Ketika Morfin Lebih Jujur daripada Stempel Halal di Kulkas
Dunia kesehatan dan kedokteran itu tidak sedang sibuk mencari dalil halal-haram. Ia lebih sibuk dengan pertanyaan yang jauh lebih sederhana, tapi dampaknya jauh lebih nyata: ini obat bikin pasien hidup, atau bikin pasien tambah sengsara?
Di ruang operasi sesar, saat perawat dan dokter sedang sibuk menjahit lapis demi lapis perut istri saya, tubuh manusia diperlakukan bukan sebagai simbol, tapi sebagai sistem biologis yang sedang bocor, nyeri, dan butuh ditenangkan. Lalu datanglah suntikan itu. Entah apa namanya. Istri saya cerita setelahnya, dunia mendadak ringan, seperti naik roller coaster yang tidak serem tapi bikin melayang. Kepala kosong. Tubuh seperti kapas.
Saya dengar sambil mengangguk. Di kepala saya lewat kemungkinan: morfin, tramadol, atau saudara sepupunya. Golongan opioid. Obat keras. Zat yang kalau dibahas di grup WhatsApp tertentu bisa berubah jadi bahan ceramah satu jam.
Kalau saya sedang ingin jadi muslim garis keras yang hobi inspeksi moral, mungkin saya sudah berdiri di lorong operasi sambil menunjuk perawat:
“Sus, ini narkotika kan? Memabukkan kan? Segala yang memabukkan haram. Haram itu temannya setan. Setan tempatnya di neraka.”
Tapi saya tidak melakukan itu. Bukan karena saya liberal. Bukan karena saya sekuler. Tapi karena saya tidak bodoh secara fiqh.
Islam tidak naif. Islam tidak hidup di awang-awang. Islam sejak awal sadar betul bahwa manusia punya tubuh, bukan hanya iman. Ada rasa sakit yang kalau tidak diredam, bisa bikin orang trauma, kejang, atau malah mati. Karena itu, fiqh tidak berdiri dengan satu kaki. Ia selalu membawa illat, maqasid, dan konteks.
Dalam keadaan darurat, yang haram bisa menjadi boleh. Bukan karena haramnya menguap, tapi karena menjaga nyawa lebih tinggi derajatnya daripada menjaga simbol. Bahkan kitab-kitab fiqh klasik menyebut dengan gamblang: makan babi itu boleh, kalau satu-satunya cara bertahan hidup. Tidak ada ustaz waras yang akan bilang, “Lebih baik mati suci daripada hidup tapi makan babi.” Itu bukan takwa, itu bunuh diri dengan bahasa Arab.
Nikah pun bisa haram. Sunnah nabi, iya. Tapi kalau niatnya menzalimi, menipu, atau memuaskan ego, ia berubah status tanpa minta izin siapa pun. Dagang juga begitu. Jualan itu halal, tapi saat menipu timbangan, memalsukan kualitas, atau memeras ketidaktahuan orang, dosa masuk lewat pintu belakang.
Islam itu simpel, tapi tidak dangkal. Ia penuh rambu, tapi bukan jebakan. Ia memberi batas, tapi juga memberi jalan keluar.
Yang sering ribut itu bukan Islamnya. Tapi manusia yang ingin hidup sederhana secara mental: hitam-putih, halal-haram versi stiker.
Makanya saya selalu geli saat melihat kulkas, kompor, bahkan rice cooker diberi stempel halal. Seakan-akan iman bisa bocor lewat freezer dua pintu. Saya ingin bertanya dengan tulus tapi berbahaya:
“Pak, bu… obat batuk yang diminum tiap malam itu ada logo halalnya nggak?”
Biasanya percakapan berhenti di situ. Karena kesehatan tidak bisa diselesaikan dengan slogan. Ia butuh ilmu, dosis, dan tanggung jawab. Dalam dunia medis, tidak ada obat suci. Yang ada hanyalah obat yang manfaatnya lebih besar daripada efek sampingnya. Prinsip ini sejalan dengan kaidah fiqh: dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalbil mashalih—mencegah kerusakan lebih utama daripada mengejar manfaat simbolik.
Para ulama besar seperti Al-Ghazali sudah sejak lama bicara soal maqasid syariah: menjaga jiwa, akal, harta, keturunan, dan agama. Urutannya jelas. Jiwa dan akal tidak boleh dikorbankan demi kosmetik moral. Dalam kajian kontemporer, pemikir seperti Jasser Auda (2008) menekankan bahwa syariah bukan kumpulan larangan statis, tapi sistem etika dinamis yang membaca konteks.
Ilmu kesehatan modern pun sejalan. WHO dan literatur kedokteran berbicara tentang benefit-risk assessment. Tidak ada tindakan medis tanpa risiko. Yang dinilai adalah apakah risiko itu masuk akal demi keselamatan pasien. Morfin bukan dosa. Morfin adalah alat. Yang berdosa itu menyalahgunakannya.
Di titik ini, saya merasa Islam justru lebih dewasa daripada sebagian umatnya. Islam tidak rewel. Manusia yang sering ribet. Islam tidak panik melihat jarum suntik. Manusia yang suka panik melihat istilah Latin.
Maka ketika istri saya melayang sebentar di meja operasi, saya tidak merasa iman kami bocor. Saya justru merasa bersyukur. Rasa sakitnya direduksi. Tubuhnya dilindungi. Bayi kami lahir dengan aman. Itu sudah ibadah panjang tanpa perlu stempel apa pun.
Dan kalau ada yang masih gelisah karena kulkas belum halal, mungkin yang perlu didinginkan bukan isinya, tapi kepalanya.
0 komentar