Epilog: Halu yang Bertanggung Jawab, atau Cara Berdamai dengan Ketidak-Konsistenan Tanpa Masuk Sekte
Di dapur, air belum mendidih.
Di kamar, bayi usia tiga hari sedang mengingatkan bahwa hidup itu konkret, hangat, dan bau susu.
Di kepala saya, kosmos kecil sedang jungkir balik: malaikat pencatat, jurig ujung kuku, duct AC, dan satu lele terbang yang entah kenapa ikut nimbrung.
Inilah momen sakral: transisi antar mode kesadaran.
Dari filsuf ke tukang mandiin bayi.
Dari perenungan eksistensial ke handuk kecil dan air hangat.
Kalau ini film, genrenya jelas: slapstick kosmis.
Tentang Ketidak-Konsistenan yang Disangka Penyakit
Banyak orang ingin konsisten seperti:
- poster motivasi
- bio LinkedIn
- atau akun dakwah yang tidak pernah typo
Padahal manusia itu bukan garis lurus.
Manusia itu GIF rusak yang diulang-ulang.
Pagi bisa rasional.
Siang bisa random.
Sore bisa gila.
Malam bisa religius.
Besoknya nyerang iman.
Lusa ingin tobat total.
Tiga hari kemudian: “eh tapi tunggu dulu…”
Dan anehnya, semua itu sah — selama kita sadar sedang berpindah mode, bukan kerasukan satu mode lalu mengklaim itu kehendak semesta.
Halu yang Tidak Mengaku Wahyu
“Halu yang bertanggung jawab” itu sederhana:
- ia tahu dirinya metafora
- ia tidak minta orang lain ikut percaya
- ia tidak menuntut loyalitas
- apalagi suruh orang mati demi narasi
Halu saya:
- jurig di ujung kuku → supaya mau kerja kotor
- jurig direlokasi → supaya tahu otoritas juga bisa sotoy
- duct AC → supaya sadar: tidak semua yang berisik itu suara Tuhan
- lele terbang → supaya otak ingat: jangan sok serius, dunia ini absurd
Ini bukan penyangkalan realitas.
Ini pelumas realitas, biar gesekannya tidak membakar kepala.
Mengapa Humor Itu Musuh Kekuasaan Absolut
Karena humor:
- membocorkan aura sakral palsu
- menggeser jarak dari “saya benar mutlak” ke “eh kok lucu ya”
- membuat malaikat pencatat ikut mikir: “ini dicatat apa ditertawakan ya?”
Kekuasaan absolut ingin konsistensi kaku.
Humor memperkenalkan retakan kecil.
Dan dari retakan itu, manusia bernapas.
Makanya:
- tertawa dibilang mengeraskan hati
- bertanya dibilang kurang iman
- arsip lama disuruh hapus
Karena arsip itu saksi: manusia itu proses, bukan patung.
Rakib, Atid, dan Folder Bernama “Fase”
Kalau benar ada Rakib dan Atid, saya membayangkan mereka bukan satpam galak, tapi arsiparis kosmik.
Mereka tidak hanya mencatat dosa dan pahala,
tapi juga folder-folder kecil:
- fase bingung
- fase sok pinter
- fase ketawa berlebihan
- fase nyari Tuhan sambil ngedumel
Dan mungkin, di yaumul hisab, saya tinggal bilang:
“Yang Mulia, ini bukan pembelaan.
Ini changelog.”
Penutup (Air Sudah Matang)
Air akhirnya mendidih.
Bayi harus dimandikan.
Kosmos mengecil jadi bak mandi plastik.
Dan di situ saya sadar:
berdamai dengan ketidak-konsistenan bukan berarti menyerah pada kekacauan,
tapi mengakui ritme, sambil tetap bertanggung jawab pada yang nyata.
Halu boleh.
Tertawa perlu.
Ibadah jalan.
Popok diganti.
Semesta tidak minta kita konsisten.
Ia hanya minta kita hadir, tanpa pura-pura selesai.
Sekarang izin,
saya pamit dari kosmos sebentar.
Ada bayi kecil yang belum peduli filsafat,
tapi sedang mengajari saya makna paling konkret dari eksistensi. 😅
0 komentar