Arabisasi Istilah, Industrialisasi Iman, dan Masjid yang Tidak Dikunci
Seharian saya di rumah sakit.
Menunggu bayi kecil di fase pemulihan, sambil menghitung waktu dengan cara paling manusiawi: duduk, berdiri, mondar-mandir, lalu duduk lagi.
Rumah sakit ini mahal.
Terlalu rapi. Terlalu senyap.
Tidak ada bangku panjang penuh cerita seperti di RSUD, tidak ada obrolan receh antar keluarga pasien, tidak ada bapak-bapak yang saling tukar rokok sambil saling menebak diagnosa.
Di sini, semua orang seperti menunggu dalam diam yang sopan.
Di sela kesunyian itu, pikiran saya keluyuran.
Tentang istilah yang diarabkan, iman yang diindustrikan, dan satu hal yang terasa paling nyata sepanjang hidup saya: rasa aman.
Saya tidak pernah merasa religius dengan cara yang spektakuler.
Tidak pernah merasa perlu menempelkan label pada setiap gerak hidup.
Tapi saya tahu satu hal—kalau malam dan tubuh capek, masjid adalah tempat yang tidak mengusir saya.
Lampunya menyala.
Airnya ada.
Pintunya jarang dikunci.
Tidak ada yang bertanya saya siapa, dari golongan apa, paham apa, atau beli produk apa.
Saya hanya duduk, diam sebentar, dan kepala terasa lebih ringan.
Mungkin itulah iman versi saya:
bukan slogan, bukan industri, bukan identitas keras—
tapi ruang yang tidak menutup pintu.
Di rumah sakit ini, sambil menunggu kehidupan kecil yang bahkan belum paham istilah apa pun, saya sadar:
kita sering terlalu sibuk merapikan bahasa,
sampai lupa memastikan manusia masih punya tempat duduk.
Bayi ini belum tahu apa itu syariah, konvensional, sunnah, atau kapital.
Ia hanya tahu satu hal: lapar, tidak nyaman, butuh digendong.
Dan mungkin, sebelum iman menjadi wacana besar,
ia memang sesederhana itu.
Saya jeda dulu.
Besok masih panjang.
Dan hidup—seperti masjid yang tidak dikunci—
tidak ke mana-mana.
0 komentar