Dukun, Bengkel Las, dan Dua Jalan Menuju Rezeki yang Sama
(Catatan Antropologi Receh tentang Logika, Ritual, dan Dukun yang Pindah Rumah ke Kepala Manusia)
Saya punya dua role model. Bukan filsuf Yunani, bukan ustaz viral, bukan motivator ber-blazer.
Dua abang saya sendiri.
Keduanya sama-sama punya bengkel las.
Sama-sama ngelas besi.
Sama-sama hidup dari api, elektroda, dan suara cessss yang bikin telinga berdenging.
Tapi cara mereka memaknai hidup—nah, itu beda.
Abang kedua saya adalah manusia koran Lampu Merah.
Ia tidak percaya teluh. Tidak percaya kiriman. Tidak percaya jurig bengkel.
Kalau sepi, ia tidak bertanya: “Siapa yang ngirim?”
Ia bertanya: “Orderan dari mana lagi yang bisa saya kejar?”
Sepi?
Dia jalan.
Cari relasi.
Dapat PT rekanan.
Selesai.
Tidak ada doa khusus di mesin las.
Tidak ada jampi di kartu nama.
Yang ada hanya: kerja, jaringan, dan sedikit ngeluh sambil ngopi.
Abang ketiga saya juga punya bengkel las.
Tapi dunianya lebih ramai.
Setiap kejadian di bengkel punya lapisan metafisik.
Kartu nama dikasih jampi.
Ada guru spiritual.
Kalau sepi, bukan cuma mikir pasar—tapi juga mikir energi.
Lalu ia adakan tahlilan di bengkel.
Dan lucunya:
setelah itu, bengkel jalan lagi.
Apakah karena tahlilan?
Kalau kita jujur, jawabannya lebih membumi:
- ia jadi lebih pede,
- lebih tenang,
- lebih rajin cari orderan,
- lebih berani ketemu orang.
Ritualnya tidak menggantikan usaha, tapi menyalakan ulang mesin batin.
Dan di situlah epifani saya lahir.
Saya tidak memilih salah satu.
Saya menggabungkan keduanya.
Saya belajar dari abang kedua:
Logika tidak perlu minta izin ke dunia gaib untuk bekerja.
Saya juga belajar dari abang ketiga:
Ritual bisa berguna, asal tidak memecat akal sehat.
Di Sini Dukun Sebenarnya Bekerja
Banyak orang mengira dukun itu selalu orang luar.
Padahal yang paling sering bekerja adalah dukun mental di dalam kepala kita sendiri.
Dalam psikologi, ini dekat dengan konsep placebo dan meaning response (Moerman, 2002):
bukan karena zatnya, tapi karena maknanya.
Ritual memberi:
- rasa kendali,
- rasa aman,
- rasa “saya tidak sendirian”.
Masalah muncul ketika:
- ritual menggantikan ikhtiar,
- metafisik dipakai untuk menghindari tanggung jawab,
- dan kegagalan selalu dialihkan ke: “jurignya kuat.”
Di antropologi, ini disebut self-sealing belief system (Douglas, 1970):
sistem keyakinan yang tidak pernah bisa salah.
Berhasil → “bukti benar.”
Gagal → “justru bukti musuhnya lebih kuat.”
Solusi? Tambah mahar.
Maka dukun bukan lagi penolong, tapi model bisnis berlangganan.
Versi Saya: Religius Tanpa Kehilangan Setrum Otak
Saya memilih jalan tengah yang sering disangka abu-abu, padahal ini justru paling manusiawi.
- Saya sholat, tapi tidak menunggu mukjizat untuk bekerja.
- Saya berdoa, tapi tetap cek spreadsheet.
- Saya percaya Tuhan Maha Kaya, tapi tidak menjadikan-Nya kasir darurat.
Kalau usaha sepi:
- saya evaluasi strategi,
- saya turunkan ego,
- saya cari celah baru.
Kalau hati capek:
- saya berdoa,
- saya diam,
- saya atur ulang napas.
Bukan karena saya tidak percaya yang gaib,
tapi karena saya tidak mau hidup dikendalikan oleh ketakutan metafisik.
Penutup: Bengkel, Dukun, dan Kesimpulan yang Tidak Mistis
Pada akhirnya, bengkel las tetap butuh:
- listrik,
- besi,
- pelanggan.
Doa bisa menenangkan tangan.
Logika memastikan tangan itu tahu harus bekerja ke mana.
Dan mungkin, seperti abang-abang saya, hidup memang tidak perlu dipertentangkan:
- antara koran Lampu Merah dan tahlilan,
- antara rasional dan religius,
- antara usaha dan doa.
Yang bahaya bukan dukun di luar.
Yang bahaya adalah ketika kita menyewakan akal sehat kita ke siapa pun—manusia atau metafisik.
Saya memilih tetap ngelas.
Sambil berdoa.
Dengan helm las terpasang.
0 komentar