Sekuler Tapi Sholat: Catatan Seorang Lulusan Pesantren yang Tidak Takut Neraka karena Berpikir

by - 12:00 PM

Saya sering terlihat kurang Islami.

Padahal saya lulusan pesantren.

Ironisnya, justru karena pesantren itu, saya jadi begini.

Saya sholat.
Saya dhuha.
Saya tidak minum miras.
Saya tidak merasa perlu mengumumkan iman saya.

Dan ya, saya sekuler.
Kalau kata itu terdengar seperti makian, ya silakan—saya sudah berdamai duluan.


Ketika Kata “Sekuler” Terasa Lebih Menyeramkan daripada Neraka

Dulu saya takut sekali pada kata sekularisme.
Bukan karena paham isinya, tapi karena atmosfernya.

Sekuler = jauh dari Tuhan.
Jauh dari Tuhan = neraka.
Selesai.

Tidak ada ruang diskusi. Tidak ada definisi. Tidak ada konteks.

Padahal setelah dewasa, saya baru paham:
yang sering ditakuti itu bukan sekularisme, tapi hilangnya kontrol atas tafsir.

Sekularisme, dalam praktik hidup saya, cuma berarti ini:

uang ya uang, ibadah ya ibadah, etika ya etika.

Tidak dicampur jadi satu adonan mistik yang semua hal harus diberi stempel langit.


Saya Memberi, Tapi Tidak Atas Nama Tuhan

Saya memberi air mineral ke ibu tukang sapu karena saya punya air.
Bukan karena saya ingin pahala.
Bukan juga karena ingin jadi manusia baik.

Saya memberi ke abang gojek yang kepanasan karena:

  • dia kerja,
  • saya pakai jasanya,
  • tubuhnya capek.

Selesai.

Saya tidak memberi ke orang yang keliling membawa proposal atas nama yatim.
Bukan karena saya sinis.
Tapi karena saya tidak mau memberi kepada yang mengatasnamakan.

Kalau saya mau menyantuni, saya datang langsung ke yayasan.
Dan itu sering.

Di mata sebagian orang, ini kontradiktif.
Di kepala saya, ini konsisten.

Karena saya ingin menolong manusia, bukan merawat simbol.


Sekuler Itu Bukan Anti-Tuhan, Tapi Anti Pengaburan

Saya tidak merasa jauh dari Tuhan hanya karena:

  • saya menghitung dulu sebelum pasrah,
  • saya menyebut sebab sebelum menyebut doa,
  • saya memperbaiki ikhtiar sebelum menyalahkan takdir.

Kalau ada masalah, saya cek:

  • apa yang sudah saya lakukan,
  • apa yang belum saya lakukan,
  • apa yang bisa diperbaiki.

Kalau mentok, baru saya diam.
Dan diam itu, entah kenapa, sering lebih dekat ke Tuhan daripada teriak-teriak.


Luka Kecil yang Membuat Saya “Sekuler”

Ada satu momen receh yang mengubah arah batin saya.

Saya juara satu.
Saya belajar keras.
Saya begadang.
Saya baca buku sampai pusing.

Lalu yang terdengar: “Itu dari Allah.”

Saya diam.
Bukan karena tidak setuju.
Tapi karena merasa usaha saya menguap begitu saja.

Sejak saat itu, ada yang bergeser:

  • saya tetap percaya Allah,
  • tapi saya juga ingin mengakui kerja manusia.

Bukan menyaingi Tuhan.
Tapi menghormati proses.

Dan mungkin, justru di situ iman saya jadi lebih jujur.


Penutup: Saya Sekuler, dan Saya Baik-Baik Saja

Saya tidak ingin terlihat saleh.
Saya tidak ingin tampak jauh dari Tuhan juga.

Saya hanya ingin hidup rasional dulu,
agar ketika menyebut Tuhan,
saya tidak sedang lari dari tanggung jawab.

Kalau itu disebut sekuler, ya sudah.

Toh saya masih sholat.
Masih tahu batas.
Masih bisa menunduk.

Dan yang paling penting:
saya tidak perlu mengecilkan usaha manusia
demi membesarkan nama Tuhan.

Karena kalau Tuhan Maha Besar,
Dia tidak butuh kita mengecilkan diri sendiri.

You May Also Like

0 komentar