Epifani yang Datang Terlambat pada Manusia Gado-Gado
Tentang Minat Baca Tinggi, Keusilan yang Ikut Naik, dan Kitab Hak Cipta yang Tetap Dibaca Walau Bukunya Bajakan
Saya baru sadar belakangan ini: saya ini manusia gado-gado.
Bukan karena toleran atau moderat—itu bonus—tapi karena rak kepala saya isinya campur aduk. Kitab, komik absurd, filsafat, artikel akademik, status WhatsApp orang marah, sampai bacaan esek-esek naratif yang kalau ketahuan bisa bikin alis orang naik sebelah.
Epifaninya datang terlambat. Dulu saya kira ini cuma kebiasaan aneh. Sekarang saya paham: minat baca yang tinggi hampir selalu melahirkan keusilan yang tinggi juga. Karena ketika terlalu banyak membaca, batas antara “serius” dan “main-main” jadi cair. Semua teks terasa setara sebagai bahan belajar.
Saya pernah ditanya teman, setengah heran setengah curiga:
“Ngapain sih lu baca buku kayak gitu?”
Saya jawab jujur, “Biar tahu gimana cara orang nyusun alur.”
Karena begini: tulisan esek-esek yang naratif itu—kalau kita jujur—banyak yang secara teknis rapi. Alurnya mengalir, transisinya halus, tensinya dijaga. Itu bukan soal birahi, tapi soal craft. Seperti kata Umberto Eco (1984), teks populer sering menyimpan teknik naratif yang justru diabaikan oleh pembaca yang sok serius. Saya tidak baca untuk meniru kontennya, tapi untuk mencuri strukturnya. Setelah itu, strukturnya saya pakai buat nulis artikel “jernih”.
Ini mirip latihan bela diri: kadang belajar dari jalanan, bukan dari dojo.
Keusilan saya tidak berhenti di situ. Saya tipe pembaca yang membaca sampai habis, termasuk bagian yang tidak penting bagi orang lain. Catatan kaki. Pengantar editor. Bahkan halaman ancaman pemalsuan hak cipta. Ironisnya, buku yang saya baca itu bajakan. Dikasih senior. Gratis. Tidak ada struk belinya.
Saya baca bagian “barang siapa menggandakan tanpa izin akan dituntut sesuai hukum” sambil mikir:
ini serius amat ya, padahal saya aja dapatnya dari fotokopian.
Di titik itu saya tertawa sendiri. Bukan menertawakan hukum, tapi menertawakan diri saya yang tetap taat secara ritual membaca, walau konteksnya sudah jungkir balik. Pierre Bourdieu (1979) menyebut ini sebagai habitus: kebiasaan yang melekat, berjalan otomatis, bahkan ketika medan sosialnya sudah berubah. Saya membaca bukan karena buku itu sah, tapi karena membaca sudah jadi refleks tubuh.
Dan di situlah epifaninya:
Saya bukan pembaca suci.
Saya pembaca lapar.
Lapar konteks, lapar pola, lapar cara orang menyusun dunia lewat kata. Mau itu kitab, komik Petruk, atau cerita dewasa yang ditulis dengan imajinasi liar. Semua saya masukkan ke piring yang sama. Gado-gado. Disiram bumbu pengalaman sendiri.
Makanya saya tidak kaget kalau tulisan saya kadang terasa serius, kadang ngawur, kadang usil. Itu bukan inkonsistensi. Itu jejak bacaan. Roland Barthes (1973) bilang, pembaca sejati bukan pencari makna tunggal, tapi penikmat jaringan makna. Saya rasa itu tepat. Saya tidak mencari kebenaran terakhir. Saya cuma ingin paham: oh, ternyata bisa begini cara orang nulis.
Kalau ada yang keberatan, ya wajar. Dunia memang lebih nyaman kalau semua orang membaca dari rak yang sama. Tapi saya sudah terlanjur gado-gado. Terlanjur membaca dari halaman pertama sampai ancaman hukum yang seharusnya tidak relevan. Terlanjur usil karena terlalu banyak tahu bahwa tidak ada teks yang benar-benar polos.
Epifani ini memang datang terlambat. Tapi setidaknya sekarang saya tidak bingung lagi.
Saya tahu kenapa saya begini.
Dan saya baik-baik saja dengan itu.
0 komentar