Biaya Ibadah Tidak Semahal Tek-Tek Bengeknya, Catatan Receh Antropologi Budaya Berbalut Pahala

by - 12:00 PM

Secara fikih, hidup ini sebenarnya murah.

Ibadah pun demikian.

Ambil contoh paling sederhana: nikah.
Rukunnya cuma lima—mempelai pria, mempelai wanita, wali, dua saksi, ijab kabul.
Kalau dikonversi ke rupiah:
mahar seperlunya, saksi bisa pakai om dan tetangga, wali sudah tersedia dari lahir, ijab kabul gratis—asal lancar.

Total?
Mungkin belum tentu tembus satu juta.

Tapi lalu manusia datang membawa kreativitas.

Mulai dari prewedding yang niatnya “mengabadikan momen”, berakhir jadi sesi foto ala kerajaan Inggris atau drama Korea episode 16.
Tema dipikirkan berminggu-minggu: rustic, garden, adat modern, adat modern tapi rustic, rustic tapi industrial—dan semuanya tentu tidak gratis.

Undangan pun naik level.
Dari selebaran ala rapat RT, berubah jadi amplop tebal dengan emboss emas, font Arab-Persia-Jawa-Sanskerta, plus QR code Google Maps.
Belum lagi souvenir: gelas, sendok, tanaman kecil yang mati tiga hari kemudian, atau kipas bertuliskan nama pengantin yang fungsinya hanya bertahan sampai parkiran.

Lalu panggung, katering, MC, sound system, dokumentasi drone, ritual injak telur, sawer uang, dan kadang—kalau nasib kurang baik—dangdut jam dua siang.

Padahal, secara teologis, semua itu tidak memengaruhi sah atau tidaknya akad.

Dalam istilah antropologi, ini disebut ritualisasi sosial:
ibadah inti dibungkus simbol budaya agar terasa “lengkap” (Victor Turner, 1969).


Haji: Ibadah Sah, Oleh-Oleh Wajib Sosial

Ibadah paling mahal secara resmi memang rukun Islam kelima.
Haji.

Biaya besar, antre panjang, logistik ribet.
Belum lagi “biaya tak tertulis” yang hanya dipahami orang-orang berpengalaman.

Paspor, vaksin, koper, sandal anti hilang, dan—kalau mau cepat—biaya percepatan.
Tahun 2022, tambahan 25 juta demi satu hal yang paling manusiawi: ibu ingin berangkat sebelum umur makin tua.

Semua sepakat.
Ini bukan soal gengsi. Ini soal waktu.

Namun selesai haji, cerita belum selesai.
Karena masyarakat punya satu ekspektasi sunyi tapi keras: oleh-oleh.

Kurma, kacang Arab, kismis, sajadah, tasbih, minyak wangi, mukena, sorban.
Tidak wajib secara agama, tapi aneh secara sosial jika tidak ada.

Biasanya dibungkus paket:
“Paket Haji A: 25 ribu.”
Kelihatannya murah—sampai dikali 300 atau 500 paket.

Ironinya, oleh-oleh itu sering tidak dibeli di Arab.
Bukan karena lupa, tapi karena logistik tidak masuk akal.
Akhirnya: Tanah Abang, Jakarta Pusat—menjadi cabang tak resmi dari Mekkah dan Madinah.

Dalam sosiologi agama, ini disebut commodification of religion—agama hadir bukan hanya sebagai iman, tapi juga sebagai barang, simbol, dan kewajiban sosial (Peter Berger, 1967; Bryan Turner, 2011).


Absurd yang Wajar

Semua ini sebenarnya tidak salah.
Ini bukan sindiran ke iman, tapi ke cara manusia menenangkan relasi sosialnya.

Tanpa prewedding, orang takut dibilang tidak niat.
Tanpa souvenir, takut dianggap pelit.
Tanpa oleh-oleh haji, takut dianggap “kok pulang kosong”.

Seperti makan bakso:
secara nutrisi cukup dengan mie dan kuah.
Tapi tanpa sambal, saus, kecap, dan cuka—rasanya kurang sah secara budaya.

Imam al-Ghazali sudah lama mengingatkan bahwa niat adalah ruh ibadah, sementara bentuk lahir sering mengikuti adat (Ihya’ Ulumuddin).
Ibn Khaldun pun mencatat bahwa ritual berkembang mengikuti struktur sosial masyarakatnya (Muqaddimah, abad ke-14).

Masalahnya muncul ketika bungkus lebih mahal dari isinya.
Ketika orang berutang demi pesta, tapi ijab kabulnya grogi.
Ketika haji jadi simbol status, bukan latihan kerendahan hati.


Kritik Halus, Saran Santun

Mungkin kita tidak perlu menghapus budaya.
Manusia memang makhluk simbolik.

Tapi ada baiknya sesekali bertanya:

  • Mana yang ibadah, mana yang dekorasi?
  • Mana yang kebutuhan ruh, mana yang kebutuhan tetangga?
  • Mana yang sunnah, mana yang sekadar tak enak kalau tidak ada?

Kalau jawabannya jujur, biasanya dompet ikut lega.


Penutup

Ibadah itu murah.
Yang mahal sering kali adalah tek-tek bengek sosialnya.

Dan itu tidak apa-apa—selama kita sadar:
yang sampai ke langit adalah niat,
bukan souvenir.

You May Also Like

0 komentar