Keturunan Rasul, Kualitas Pengeras Suara, dan Mengapa Orang yang Belum Beres Bisa Laku Keras

by - 12:00 AM

Saya mulai dari kebingungan paling jujur:

mengapa orang yang kelihatan tidak beres, bisa punya pengikut fanatik?

Pertanyaan ini muncul setiap kali membaca berita tentang tokoh yang mengaku keturunan nabi—sebuah klaim yang secara historis sah-sah saja—tetapi laku lampahnya justru bertabrakan dengan figur rasul yang katanya ia warisi. Rasul yang kita sepakati hadir untuk menyempurnakan akhlak, bukan mengacak-acaknya.

Di zaman nabi, akhlak itu sudah ada.
Budaya Arab sudah hidup, nilai kesukuan sudah mapan, sistem sosial sudah berjalan—meski timpang. Nabi tidak datang membawa tombol reset, melainkan asimilasi. Ia bicara dengan bahasa kaumnya, menghargai adat yang baik, meluruskan yang rusak, dan menanamkan etika baru tanpa memutus nalar lama. Karena itu, generasi demi generasi—lintas ruang dan waktu—sepakat: cara nabi itu adaptif, inklusif, dan manusiawi.

Lalu kita lompat jauh ke masa kini.

Muncul sosok yang mengaku keturunan rasul, tetapi lebih sering terdengar seperti orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri, lalu diberi pengeras suara. Nadanya sumbang. Tidak ada ajaran substantif. Tidak ada laku etik yang menenangkan. Yang ada klaim darah, disusul makian ke kelompok di luar lingkarannya. Anehnya—atau justru tragisnya—banyak yang mengikuti. Dengan taklid buta. Dengan fanatisme yang anti-koreksi.

Di titik ini, saya mulai sinis.

Bukan pada klaim keturunannya.
Silakan. Mengaku keturunan siapa pun sah.
Keturunan nabi, keturunan raja, keturunan Loki, Isildur, atau bangsa Atlantis—itu wilayah imajinasi dan identitas. Masalahnya bukan siapa leluhurnya, tapi bagaimana klaim itu dipakai sebagai legitimasi untuk melumat kemanusiaan orang lain.

Dalam psikologi sosial, fenomena ini bukan misteri. Max Weber menyebutnya charismatic authority—otoritas yang tidak bertumpu pada sistem atau etika, melainkan pada persepsi “kekhususan” seseorang. Bukan karena ia benar, tapi karena ia dipercaya sebagai istimewa. Dalam kondisi sosial yang rapuh—ketidakpastian ekonomi, krisis identitas, rasa tersingkir—manusia cenderung mencari figur yang memberi kepastian instan. Kebenaran bisa menyusul belakangan. Atau tidak perlu sama sekali.

Psikologi kelompok menjelaskan lebih lanjut: fanatisme tumbuh subur ketika identitas pribadi larut ke identitas kelompok. Mengkritik tokoh berarti mengancam diri sendiri. Maka koreksi dianggap serangan. Akal sehat diganti loyalitas. Ini yang oleh Hannah Arendt disebut sebagai the banality of unreason—ketidakwarasan yang menjadi biasa karena dilakukan bersama-sama.

Tradisi Islam sendiri sebenarnya sudah lama memberi pagar.
Imam Malik pernah berkata, “Setiap orang ucapannya bisa diterima atau ditolak, kecuali penghuni kubur ini,” sambil menunjuk makam Nabi. Artinya jelas: bahkan ulama besar tidak kebal kritik, apalagi orang yang hanya membawa klaim silsilah tanpa akhlak.

Dalam sejarah Islam, pola ini berulang.
Khawarij, misalnya, terkenal sangat tekstual, merasa paling murni, paling benar, dan paling berhak mengkafirkan yang lain. Mereka rajin ibadah, fasih ayat, tetapi miskin hikmah. Ali bin Abi Thalib menyebut mereka sebagai orang yang “mengucapkan kebenaran, tetapi menghendaki kebatilan.” Masalahnya bukan pada teks, tapi pada jiwa yang belum ajeg.

Ibnu Khaldun, jauh sebelum istilah “psikologi massa” populer, sudah mengingatkan bahwa klaim nasab sering dipakai untuk mengompensasi ketiadaan kualitas nyata. Ketika amal dan akhlak tidak cukup kuat, garis keturunan dinaikkan menjadi ideologi.

Maka saya sampai pada kesimpulan yang tidak heroik tapi jujur:
orang-orang seperti itu mungkin memang belum ajeg. Dan yang lebih tidak ajeg adalah pengikut fanatiknya—bukan karena bodoh, tapi karena terlalu butuh pegangan sampai lupa menimbang.

Nabi hadir membawa ketenangan, bukan kegaduhan.
Menyatukan, bukan memaki.
Membuka akal, bukan menutupnya dengan klaim darah.

Jika hari ini ada figur yang mengaku mewarisi nabi tetapi yang diwariskan justru kemarahan, eksklusi, dan kultus diri, maka yang sedang bekerja bukan kenabian—melainkan krisis identitas yang diberi mikrofon.

Dan mungkin, masalah terbesar kita bukan pada orang-orang itu.
Melainkan pada masyarakat yang, lelah dan bingung, lebih memilih suara paling keras daripada akhlak yang paling tenang.

Ironis, ya.
Di zaman dengan arsip pengetahuan tak terbatas,
kita masih bisa takluk pada silsilah tanpa etika.

Tapi begitulah manusia.
Kadang bukan mencari kebenaran—
melainkan tempat untuk bersembunyi dari kebingungan dirinya sendiri.

You May Also Like

0 komentar