Calon Pemimpin Umat vs Ayam Kukuruyuk: Sebuah Studi Lapangan tentang Harapan Orang Tua dan Realitas Balita
Ada satu fase menjadi orang tua ketika imajinasi berlari jauh lebih cepat daripada perkembangan motorik anak. Fase ketika kita—dengan wajah serius dan kosakata penuh visi—membayangkan anak bernama islami, berjiwa kepemimpinan, napas sufistik, dan kelak berbicara lembut tentang makna hidup.
Lalu realitas datang dalam bentuk sendok jatuh.
Tangis.
Tantrum.
Dunia runtuh.
Saya menyadari ini sore tadi, ketika dengan sengaja—dan penuh kesadaran moral—mencari video bodoh di internet. Video anak duduk manis, lalu ditabrak anak kambing. Anak kambing loncat-loncat dengan semangat hidup yang tidak bertanggung jawab. Si anak korban menoleh, lalu menangis, dan mengadu ke satu-satunya otoritas tertinggi di dunia balita: bapaknya.
Bapak itu, jelas, adalah CIA.
Central Intelligence Ayah.
Saya tertawa karena ini terlalu dekat dengan rumah.
Anak saya sendiri pernah kalah telak oleh seekor ayam.
Bukan dipatok.
Bukan diserang.
Ayam itu hanya berdiri di hadapannya… lalu kukuruyuk.
Dan anak pertama saya, calon pemimpin umat versi PowerPoint, menangis kejer.
Ayamnya bingung.
Secara eksistensial, ayam itu mungkin nyeletuk: “Woi, emang begitu liriknya!”
Di kepala orang tua, anak itu nanti akan berhadapan dengan kompleksitas dunia, geopolitik, moralitas, dan krisis kemanusiaan.
Di dunia nyata, anak itu masih bernegosiasi dengan fakta bahwa: warna tumbler bisa salah, sendok bisa jatuh tanpa izin, dan ayam punya suara.
Sore itu, sambil nyebrang jalan depan rumah sakit—habis keluar dari RS, masih bau antiseptik, niatnya cuma cari siomay di sebrang—saya tertawa sendiri.
Mungkin pengemudi melihat saya dan berpikir: “Ini orang gila baru ya?”
Penampilan rapi.
Langkah normal.
Tapi tertawa sendiri sambil nyebrang.
Padahal bukan gila.
Cuma otak lagi geser dikit karena kelelahan, empati, dan kesadaran pahit bahwa harapan orang tua sering terlalu dewasa untuk usia anaknya.
Kita ingin mereka kuat.
Padahal mereka masih takut pada ayam yang menjalankan takdir biologisnya.
Kita ingin mereka bijak.
Padahal mereka baru belajar menerima kenyataan bahwa dunia tidak selalu sesuai warna tumbler pilihan.
Dan di situlah komedinya.
Bukan pada anak.
Tapi pada kita—orang dewasa yang lupa bahwa semua pemimpin besar dunia pernah berada di fase:
menangis karena ayam kukuruyuk terlalu dekat.
Ayam tidak salah.
Kambing tidak salah.
Anak juga tidak.
Yang sedikit lucu hanyalah harapan kita yang terlalu jauh melompat, seperti anak kambing di video itu—loncat-loncat tanpa peduli siapa yang akan menangis setelahnya.
Dan jujur saja,
kalau calon pemimpin umat tidak pernah kalah oleh ayam di usia balita,
saya justru khawatir.
0 komentar