Berangkat Perang, Pulang Nambah Teman, Catatan Antropologi Receh tentang Naluri Ngobrol, Maskulinitas Santai, dan Mengapa Dunia Tidak Selalu Harus Dibunuh

by - 12:00 PM

Sebagai laki-laki, saya curiga ada default setting yang terpasang sejak lahir:

ngobrol sama orang random.

Tidak kenal?
Tidak tahu nama?
Tidak tahu afiliasi politik, agama, atau zodiaknya?

Justru itu syarat sahnya obrolan.

Dengan tukang parkir: bahas panas.
Dengan satpam: bahas jam jaga.
Dengan ibu sapu taman: bahas daun yang jatuh tidak pernah salah pohon.
Dengan pak RT: bahas warga yang pindah tanpa pamit.
Kalau presiden Indonesia papasan dengan saya—ya pasti ada obrolan. Minimal:
“Capek ya, Pak?”

Bukan karena sok akrab.
Alasannya sederhana: saya manusia, dia manusia. Selesai.

Dan rupanya, naluri receh ini punya arsip sejarah yang absurd tapi indah.

Perang dengan Korban Jiwa Minus Satu

Tahun 1866, terjadi Perang Austria–Prusia.
Liechtenstein—negara kecil yang kalau hilang di peta harus dizoom dulu—ikut sebagai sekutu Austria.

Mereka mengirim 80 tentara, hampir seluruh kekuatan militernya.
Tugasnya: menjaga perbatasan Italia.

Masalahnya, musuh tidak datang.
Yang datang justru: udara pegunungan, anggur, waktu luang, dan… obrolan

Para tentara ini nongkrong, menikmati pemandangan, dan—tentu saja—ngobrol.
Sampai akhirnya mereka berteman akrab dengan seorang perwira asing yang kesepian.

Ketika perang selesai, mereka pulang.
Di gerbang kota, komandan menghitung ulang pasukan.

Berangkat: 80 orang
Pulang: 81 orang

Satu orang tambahan ikut pulang karena:
“Kami cocok ngobrol.”

Ini tercatat sebagai satu-satunya perang dalam sejarah dengan korban jiwa -1.
Tidak ada yang mati.
Yang ada: nambah teman.

Kalau ini ditulis di proposal perdamaian PBB, mungkin ditolak karena terlalu tidak serius.

Relasi Absurd yang Terlalu Manusiawi

Contoh Liechtenstein ini bukan anomali.
Dalam hidup sehari-hari, kita sering menemui absurditas serupa: Dua orang yang harusnya ribut karena beda ideologi, malah ngobrol soal motor yang sama-sama mogok. Sopir angkot dan penumpang debat harga cabe, lalu sepakat bahwa cuaca memang brengsek. Orang beda agama, beda mazhab, beda kelas sosial, tiba-tiba akrab karena sama-sama nunggu hujan reda.

Antropolog Victor Turner (1969) menyebut momen-momen ini sebagai communitas:
fase ketika hierarki runtuh, identitas cair, dan manusia bertemu sebagai manusia.

Bukan sebagai jabatan.
Bukan sebagai simbol.
Bukan sebagai ideologi berjalan.

Sebagai makhluk yang sama-sama capek.

Dalam Islam, konsep ini terasa akrab.
Nabi Muhammad dikenal bukan karena menang debat, tapi karena mau duduk dan mendengar.
Bahkan Al-Qur’an berulang kali menyapa manusia dengan nada percakapan, bukan instruksi militer (lihat gaya naratif QS. Al-‘Abasa, Luqman, Yusuf).

Ibnu Khaldun (1377) dalam Muqaddimah menyebut bahwa peradaban tumbuh bukan dari konflik terus-menerus, tapi dari ‘ashabiyyah—ikatan sosial yang sering kali lahir dari interaksi sehari-hari yang remeh.

Ngobrol, singkatnya, adalah infrastruktur peradaban murah.

Kritik Halus: Dunia Terlalu Cepat Menyulut Api

Masalah manusia modern bukan kekurangan data, tapi kelebihan ketegangan.
Kita hidup di era di mana: beda pendapat dianggap ancaman, ngobrol dianggap debat, diam dianggap kalah

Padahal, tidak semua pertemuan harus dimenangkan.
Sebagian cukup dijalani.

Liechtenstein tidak menang perang.
Tapi mereka menang cerita.

Dan itu bertahan lebih lama dari peta kekuasaan.

Saran Receh tapi Serius

Kurangi niat membuktikan, perbanyak niat memahami.Kalau ketemu orang asing, jangan buru-buru klasifikasi. Coba ajak ngobrol dulu. Tidak semua konflik butuh solusi. Sebagian cuma butuh kopi dan waktu.

Karena siapa tahu,
kita datang ke suatu medan dengan niat bertahan,
tapi pulang membawa teman tambahan.

Dan dalam dunia yang gemar menghitung korban,
itu kemenangan yang jarang dilaporkan—
tapi paling manusiawi.


You May Also Like

0 komentar