Scaffolding yang Tak Terlihat: Mengapa Piramida Terlihat Ajaib dan Hidup Orang Lain Tampak Lebih Rapi
Ada satu hal yang selalu membuat manusia takjub: sesuatu yang sudah berdiri, tapi kita tidak tahu bagaimana proses berdirinya. Piramida di Mesir misalnya. Presisi, besar, tua, dan kok bisa ya? Atau candi-candi di Jawa, Borobudur dan Prambanan, yang bikin netizen zaman now garuk-garuk kepala sambil ngetik komentar: “Ini mah pasti dibantu jin.”
Saya dulu percaya itu. Serius. Karena logikanya sederhana: orang zaman dulu mana mungkin bisa? Tidak ada crane, tidak ada beton readymix, tidak ada YouTube tutorial “cara mindahin batu 20 ton tanpa ngeluh.” Maka muncullah narasi metafisik: jin. Oke, berarti orang dulu bukan cuma religius, tapi juga jago HRD lintas dimensi.
Masalahnya, rasa takjub itu ternyata bukan soal keajaiban. Ia soal ketidaktahuan pada proses.
Bangunan modern jarang bikin kita terpesona. Bukan karena jelek, tapi karena kita melihat scaffolding-nya. Kita lihat alat berat, gondola, pekerja pakai helm, mandor marah-marah, proyek molor. Walaupun kita tidak paham mekanikanya, kita tahu: “Oh, ada prosesnya.” Dan begitu proses terlihat, keajaiban langsung turun derajat jadi: ya wajar.
Antropolog Claude Lévi-Strauss (1962) pernah bilang bahwa manusia cenderung mengisi kekosongan pengetahuan dengan mitos. Bukan karena bodoh, tapi karena otak manusia tidak tahan pada lubang makna. Kalau proses tidak terlihat, imajinasi akan mengambil alih. Jin, alien, peradaban Atlantis, atau teknologi canggih yang “hilang”—semua itu cara otak menjaga dunia tetap masuk akal.
Yang lucu, pola ini tidak berhenti di situs purbakala. Ia pindah ke kehidupan sehari-hari.
Di personal, orang sering terlihat “wow” bukan karena ajaib, tapi karena prosesnya tidak kelihatan. Ada orang yang dibilang tenang, rapi, bijak, unik. Padahal kalau dilihat dari dekat, dia cuma sering mikir di parkiran, nyicil baca sambil nunggu nasi matang, merenung pas mesin cuci muter, dan nyolong waktu lima menit buat belajar hal kecil. Tidak dramatis. Tidak spiritual. Tidak pakai asap kemenyan.
Psikolog sosial Ellen Langer (1989) menyebut ini sebagai mindful accumulation—perubahan besar yang lahir dari kesadaran kecil yang berulang. Tapi karena prosesnya sunyi dan tidak estetik, orang lain hanya melihat hasilnya. Maka muncul ilusi: “Dia emang dari sananya begitu.”
Padahal tidak.
Dalam psikologi kognitif, ini dekat dengan apa yang disebut outcome bias—kita menilai hasil tanpa menghitung proses (Baron & Hershey, 1988). Kita melihat candi berdiri, bukan tukang yang pegal. Kita melihat orang tenang, bukan batin yang pernah ribut. Kita melihat hasil akhir, lalu menyimpulkan sebab yang salah.
Makanya mitos jin membangun candi terasa masuk akal. Sama masuk akalnya dengan mengira orang lain “terlahir bijak,” “bakat alami,” atau “memang auranya adem.” Scaffolding-nya tidak terlihat, jadi kita isi dengan narasi yang nyaman.
Padahal arkeologi modern sudah lama menjelaskan bahwa candi dibangun dengan teknik bertahap, organisasi sosial yang rapi, dan waktu yang panjang. Tidak cepat, tidak instan, dan jelas tidak viral. Sejarawan seperti John Miksic (2010) menjelaskan Borobudur sebagai hasil kerja kolektif lintas generasi, bukan proyek semalam sambil ngopi sama jin.
Dan di titik ini, epifaninya receh tapi menampar:
yang kita kagumi sering kali bukan keajaiban, tapi kerja sunyi yang tidak kita saksikan.
Mungkin itu juga sebabnya hidup orang lain terlihat lebih rapi. Bukan karena mereka tidak pernah ribut, tapi karena ributnya tidak dipamerkan. Tidak ada scaffolding di feed mereka. Yang kelihatan cuma bangunan jadi.
Jadi kalau hari ini kita merasa kecil, biasa, atau “kok orang lain kayaknya gampang banget ya?”, bisa jadi kita cuma sedang berdiri di tengah proyek kita sendiri—dengan helm kotor, baju berdebu, dan scaffolding masih berdiri. Dan proyek memang tidak pernah terlihat indah dari dalam.
Keajaiban, ternyata, sering kali cuma soal jarak pandang.
0 komentar