Ketika Tuhan Kalah Argumen, Lalu Screenshot Doxing yang Bicara

by - 12:00 AM

(Catatan Receh tentang Doxing, Ketuhanan, dan Katup Emosi yang Jebol)

Ada satu momen yang selalu lucu—dan sedikit menyedihkan—di media sosial:
saat argumen kalah, lalu data pribadi jadi senjata.

Awalnya serius.
Bahas Tuhan.
Metafisika.
Eksistensi.
Animisme, dinamisme, monoteisme, politeisme, sampai “Tuhan pasif”, “Tuhan inaktif”, bahkan “Tuhan mati”.

Semua sah. Semua pernah dibahas manusia sejak masih pakai kulit kayu sebagai pakaian.

Argumennya pun, jujur saja, tidak bodoh“Tuhan tidak berwujud, maka Tuhan tidak ada.”

Secara logika positivistik—Comte (1853) atau tradisi empirisme klasik—itu masuk akal.
Yang tak terindera, tak terukur, dianggap tak eksis.

Saya pribadi tidak alergi dengan argumen itu.
Bahkan saya bisa bilang: ya, benar.

Tuhan memang tidak berwujud.
Tidak bisa difoto.
Tidak bisa di-CT Scan.
Tidak bisa dipanggil lewat Zoom.

Tapi di situ juga batasnya.

Karena sejak lama—Durkheim (1912) sudah mengingatkan—Tuhan dalam masyarakat bukan sekadar entitas metafisik, melainkan pegangan batin kolektif.
Ia bekerja bukan di ranah fisika, tapi di ranah makna.
Bukan untuk diuji di laboratorium, tapi untuk menopang hidup sehari-hari.

Tuhan itu, bagi banyak orang, bukan soal ada-tidaknya, tapi soal berguna atau tidaknya.

Dan di sinilah drama dimulai.

Ketika argumen metafisik itu diserang balik—bukan dengan makian, tapi dengan pertanyaan yang tenang—si penulis mulai goyah.
Bukan karena salah, tapi karena kehabisan bensin narasi.

Lalu terjadilah ritual sakral dunia digital:

🔔 Buka profil lawan
🔔 Scroll kehidupan pribadinya
🔔 Screenshot
🔔 Posting ulang dengan caption moralistik

“Manusia model begini kok bicara soal agama dan ketuhanan.”

Dan saya terdiam sebentar.
Lalu tertawa.

Lho?
Kita tadi bahas Tuhan, kok sekarang bahas foto profil, kerjaan, gaya hidup, dan jejak digital?

Ini bukan debat lagi.
Ini katarsis internal.

Dalam psikologi, ini klasik.
Freud (1905) menyebutnya sebagai displacement: emosi yang tak tertampung dialihkan ke sasaran lain.
Dalam istilah medsos: kalah argumen → emosi bocor → doxing.

Bourdieu (1984) akan menyebutnya sebagai kekerasan simbolik:
ketika tak mampu menang di ranah ide, maka status sosial, moral, dan identitas personal dijadikan alat pemukul.

Masalahnya, ini juga mengandung ironi besar.

Jika Tuhan memang tidak ada,
jika metafisika dianggap ilusi,
jika rasionalitas diagungkan—

mengapa justru emosi yang mengambil alih?

Mengapa argumen berhenti, lalu diganti penilaian moral personal?

Di titik ini, Tuhan bukan lagi topik.
Tuhan hanya pemantik ego.

Saya kira ini akan jadi duel akademik.
Saya bayangkan kutipan Nietzsche (1882), Feuerbach (1841), Ibn Sina, Al-Ghazali, atau bahkan Spinoza.
Saya siap popcorn.

Ternyata tidak.

Cuma segini?

Screenshot.
Judgment.
Cancel culture mini.

Dalam antropologi digital, ini bisa dibaca sebagai ritual pertahanan identitas.
Ketika identitas intelektual terancam, manusia mundur ke identitas sosial yang paling mudah:
“gue lebih bermoral dari lo.”

Padahal—dan ini lucunya—
agama sendiri tidak pernah mensyaratkan penganutnya tampak suci di feed.

Dalam Islam misalnya, niat itu batin.
Iman itu fluktuatif.
Bahkan orang fasik pun masih punya hak bicara soal Tuhan—karena Tuhan bukan properti moral kelas menengah religius.

Al-Ghazali pernah menulis (Ihya’ Ulumuddin):
bahwa ilmu tanpa adab itu berbahaya,
tapi adab tanpa ilmu juga bisa menipu.

Media sosial memperparah ini.
Ia memberi ilusi bahwa menang debat = menang eksistensi.
Padahal sering kali yang terjadi hanya:
menang emosi.

Dan di titik ini, saya jadi paham:
doxing bukan soal keadilan,
tapi soal menutup rasa kalah tanpa harus mengaku kalah.

Saran saya sederhana—dan ini bukan nasihat suci:

Kalau kehabisan argumen,
diam itu lebih elegan daripada screenshot.

Kalau Tuhan memang tidak ada,
biarkan ide itu berdiri sendiri.
Tidak perlu ditopang oleh aib orang lain.

Karena begitu argumen diganti serangan personal,
yang mati bukan Tuhan—
tapi diskusi.

Dan jujur saja,
saya berharap lebih.

Bukan karena saya membela Tuhan.
Tuhan tidak butuh pembelaan.

Saya cuma kecewa:
kok segitu aja, pak?

You May Also Like

0 komentar