Pasta Gigi Paling Sunnah di Rak Nomor Tiga

by - 12:00 AM

Di rak nomor tiga minimarket kampung, tiga pasta gigi berdiri tegak seperti calon ketua RT.

Yang pertama bernama Siwakullah Ultra Sunnah Plus.
Kotaknya hijau, tulisannya Arab gundul, ada gambar ranting siwak dan senyum putih yang terlalu ikhlas.

Yang kedua MintyFresh Total Care.
Putih-biru, dingin, rasional, ada grafik gigi dan tulisan “direkomendasikan dokter”.

Yang ketiga BeliAjaYangIni™, merek lokal tanpa banyak bacot, diskon 40%.

Siwakullah mendesah panjang.
“Assalamualaikum, saudaraku,” katanya pelan tapi penuh makna.
“Aku bukan sekadar pasta gigi. Aku ibadah.”

MintyFresh mengerling.
“Lu fluoride atau nggak sih?”

“Jangan reduksi aku dengan sains,” jawab Siwakullah sambil berdehem.
“Aku sunnah. Setiap gosokan ada pahala. Setiap busa ada niat.”

Di depan rak, seorang bapak berdiri bimbang. Sandal jepit, kaos oblong, HP di tangan.
Ia membaca grup WhatsApp keluarga:

“JANGAN BELI AQUA! ZIONIS!!! BELI HALALQUA DEMI UMAT!!!”

Bapak itu menelan ludah.

Di rak minuman, Aqua berdiri diam.
Ia tahu, di gudang belakang ada Mang Dayat nyetir truk.
Ceu Amah bikin kopi buat karyawan.
Suroto nambal pipa.
David lembur di teknis.
Daniel bikin iklan.

Mereka semua umat. Umat manusia. Tapi Aqua tidak bisa membela diri. Ia hanya botol.

Kembali ke rak pasta gigi.

Siwakullah makin panas.
“Pilih aku, Pak. Demi umat.”

“Umat siapa?” gumam bapak itu lirih.

MintyFresh nyelutuk,
“Kalau gigi bapak bolong, kita semua berdosa nggak?”

Siwakullah tersinggung.
“Jangan sekuler! Ini soal iman!”

BeliAjaYangIni™ tertawa kecil.
“Bro, orang beli gue karena murah. Habis itu salat. Aman.”

Tiba-tiba, bapak itu ambil HP.
Buka media sosial.
Ada influencer berjanggut bilang:

“BELI SEMPAK INI! PEMILIKNYA PAK HAJI, PUNYA PANTI ASUHAN!”

Bapak itu menghela napas.
“Lah, celana dalam aja sekarang dakwah…”

Siwakullah tersenyum puas.
“Nah, itu kesadaran.”

Bapak itu lalu menaruh MintyFresh ke keranjang.
Menambah Aqua satu botol.
Dan… mengambil BeliAjaYangIni™ karena diskon.

Siwakullah teriak,
“PAK! ITU BUKAN PILIHAN BERIMAN!”

Bapak itu menoleh santai.
“Tenang. Iman gue nggak di rak.”

Ia pergi ke kasir.
Di belakang, Siwakullah masih berkhotbah ke rak kosong.

“Suatu hari kalian sadar!
Agama bukan cuma label!”

MintyFresh berbisik,
“Lah itu yang dari tadi lu omongin tapi lu jual.”

Lampu minimarket berdengung.
Rak tetap penuh.
Umat tetap lapar.
Kapital tetap senyum.

Dan Siwakullah?
Masih merasa paling sunnah—
meski tak pernah tahu, gigi siapa yang benar-benar ia bersihkan.


You May Also Like

0 komentar