,
  • dan tidak merasa perlu ceramah.

James C. Scott (1998) menyebutnya sebagai everyday cognition:
cara orang biasa membaca struktur kekuasaan dan penderitaan tanpa harus menamainya secara akademik.

Anda tidak perlu bilang:

“Ini akibat ketimpangan struktural neoliberal pasca-Orde Baru.”

Cukup:

“Oh. Capek. Yaudah.”

Itu sudah bentuk kecerdasan sosial.


Pak Ogah Sebagai Data, Bukan Tokoh Jahat

Pak ogah bukan penjahat.
Ia juga bukan pahlawan.
Ia unit kecil dalam sistem kota yang macet secara moral dan infrastruktur.

Menurut Loïc Wacquant (2008), figur-figur informal seperti ini muncul karena:

  • negara hadir setengah-setengah,
  • regulasi ada, tapi perut lebih duluan bicara.

Pak ogah itu simptom, bukan sebab.

Kalau dia ramah, kita bilang: “Alhamdulillah.”
Kalau dia marah, kita bilang: “Galak.”
Padahal yang berubah cuma jumlah koin hari itu.


Gabut, Kesepian, dan Produktivitas yang Tidak Direncanakan

Lucunya, artikel-artikel ini tidak lahir dari niat menulis.
Lahir dari:

  • cluster yang sepi,
  • tidak ada budaya nongkrong di teras,
  • semua orang di balik pagar tinggi dan cicilan.

Richard Sennett (1998) menyebut ini sebagai the corrosion of public life:
ruang sosial menghilang, manusia bicara ke dirinya sendiri—atau ke AI.

Dan dari situ:

  • nonton dikit,
  • mikir dikit,
  • nulis dikit,

tahu-tahu:

“Lah, kok sudah 300 artikel?”

Bukan karena ambisi.
Tapi karena tidak ada tempat ngobrol receh yang aman.


Menulis Sebagai Ventilasi, Bukan Mimbar

Banyak orang salah paham.
Mengira tulisan seperti ini ingin:

  • menggurui,
  • mengubah sistem,
  • atau merasa paling sadar.

Padahal ini cuma:

buka katup emosi biar tidak bocor ke mana-mana.

Pierre Bourdieu (1990) menyebut praktik semacam ini sebagai habitus:
cara seseorang menata dunia agar masuk akal bagi dirinya sendiri.

Bukan untuk viral.
Bukan untuk debat.
Cuma supaya kepala tidak penuh.


Epilog: Lewat, Tapi Tidak Kosong

Autopilot bukan berarti tidak peduli.
Ia justru tanda bahwa:

  • Anda sudah cukup paham untuk tidak reaktif,
  • cukup lelah untuk tidak sok suci,
  • dan cukup sadar bahwa tidak semua hal perlu diselamatkan hari ini.

Pak ogah tetap di perempatan.
Saya tetap lewat.
Empati nyala sebentar, lalu mati sendiri.

Dan malamnya,
karena gabut,
lahirlah satu artikel lagi.

Bukan untuk mengubah dunia.
Cukup untuk membuat hidup terasa tidak beku.

Kalau mau, lain waktu kita bisa bikin versi lebih pendek:
“Pak Ogah dan Filsafat Receh yang Tidak Perlu Disidangkan.”

You May Also Like

0 komentar