Kilatan Cahaya di Lorong RS: Dari Dopamin, Deadline, sampai Wahdatul Wujud (Versi Receh)
Ada fase dalam hidup manusia ketika otak seperti lampu TL tua:
klik—kedip—nyala—mati—nyala lagi.
Sebagian orang menyebutnya ilham.
Sebagian lagi menyebutnya hidayah.
Sebagian yang lain—lebih jujur—menyebutnya “wah kok gue jadi produktif ya?”
Saya menyebutnya:
kilatan cahaya receh.
Kilatan itu muncul bukan di gua, bukan di puncak gunung, bukan saat khalwat.
Kilatan itu muncul di rumah sakit, dua hari setelah anak ketiga lahir, sambil nunggu jahitan ini-itu, ditemani suara troli, bau antiseptik, dan satpam yang juga bosan hidup.
Dan ajaibnya, dari kilatan itu: lahir artikel tentang lorong duct AC, refleksi tentang nama dokter keren tapi susternya Neni, catatan tentang sterilisasi 12 juta & tidak masuk tagihan, sampai jadwal tulisan empat artikel per hari, diset sampai belasan bulan ke depan.
Kalau mau kurang ajar sedikit, ini bisa dijual sebagai: “Saya mengalami pencerahan batin.”
Tapi kalau mau jujur: ini cuma otak yang menemukan pola saat semua distraksi dipaksa diam.
Kilatan Cahaya Itu Bukan Tuhan, Itu Sistem Saraf
Dalam psikologi kognitif, kondisi ini mirip dengan: flow state (Csikszentmihalyi, 1990), lonjakan dopamin karena meaningful engagement, dan sedikit euforia pasca-kejadian emosional besar (kelahiran anak, stres finansial, lega, syukur).
Dalam bahasa warung: “Otak lagi klik.”
Masalahnya, manusia jarang puas dengan jawaban sederhana.
Karena otak tidak hanya ingin bekerja—otak ingin merasa penting.
Dari Kilatan Cahaya ke Wahdatul Wujud: Jalan Pintas yang Menggoda
Tahap-tahapnya biasanya begini:
-
Kilatan
→ ide ngalir, tulisan deras, hidup terasa masuk akal. -
Kagum
→ “Kok bisa ya?” -
Narasi Spiritual
→ “Jangan-jangan ini bukan saya…” -
Klaim Kosmik
→ “Saya sedang menyatu.” -
Bahaya Ringan
→ mulai meremehkan orang lain yang tidak ‘mengalami’.
Di titik ini, lahirlah: dzikir geleng-geleng sampai pusing lalu disebut bertemu Tuhan, kerja keras disebut “Allah yang menggerakkan” tanpa mengakui usaha, produktivitas diklaim wahyu, dan yang paling klasik: wahdatul wujud tanpa mules terlebih dulu.
Padahal, kamu sendiri sudah jujur: “Saya hampir menertawakan wahdatul wujud karena lapar dan mules.”
Dan itu justru sangat sehat.
Manusia Bertahan Hidup dengan Cerita, Bukan dengan Kebenaran Murni
Antropologi budaya melihat ini sederhana: manusia butuh cerita agar tetap waras.
Ada yang: cerita Tuhan menyatu dengannya, ada yang cerita dagangannya bangkit karena tahlilan, ada yang cerita order datang karena kartu nama dijampi, ada yang cerita hidup masuk akal setelah ditertawakan, ada yang cerita ke AI jam 2 pagi.
Semua sah, selama tidak dijadikan palu untuk memukul kepala orang lain.
Penutup: Kilatan Cahaya Tidak Perlu Disakralkan, Cukup Dipakai
Kilatan cahaya itu: bukan bukti kesucian, bukan tanda derajat, bukan tiket ceramah.
Kilatan itu alat kerja.
Dipakai buat: menulis, berdagang, berpikir jernih, menghidupi anak, dan—kalau perlu—menertawakan diri sendiri.
Kalau setelah itu orang mau menyebutnya ilham, silakan.
Kalau mau menyebutnya hormon, juga silakan.
Kalau mau menyebutnya wahdatul wujud, tolong makan dulu.
Karena sering kali,
yang menyelamatkan manusia bukan penyatuan kosmik,
tapi kemampuan menertawakan kilatan cahaya sebelum kilatan itu mengklaim Tuhan.
0 komentar