Kagum Karena Tidak Tahu Proses: Catatan Seorang Manusia yang Belajar Waras
Saya mulai menyadari satu hal sederhana tapi mengganggu pikiran: saya sering kagum bukan karena sesuatu itu luar biasa, melainkan karena saya tidak tahu proses di baliknya. Piramida Mesir, candi-candi di Jawa, tembok besar China—semuanya tampak seperti keajaiban kalau dilihat sudah jadi. Presisi, megah, dan berdiri seperti menantang logika. Tapi begitu tahu bahwa tembok besar dibangun lintas dinasti, lintas generasi, dengan keringat manusia biasa, rasa kagumnya berubah bentuk. Bukan hilang—tapi turun volumenya. Tidak lagi “wow”, melainkan “oh… masuk akal.”
Dan anehnya, rasa “oh… masuk akal” itu justru menenangkan.
Epifani pertama saya sederhana: kekaguman sering lahir dari ketidaktahuan akan proses. Kita terbiasa menilai dari hasil akhir. Padahal kalau prosesnya dibuka, satu per satu, lapis demi lapis, keajaiban itu tidak runtuh—ia hanya menjadi manusiawi.
Epifani kedua datang ketika saya menoleh ke cerita-cerita yang dulu saya anggap konyol. Bandung Bondowoso membangun candi dalam semalam dibantu jin. Dayang Sumbi, Sangkuriang, ayam berkokok menggagalkan proyek raksasa. Waktu kecil saya percaya. Waktu remaja saya sinis. Waktu dewasa, saya tertawa dan berpikir: ini bukan laporan proyek teknik sipil. Ini bahasa simbolik.
Cerita rakyat tidak sedang mengajarkan cara membangun candi, tapi sedang bicara tentang batas manusia, tentang ambisi yang dikalahkan oleh kosmik, tentang kecerdikan, tentang waktu, tentang kuasa yang tidak bisa dilompati. Jin bukan kontraktor metafisik; ia simbol tenaga, alam, atau kekuatan yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan. Ayam bukan unggas iseng; ia penanda waktu, fajar, batas malam. Dibaca literal, cerita itu memang absurd. Dibaca simbolik, ia terasa cerdas dan halus.
Di situ epifani ketiga menyusul: membaca cerita simbolik secara literal melahirkan sinisme. Kita menertawakan masa lalu karena memaksa bahasa lama tunduk pada logika hari ini. Padahal, yang berubah bukan kecerdasan manusia, melainkan cara bertuturnya.
Hal yang sama terjadi pada hidup personal. Saya menyaksikan proses persalinan. Dari luar, orang hanya melihat satu kalimat: “lahir lewat operasi sesar.” Titik. Padahal di baliknya ada kecemasan, doa, keterbatasan, ilmu medis, tangan-tangan profesional, dan keberanian yang tidak dipamerkan. Kalau proses itu dibongkar, kelahiran bukan lagi drama heroik atau mukjizat kosong—ia menjadi rangkaian keputusan rasional dan emosional yang dijalani dengan sadar.
Dan justru di sana saya merasa lebih waras.
Epifani keempat pun datang: ketika bangunan, persalinan, dan cerita rakyat dibongkar prosesnya, semuanya menjadi biasa—bukan banal, tapi membumi. Tidak perlu glorifikasi berlebihan, tidak juga perlu sinisme. Saya tidak perlu menganggap manusia dulu bodoh atau manusia sekarang paling pintar. Saya tidak perlu menertawakan mitos, juga tidak perlu memeluknya mentah-mentah.
Saya cukup berkata: ini cara manusia memahami dunia di zamannya.
Akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan yang terasa damai: waras bukan berarti membunuh rasa kagum, tapi menempatkannya di posisi yang sehat. Kagum tanpa mengkultuskan. Kritis tanpa mencibir. Mengerti tanpa merasa paling tahu.
Epifani memang datang silih berganti. Kadang muncul saat membaca, kadang saat menunggu air mendidih, kadang justru setelah tertawa sendiri karena cerita yang terdengar konyol. Tapi semuanya mengarah ke satu titik yang sama: hidup ini bukan sulap, bukan kerja semalam, bukan misteri mutlak—melainkan proses panjang yang layak dipahami dengan kepala dingin dan hati netral.
Dan mungkin, di situ letak kedewasaannya. Bukan pada seberapa hebat ceritanya, tapi pada keberanian kita untuk membuka dapurnya—lalu tetap menghargai masakannya.
0 komentar