Menjaga Ruang Operasi, Dijaga Percakapan, Catatan Receh tentang Satpam, Kepala Tegak, dan Cara Paling Murah Menjadi Manusia
Saya menunggu tiga jam di rumah sakit.
Pasca sesar.
Anak sudah selesai saya adzan dan iqomatkan di ruang perawatan bayi.
Istri dijahit ini-itu.
Saya bosan.
Bosan level steril: kursi empuk, AC dingin, lantai kinclong, aroma disinfektan.
Bukan bosan karena susah—justru bosan karena terlalu rapi.
Di depan ruang operasi ada satpam.
Diam. Tegak. Tatapan kosong khas orang jaga lama.
Saya ajak ngobrol.
Umur 22 tahun.
Asal Palembang.
Sendirian di Tangerang.
Kost 600 ribu.
Tidak ada sanak saudara.
Dan seperti kebanyakan manusia yang akhirnya diajak ngobrol,
dia curhat.
Katanya,
“Pak, jarang banget ada keluarga pasien yang ngajak ngobrol saya.”
Saya ketawa renyah.
Bukan mengejek.
Lebih ke: “Oh, ini toh pola sosial kita.”
Dia cerita, tamu-tamu datang ke rumah sakit dengan kepala tegak.
Bukan tegak karena percaya diri—
tapi tegak karena merasa lebih tinggi secara tak kasat mata.
Satpam jadi properti.
Bukan manusia.
Padahal dia berdiri di sana berjam-jam,
menjaga pintu tempat orang-orang menaruh nyawa dan harapan.
Saya bilang ke dia sambil bercanda:
“Saya juga anak petani, Mas. Kebetulan aja bisa bayar RS sekian puluh juta. Sekitaran 40 Juta"
Lalu saya tambah,
“Tapi kan bukan berarti harus menengadah langit terus.”
Kami ketawa.
Bosan mati.
Diganti obrolan hidup.
Kepala Tegak dan Hierarki Tak Terlihat
Antropolog Pierre Bourdieu (1984) menyebut ini sebagai symbolic power:
kekuasaan yang bekerja tanpa dipukul, tanpa diteriakkan, tanpa disadari.
Rumah sakit mahal.
Seragam rapi.
Uang, jabatan, status pasien.
Semua itu membentuk ilusi:
“Saya lebih penting dari kamu.”
Padahal secara biologis,
kita sama-sama menunggu:
waktu, kabar, dan kadang mukjizat.
Dalam Islam, ini sederhana tapi sering dilupakan.
Manusia diciptakan setara,
yang membedakan hanya taqwa—
dan taqwa tidak bisa dideteksi dari merek tas, kelas kamar, atau cara menunduk ke lantai marmer.
Nabi tidak duduk lebih tinggi dari sahabatnya.
Umar bin Khattab bisa disangka budak karena bajunya tambalan.
Ali bin Abi Thalib dikenal karena ilmunya, bukan karena siapa yang dia suruh berdiri.
Tapi kita, di lorong RS,
kadang kalah oleh kepala yang terlalu tegak.
Percakapan sebagai Etika Dasar
Psikolog Carl Rogers (1957) menyebut unconditional positive regard:
menghadapi orang lain sebagai manusia utuh,
bukan fungsi, bukan jabatan, bukan alat.
Ngobrol receh dengan satpam
bukan kebaikan luar biasa.
Itu etika dasar yang sering hilang karena status sosial terlalu ribut.
Ironisnya,
biaya percakapan ini gratis.
Tidak perlu BPJS.
Tidak perlu asuransi tambahan.
Dan efeknya besar: bosan mati, hierarki melunak, manusia diingatkan bahwa ia terlihat
Kritik Halus (Tapi Ngena)
Mungkin masalah kita bukan kurang empati,
tapi terlalu sibuk mempertahankan posisi.
Terlalu takut dianggap “turun kelas” hanya karena menyapa.
Padahal,
tidak ada manusia yang jatuh martabatnya karena ngobrol.
Justru sebaliknya.
Catatan Penutup
Saya pulang dari rumah sakit
bukan cuma membawa bayi,
tapi juga satu arsip kecil:
Bahwa di tempat paling mahal dan paling steril sekalipun,
kemanusiaan sering hadir bukan lewat fasilitas,
melainkan lewat percakapan sederhana.
Dan kadang,
cara paling murah untuk tetap waras adalah
tidak menengadah langit terus—
cukup menoleh ke samping,
dan bilang:
“Capek ya, Mas?”
0 komentar